AES 701 Mengambil Keputusan
joefelus
Tuesday April 25 2023, 9:49 AM
AES 701 Mengambil Keputusan

Mau ke kiri atau ke kanan? Sarapan telur atau roti? Kopi atau teh? Akan makan sekarang atau nanti? Itu semua baru 4 hal, kita membuat banyak keputusan dalam satu hari. Menurut penelitian di Universitas Cornell, diperkirakan setiap orang memutuskan sekitar 226 hanya untuk soal makanan, sementara statistik memperkirakan setiap orang rata-rata membuat sekitar 35000 keputusan dengan sadar setiap harinya. Setiap keputusan selalu diikuti dengan konsekuensi, bayangkan jika benar kita membuat 35000 keputusan dalam satu hari lalu disertai dengan konsekuensinya, maka ada berapa kombinasi yang mungkin terjadi?

Iseng saja ya, kebetulan saya tidak terlalu religius, setidak-tidaknya saat ini. Mungkin karena kondisinya begitu saya bisa berpikir sedikit nyeleneh. Jika kita percaya bahwa Tuhan memutuskan segala sesuatu, bayangkan betapa sibuknya. 35000 dikalikan dengan jumlah populasi di dunia. Saya yang berusaha memilih dan mengambil keputusan sudah lumayan keblinger, bayangkan dengan mengatur seluruh umat manusia. Mungkin itu sebabnya kita menyebut Tuhan sebagai Maha kuasa.

Sebelum ngelatur kemana-mana, saya akan kembali ke obrolan tentang membuat keputusan. Ketika kita berusaha mengambil keputusan, kita membentuk opini, memilih tindakan melalui proses mental yang dipengaruhi oleh banyak hal seperti emosi, pertimbangan, pengalaman masa lalu bahkan termasuk juga bias yang kita miliki. Wajar saja kalau itu bias karena ini sifatnya sangat personal dan subjektif. Kita menimbang banyak hal seperti apa keuntungannya, apa konseukensinya, dan banyak lagi termasuk apakah informasi yang kita miliki itu sudah cukup, apakah akurat atau tidak. Membuat keputusan bukan hal yang mudah. Tadi semua tergantung pada objeknya.

Seperti misalnya saya beri contoh yang sangat sederhana ketika saya antri untuk mencuci mobil otomatis. Ada 2 jalur yang bisa saya ambil tapi harus dipilih yang mana yang mungkin akan lebih cepat. Sederhana bukan? Tapi kadang saya menyesali keputusan itu. Harusnya saya ambil yang sebelah kiri karena ternyata di jalur yang saya ambil menjadi lambat dan tertinggal jalur satunya karena di depan ada orang yang bermasalah, atau bukan member sehingga harus melakukan transaksi dahulu, sebelum transaksi malah harus memilih menu yang mana. Dia juga harus memilih, mngkanya jadi lebih lama daripada member yang sudah diprogram secara rutin. Nah karena ada orang yang harus melakukan pilihan dan transaksi, saya jadi jauh tersusul orang-orang yang antri di sebelah kiri. Saya agak mengomel, tapi itu bagian dari konsekuensi dari keputusan saya memilih sebelah kanan. Tak apa, paling hanya beda beberapa menit. Saya hanya kehilangan waktu. Tapi bagaimana dengan keputusan yang sangat esensial? Yang sangat penting? Tidak bisa dengan mudah memutuskan apalagi jika hanya melakukan minimanimoo, atau isitlah di Indonesia dengan menghitung kancing! Tentu tidak, kita tidak mau membuat keputusan itu secara semena-mena dengan sebuah permainaan.

Keputusan penting dalam hidup tidak bisa hanya semata-mata dilakukan secara impulsif. Secara impulsif artinya kita memilih berdasarkan apa yang terpikirkan di paling awal dan asal selesai. Itu bisa kita lakukan untuk hal-hal yang ringan seperti di dalam permainan. Bisa juga keputusan diambil dengan menimbang mana yang lebih menyenangkan, mana yang lebih nyaman atau mana yang lebih populer. Mau makan ayam goreng lalu kita pilih mau KFC atau Popeye? Mana yang lebih dekat? Mana yang lebih pendek antriannya, mana yang lebih menimbulkan selera? Nah ini cara mengambil keputusan yang kedua, namanya compliance style. Banyak lagi gaya pengambil keputusan, misalnya balancing, disini kita mempertimbangkan bobot masing-masing, faktor-faktor yang menentukan, mempelajari mana yang lebih baik, mencari informasi masing-masing pilihan, dan sebagainya. Atau dengan gaya prioritizing atau reflecting. Kita berpikir masak-masak sebelum mengambil keputusan, mempertimbangkan dampak yang paling baik dan berusaha sekuat tenaga memeras pikiran agar meminimalkan pengambilkan keputusan yang tidak tepat.

Melelahkan juga sepertinya membicarakan pengambilan keputusan secara teoritis. Ada banyak pemikiran tentang ini seperti misalnya pengambilan keputusan yang dengan gaya analitikal, direktif, konseptual dan behavioral. Tujuannya memang untuk memandu kita agar mampu mengambil keputusan dengan bijak. Tapi ya begitu lah hidup, tidak pernah dapat diduga. Kita akan dihadapkan pada keputusan satu diikuti dengan keputusan lainnya dan setiap kali kita akan dihadapkan pada berbagai konsekuensi. Kita seperti berjalan di dalam labirin.

Photo credit: insidesmallbusiness.com.au