Kalau bicra soal pendidikan dan mendidik tidak akan pernah ada habis-habisnya. Orang tua rata-rata menyekolahkan anak agar dikemudian hari anak-anak mereka mampu bersaing sehingga memiliki karir yang baik dan hidup sukses. Sejauh ini kalau saya bertanya pada orang tua mengapa memasukkan anaknya ke sekolah, tidak ada yang menjawab: "Supaya anaknya bahagia!" Saya jamin tidak ada! Saya juga dulu tidak menjawab begitu.
Pendidikan sekolah itu bisa diibaratkan seperti obat, dibutuhkan supaya tidak sakit, tapi tidak disukai. Mungkin ini tidak berlaku di Smipa, hahaha.. Tapi silakan tanya anak-anak sekolah pada umumnya, tanyakan apakah mereka memilih pergi ke sekolah atau diam di rumah. Saya yakin mayoritas akan menjawab tinggal di rumah. Seperti obat, kalau tidak harus, maka tidak akan diminum. Demikian juga pendidikan formal di sekolah, kalau bisa menjamin anak-anak bisa sukses tanpa harus masuk sekolah, saya yakin hampir semua orang memilih tidak masuk sekolah.
Di Indonesia, pendidikan itu harus. Saya tidak bilang diwajibkan, tapi harus. Karena apa? Karena dengan melalui tingkat pendidikan sekolah yang semakin tinggi maka mempermudah mereka untuk berkarir dikemudian hari. Lulusan SMA gajinya sangat rendah, banyak sarjana yang, maaf, bukan mendeskreditkan, tapi banyak yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya dan gajipun ya begitu-begitu saja. Beda dengan misalnya dari pengalaman saya di Amerika. Kano yang hanya lulusan SMA penghasilannya dapat mengalahkan saya yang sarjana. Yang penting adalah karakter, skill dan kesempatan. Kebetulan Kano memperoleh kesempatan yang sangat baik, ditambah dia memiliki karakter yang luar biasa serta mau mempelajari skill sebanyak-banyaknya.
Nah yang banyak dilupakan di masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tapi di banyak tempat termasuk Amerika, pendidikan karakter agak terkesampingkan. Karena apa? Mungkin karena para guru kewalahan harus menghadapi kelas yang besar, keterikatan emosional dan relasi guru dan murid seringkali juga terbatas dan faktor terpenting adalah sulit mengukur pendidikan karakter.
Lihat saja di Indonesia, memang ada sisi-sisi karakter yang dinilai, tapi dinilai dengan alfabet! Disiplin: C, Tanggung Jawab: B. What the H does that mean???? Maafkan bahasa saya yang buruk, tapi itu fakta bahwa karakter hanya dikerdilkan dengan huruf! That means nothing!
Di Amerika, saya sering menghadiri Parents and Teacher Conferences, saya lupa istilahnya apa dan ada singkatannya. Intinya kami orang tua diundang untuk bertatap muka secara personal dengan masing-masing guru mata pelajaran. Guru Matematika, guru science, guru social science, dan sebagainya. Apa yang saya dapat? Tidak banyak! Kano yang pada saat SMA sempat mengalami masalah, kehilangan motivasi dan maaf, karena itu yang diukur, nilainya jeblok! Saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya Kano hadapi, saya tidak menemukan apa-apa. Para guru hanya mengatakan yang baik-baiknya saja. " Oh Kano is doing well in my class, he follows instruction, only sometimes he cannot concentrate, but most of the time he is ok. He is a good kid, so no problem!" Itu yang saya dapat.
Padahal Kano tidak punya motivasi sama sekali. Dia yang waktu SMP mendapat piagam penghargaan karena prestasi akademik dari president tidak terlihat sama sekali di tahun pertama SMA. Akhirnya kami sendiri, orang tua, yang menemukan penyebabnya.
Saya tidak menyalahkan guru. Saya juga pernah jadi guru belasan tahun. Tidak mudah menjadi guru, menjadi pendidik. Memang kebanyakan hanya menjadi pengajar bukan pendidik, bahkan banyak yang kompetensinya dipertanyakan (serius, ini dari pengalaman) Tapi saya juga kagum pada para guru karena dengan penghasilan ala kadarnya, dengan beban administrasi yang luar biasa banyak, ditambah menghadapi siswa dan orang tua bukan sesuatu yang mudah. Jadi masuk akal jika seperti pengalaman saya di Amerika para guru sangat ramah dan hanya memberitahukan yang baik-baiknya saja. Orang tua senang, guru aman! Buktinya tadi pagi saya membaca berita tentang guru yang diajukan ke meja hijau karena dituduh menganiaya siswanya. Memang kemudian divonis bebas, tapi sebetulnya untuk sampai ke meja hijau saja sudah sebuah tindakan dan perlakuan yang salah terhadap guru. saya tidak mengikuti kasusnya, tapi prihatin dengan kondisi seperti itu. Bagaimana misalnya seorang guru dapat mendidik karakter murid jika mendisiplinkan saja kemudian berakhir di meja hijau. Nah peran orang tua yang seharusnya menjadi mitra guru, kok malah "menjerumuskan" anaknya sendiri dengan memberi contoh buruk dengan memperlakukan guru secara tidak baik.
Guru bukan profesi yang menarik. Itu saya akui. Saya juga kapok kok. Saya lebih suka menjadi sukarelawan yang mendukung para guru daripada menjadi guru. Mereka di posisi terjepit, tuntutan tinggi, kebanyakan orang tua menyerahkan semuanya ke sekolah, kalau murid tidak berhasil artinya sekolahnya jelek, gurunya tidak baik. Enak saja! Pendidikan bukan semata-mata urusan sekolah. Anak di rumah 2/3 dari waktu mereka sepanjang hari, tidak adil jika menyalahkan pada sekolah yang hanya menghabiskan waktu bersama anak-nak 1/3-nya saja, bahkan banyak yang kurang dari itu. Tidak! Pendidikan adalah tanggungjawab semua orang, tidak hanya guru dan sekolah, tapi terlebih adalah orang tua. Jika ada orang tua yang menuntut tanggungjawab sekolah dan guru atas pendidikan anaknya, lebih baik mereka dipindahkan ke sudut dunia yang hanya mereka saja berada. Hahahaha... Anak mereka, tanggungjawab mereka. Masakan masa depan anak saya ditentukan oleh orang lain? Itu sih tidak bertanggungjawab namanya. Eniwei, kita harus bersyukur masih ada yang mau jadi guru dan berterimakasih pada mereka yang sudah mengorbankan lahir dan batinnya demi keberhasilan anak-anak kita. Tugas kita sebagai orang tua adalah ikut serta dan terlibat sebanyak-banyaknya akan pendidikan anak kita.
foto credit: news.detik.com