Kembali terjadi diskusi sengit nan beretika di kelas 3. Topik kali ini saling menguji gagasan tentang makhluk hidup. Ialah pasir yang dianggap makhluk hidup oleh sebagian besar teman-teman di kelas 3 Kelompok Marwas. Menyisakan 2 dari total 11 Kawan Marwas yang sisanya menentang ide itu. Bagi kedua Kawan Marwas ini, pasir adalah benda tak hidup, karena pasir berasal dari batu, yang mana batu juga benda mati. Sementara pendapat di seberangnya yang lebih banyak mendapat dukungan (9 anak) meyakini bahwa pasir adalah makhluk hidup. Dengan alasan, karena pasir bisa menyerap air dan menyerap apa saja. Mari bayangkan, kedua belah pihak ini mengungkap gagasannya masing-masing dengan nada dan ekspresi yang sangat serius dan begitu meyakinkan. Menarik bukan?
Belum selesai dengan pasir, datanglah tanah. Perbandingan kali ini ialah 3 berbanding 8. 3 Kawan Marwas yakin benar bahwa tanah ialah benda tak hidup, di sisi lain 8 Kawan Marwas lainnya, dalam tatapan yang tak menyimpan ragu, menyampaikan pendapatnya bahwa tanah itu benda atau makhluk hidup. Argumennya adalah karena tanah itu bisa menumbuhkan tumbuhan dan tanaman, hewan-hewan juga bisa hidup di dalam tanah, tanah juga menjadi tempat kita (manusia) hidup. Pernyataan yang serentak membuat 8 Kawan Marwas pendukungnya mengangguk-angguk dalam irama yang sama. Tidak terima begitu saja, seorang dari 3 Kawan Marwas membantah pendapat sebelumnya. Baginya, yang kemudian diikuti juga oleh 2 Kawan lainnya, tanah merupakan benda tak hidup.
"Hanya karena tanah bisa menumbuhkan tanaman dan makhluk hidup, bukan berarti dia juga hidup!"
Tepuk tangan kakak disimpan rapat setelah mendengar pernyataan ini. Apresiasi kakak sama dengan pendapat seberangnya, "Wah, idenya keren!". Kakak berusaha tidak memihak salah satu, dengan tujuan agar setiap anak dapat "merdeka dalam berpikir" dan merdeka dalam mengungkap gagasannya. Perihal benar dan salah, nanti ada waktunya. Tetapi kebebasan berpendapat, percaya pada gagasan sendiri (otentik), dan meluaskan imajinasi, perlulah diutamakan.
Mari renungkan, jika kakak langsung menanggapinya dengan, "Salah! Yang benar adalah ...." Maka kita melahirkan generasi yang takut berpikir, tidak percaya pada gagasan diri (yang otentik), rendah diri, memenjarakan imajinasi, dan lebih jauh lagi menjadi generasi yang terlena dan mudah mengikuti arus.
Diskusi hari itu ditutup dengan topik, "apakah manusia termasuk makhluk hidup?" Hampir semua Kawan Marwas menjawab iya, karena manusia makan dan minum, bergerak, bernapas. Seorang Kawan Marwas, di ujung waktu diskusi, setelah cukup mengamati dengan tenang, ia mengangkat tangannya dan berkata, "manusia itu makhluk hidup karena kita punya keinginan, cita-cita, bisa merasa, bisa merasakan emosi-emosi."
Jawaban seorang anak ini membawaku pada pertanyaan-pertanyaan lain:
"Benarkah manusia makhluk hidup? Apakah setiap kita masih atau sudah hidup? Seberapa hidupkah kita sebagai manusia?"
Belajar banyak dari teman-teman kecil ini! pertanyaan terakhir juga jadi bahan refleksi "Seberapa hidupkah kita sebagai manusia?"
Terima kasih kak Mamat sudah berbagi~