Entah sudah berapa kali saya menulis tentang waktu. Bahwa ketika kita sudah mencapai usia tertentu waktu seperti bergerak lebih cepat daripada ketika kita masih kecil. Persepsi manusia tentang waktu berkembang dengan bertambahnya usia.
Malam ini ketika saya pergi menjemput Kano, saya menghidupkan CD di kendaraan sambil mengemudi. Biasanya saya menggunakan Spotify, tapi karena saya malas pairing dengan bluetooth kendaraan, saya memilih memutar CD. Dan lagu Masa Kecilku yang dilantunkan oleh Elfa's Singers tiba-tiba menyentuh perasaan dan pikiran saya. Dalam perjalanan menuju tempat Kano bekerja saya terlarut dalam lamunan membayangkan masa-masa Kecil Kano ketika saya mulai menjadi seorang ayah. Rasanya berbeda sekali dengan menjalani masa kecil saya sendiri hingga menjadi dewasa.
Sebagai seorang ayah, saya menyaksikan seorang anak tumbuh dan berkembang dengan begitu cepat hingga menuju kedewasaan. Saya masih ingat ketika ulang tahun Kano yang pertama, dia mengenakan baju Hawaii kembang-kembang berwarna biru. Sudah dapat duduk dengan tegak dan berjalan tertatih-tatih. Dari ulang tahun satu ke ulang tahun yang lain saya merasakan sesuatu yang manis karena melihat dia tumbuh dengan baik dan sehat, tapi juga merasakan kepahitan bahwa setiap ulang tahun artinya waktu kebersamaan semakin berkurang. Di Indonesia, bukan merupakan kebiasaan ketika seorang anak tumbuh dewasa lalu pindah hidup sendiri. Biasanya baru begitu ketika menikah. Pada saat kuliah mereka masih tinggal bersama orang tua. Berbeda dengan di Amerika, saya memang ikut terharu ketika menyaksikan orang tua memeluk anaknya yang akan tinggal di asrama kampus. Mereka bertangis-tangisan. Saya tidak mengerti hingga akhir-akhir ini.
Menyaksikan seorang anak tumbuh menuju kedewasaan mengingatkan saya bahwa hidup terus mengalir tanpa dapat saya tahan. Satu masa saya merasa sebagai seorang ayah yang sangat dibutuhkan, kemudian tiba-tiba saya tersadarkan bahwa anak ini sudah dewasa. Kapan dia tumbuh? Kok bisa terlewatkan? Ini sebuah perasaan yang aneh sebab terus terang saya mungkin lebih banyak memfokuskan hidup pada Kano. Saya mendampingi dia sejak pertama kali memandikan dia ketika baru berusia 1 hari, mengantar dia ke kelas berenang pertama kali, mengantar dia ke taman bermain pertama kali, kelompok bermain, TK, SD, SMP, bahkan SMA, saya selalu ada. Tapi kini tiba-tiba merasa bahwa waktu-waktu itu terlewat begitu saja.
Lagu di dalam kendaraan terus mengalun, saya diliputi keharuan sekaligus kesedihan. Masih ada beberapa bulan lagi yang dapat kami nikmati. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi ketika kami nanti berpisah. Hidup tidak akan pernah sama lagi. Kami selalu bertiga kemana-mana, Nina, saya, dan Kano. Ketika nanti tinggal berdua saja, mungkin akan mengalami banyak penyesuaian yang tidak mudah.
Saya menemukan sebuah prosa yang dikarang oleh Mary Antoinette, entah apakah sama dengan Marie Antoinette, Ratu Perancis yang meninggal dibawah pisau guillotine di jaman revolusi Perancis. Saya tidak tahu tapi ini dapat mewakili perasaan saya malam ini:
As I tucked my daughter
in her bed tonight,
She asked me
what I would buy
If I had all the money
in the world.
And staring at her
sweet face I could
only think of one word,
so I climbed
Into her bed next to her
and whispered it in her ear.
I’d buy time
sweet love of mine,
I’d buy time
(Mary Antoinette)
Saya menghela napas sangat panjang. Lagu masa kecilku berakhir dan saya membelokkan kendaraan ke tempat parkir di kampus, tempat Kano bekerja. Masih ada beberapa bulan lagi, gumam saya, waktu yang sangat berharga yang tidak akan dapat tergantikan. Seandainya saja saya dapat membeli waktu, saya ingin membeli sebanyak-banyaknya!
Foto credit: allpoetry.com