Pukul 4 pagi mata saya sudah terbuka lebar-lebar. Suara mesjid mulai menggaung, lebih dari satu dan makin lama makin banyak. Ajakan untuk berdoa subuh belum mulai, saya menduga saat ini setiap mesjid sedang mendaraskan ayat-ayat suci. Suara AC yang halus menemani saya, ada setitik warna biru dari lampu kecil sebesar titik di sudut. Kehidupan baru dimulai, dengan banyak suara, banyak bunyi dan doa-doa. Di kota ini tidak pernah ada keheningan sejati.
“What you are, you are by accident of birth; what I am, I am by myself.”
Itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Ludwig Van Beethoven. Menginspirasi saya untuk merenung. Kita memang tidak bisa memilih dilahirkan dimana, kapan dan dalam keluarga apa, itu yang dimaksud dengan accident of birth. It's a given! Mau terima atau tidak memang sudah begitu dari sananya. Sekarang tugasnya adalah bagaimana mengisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya menjadi diri sendiri.
Bayangkan saja. Pertama kita tidak bisa memilih, kedua kita tidak tahu ditakdirkan kemana. Semuanya lembaran kosong, kita diharapkan bisa melihat, mencermati dan membaca tanda-tanda, mencari nilai-nilai, dan memproyeksikan kemana kita akan melangkah. Ada kebebasan memilih, tapi seringkali dikemas dengan keterbatasan tertentu. Nah di sini misteri dari kehidupan berlangsung.
Saya akan mengambil sedikit pemikiran Mark Manson, salah seorang penulis buku best Seller, yang buku-bukunya sudah tersebar lebih dari 20 juta copies dan diterjemahkan lebih dari 65 bahasa.
Beliau mengatakan bahwa manusia memiliki 4 tahapan kehidupan. Yang pertama adalah mimicry, pada tahap ini kita tergantung pada orang lain, mempelajari semua kemampuan dasar dan sepanjang waktu membutuhkan validasi dan persetujuan orang lain. Dalam fase kehidupan ini kita belum memiliki pikiran independen dan nilai-nilai personal.
Tahap kedua adalah proses menemukan diri. Kita mencoba segala sesuatu, kadang berhasil dengan baik kadang tidak. Dalam tahap ini kita akan mempertahankan semua yang berlangsung dengan baik dan move on.
Yang ketiga adalah berkomitmen, memaksimalkan potensi kita untuk membangun legacy. Hal-hal yang nanti akan kita tinggalkan dan kita wariskan ketika kehidupan ini selesai. Kita mengisi hari-hari dengan ha-hal yang penting, melakukan hal-hal yang luar biasa, bekerja keras dan berusaha meraih segala sesuatu, membangun keluarga dan mengejar tujuan hidup.
Sekitar setengah abad kita habiskan untuk membangun mimpi, hingga saatnya kondisi tidak lagi mengijinkan untuk meneruskan membangun mimpi kita. Ini adalah fase terakhir, yang keempat dimana kita tidak lagi membangun legacy tapi mempertahankannya selama mungkin, menjaganya dan kalau bisa melestarikannya hingga diturunkan ke generasi sesudahnya. Di tahap ini banyak orang yang harus bergumul dengan masa transisi, harus menyerah dan melepaskan tujuan hidup dan mulai menyesuaikan diri hidup dengan perasaan tanpa tujuan berarti. Tahap keempat ini secara psikologis sangat penting karena pada saat ini kita harus berusaha berdamai dengan kenyataan tentang akhir hayat. Pada tahap ini kita kan berusaha membangun ketahanan psikologis terhadap hidup yang incomprehensible dan ketidakmampuan mengelak dari kematian, mulai kehilangan pengertian kehidupan atau mulai menyadari banyak hal yang mulai pudar menghilang dan berusaha menghadapinya dengan penuh kesadaran.
Sampai di sini saya berhenti. Kita dilahirkan tanpa bisa memilih, tidak tahu apa-apa. Kemudian belajar dari sekeliling kita, berusaha mengerti diri sendiri, mengerti esensi kehidupan, menemukan dan berusaha meraih mimpi, kemudian kita tinggalkan. Tiba dengan ketiadaan dan pergi dalam kehampaan. Mau tidak mau saya harus berpikir bahwa akan ada sesuatu yang lain sesudah ini. Masa begitu saja? Masakan tugas kita di dunia hanya kekedar membangun legacy, hanya warisan. Seperti pribahasa gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Itu legacy. tapi apakah hanya itu?
Foto credit: srilankanz.co.nz