Ada satu titik kesadaran baru usai Kamis lalu menghadiri taki-taki K7. Kesadaran atas apa yang sedang dihadapi sebagai orangtua 'baru'. Iya, baru karena inilah kali pertama 'berkenalan' dengan anak remaja. Momen yang kak Andy bilang adanya orang asing di rumah. Padahal dulu pernah melewati masa remaja ya? Tapi ternyata 'mengenali' apa yang dibutuhkan si anak remaja di rumah tidak semudah itu.
Tak usah ditanya berapa kali konflik terjadi hanya gara-gara salah ucap, kemudian diartikan lain hingga berujung ngambek. Dan entah kenapa meski sudah berkali-kali mendengar para pakar bicara, barulah kesadaran itu sampai ketika diulang kembali oleh kak Robert tentang perubahan anak-anak yang menjadi teramat peka.
Maka, aku menyimpulkan bagian tersulit menjadi orangtua adalah mendidik diri sendiri. Mendidik diri untuk memiliki sifat sabar, mendidik diri untuk dapat meregulasi emosi, mendidik diri dalam memahami setiap progres pembentukan karakter anak, mendidik diri menerima setiap kegagalan dan keberhasilan anak, serta mendidik diri menyadari anak-anak bukanlah milik kita, mereka punya jalannya sendiri yang kemudahannya tentu datang dari pemilik jiwa mereka yang sesungguhnya.
Pada perjalananku menemani si anak remaja di jenjang baru sebetulnya pernah memunculkan rasa takut dan khawatir. Kalau dipikir sekarang, anakku pun juga mungkin merasakan hal yang sama. Di jenjang sebelumnya-lah kami 'si orangtua baru' ini belajar merubah sudut pandang, meski bukan hal yang mudah tapi aku (khususnya) merasa memang selalu ada momen-momen yang terkenang seperti kilas balik ke masa-masa remaja-ku dahulu. Dan ini jadi pembahasan seru juga serius diantara kami bertiga bahkan ada kalanya anakku bertanya tentang situasi kami saat itu. Sesederhana bertanya, "Kalian pernah ngalamin gak?"
Lagi dan lagi, aku yakin ini bukan sebuah kebetulan. Mungkin Tuhan sedang memperlihatkan kembali memori dengan orangtua kami dahulu, agar kami dapat mengenangnya melalui situasi yang terjadi dengan R. Meski situasinya berbeda tetapi komponen mendasarnya kurasa sama. Ada momen kami belajar disana, menyadari bahwa dalam setiap episode kehidupan fokusnya bukan pada apa yang menjadi masalah tetapi bagaimana sikap yang kita pilih untuk mengadapinya.
Dan aku teringat secuplik tulisan Dee Lestari berjudul Rimba Amniotik [2009] dalam bukunya yang berisi kumpulan cerita; Madre :
"Terima kasih telah mengandungku; menempatkanku dalam rimba amniotik di mana aku belajar ulang untuk mengapung bersama hidup, untuk berserah dan menerima apapun yang kau persembahkan. Kini dan nanti. Manis, pahit, sakit, senang, kauajari aku untuk berenang bersama itu semua, sebagaimana kau tengah berenang dalam tubuhku dan merasakan apa yang kurasa, mengecap apa yang kumakan, menghirup udara yang kuendus --- tanpa bisa pilih-pilih. Kau terima semua yang kupersembahkan bagimu.
"Terima kasih untuk perjalanan ini. Untuk pilihanmu datang melalui aku. Untuk proses yang tak selalu mudah tapi selalu indah.
"Aku tak sabar untuk mengenalmu lagi. Lagi dan lagi"