Masih tentang urusan membersihkan diri. Karena 2 hari terakhir ini masih terus melekat pada pikiran saya, maka saya masih terus berusaha menggali. Kebetulan saya menemukan sebuah catatan yang diberikan oleh Ram Dass. Beliau sebetulnya adalah seorang Amerika, guru spiritualitas, yoga modern dan psikolog yang sekitar tahun 60-an pergi ke India.
Beliau mengatakan bahwa penyucian atau pembersihan diri adalah salah satu cara untuk cooling out sehingga kita tidak terus menerus membawa-bawa karma yang berat kemana-mana karena pada dasarnya pikiran kita terus menerus disibukkan dengan berbagai hal. Professor Eintein juga pernah mengatakan bahwa nilai manusia yang sejati dapat ditemukan pada tingkat dimana dia dapat meraih kebebasan dari diri sendiri. Pada intinya kita berusaha meringankan diri sendiri dan memberikan tempat agar dapat memfokuskan diri dan semakin memperdalam keuntungan dari memusatkan pikiran melalui meditasi dan sebagainya. Sehingga dengan demikian kita dapat meraih kebijaksanaan yang lebih baik.
Pembersihan diri itu bagaikan sebuah paradoks, dengan kita melepaskan semuanya, maka kita akan dapat memperoleh semuanya. Kita harus berani berhenti berpikir. Kalau kata Al kitab kita harus menjadi seperti anak-anak, jika kita tidak dapat menjadi seperti mereka maka kita tidak akan dapat memasuki kerjaan sorga. Sesuatu dalam diri kita harus mati terlebih dahulu agar kita dapat menjadi. Seperti metamorfosa kupu-kupu, dia tidak akan pernah menjadi kupu-kupu yang indah jika ulat tidak mau berubah. Kita juga demikian, jika kita ingin menjadi seperti kupu-kupu, maka kita harus mau berubah.
Membersihkan hal-hal yang berkaitan dengan ego disebut penyucian. Penyucian atau pembersihan diri merupakan tindakan melepaskan. Pengalaman hidup adalah kendaraan kita menuju kekekalan, menjadi sadar, aware, conscious dan bebas. Pada akhirnya kita nanti akan mengerti tetang tujuan hidup dan apa yang sedang kita kerjakan di sini.
Sampai sini saya terdiam. Penjelasan di atas memang masuk akal dan saya dapat mengerti, tapi jika memikirkan melakukaannya, tentunya butuh latihan yang sungguh-sungguh, penuh disiplin dan pasti membutuhkan waktu. Sekarang begini, mengosongkan diri saja butuh kesungguhan dan ketekunan. Pikiran kita sangat mudah terdorong untuk melakukan tugasnya, yaitu berpikir. Apakah mudah "berhenti" berpikir dan betul-betul masuk ke suasana teduh dan kosong? Jawabannya: tidak. Saya sudah mulai belajar bermeditasi sejak usia 18 tahun, selama bertahun-tahun hingga menjelang uzur sekarang ini hahaha.. Saya tidak bisa begitu saja memasuki suasana hening. Pikiran kita secara otomatis bekerja, butuh latihan untuk dapat "turn it off" tidak seperti saklar yang tinggal dipijit lalu mati. Pikiran tidak bisa begitu. Nah untuk sampai taraf ke situasi yang dibahas oleh Ram Dass, butuh perjalanan yang lumayan panjang. Saya tidak tahu apakah saya masih memiliki kesempatan untuk itu. Tapi tidak ada salahnya dicoba dan diusahakan, bukan?
Foto credit: islamic-study.org