Baru-baru ini ramai sekali berita tentang pemain tenis dunia yang berasal dari serbia yang terpaksa harus keluar dari Australia karena visanya dibatalkan. Alasan visa dibatalkan karena petenis ini tidak mau divaksin dan aturan di Australia, siapapun yang ingin berkunjung harus dapat membuktikan bahwa yang bersangkutan sudah divaksin.
Kalau memperhatikan debat seputar kasus petenis ini, rasanya sangat melelahkan karena banyak yang pro dan kontra. Lebih parah lagi yang ikut nimbrung dalam perdebatan itu tidak semuanya orang yang berpendidikan cukup. Tahu dari mana? Tidak sulit sebetulnya untuk membedakan siapa yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup atau tidak. Perhatikan saja cara mereka menulis! Apalagi dalam bahasa Inggris, grammar itu sangat penting disamping juga pemilihan kata-kata. Jika ada seseorang yang seharusnya menggunakan kata ganti pemilik jamak kemudian menggunakan there selain their, jelas terlihat bahwa orang ini tingkat pendidikannya tidak memadai. Dan itu sangat banyak dijumpai! Lebih repot lagi justru yang paling ngotot adalah kelompok mereka ini! Runyam!
Seringkali saya harus mengelus dada dan menghela napas panjang menyaksikan ini semua. Enerji yang kita miliki seharusnya dipusatkan dan digunakan untuk penyelesaian masalah pandemi ini bukannya untuk berdebat tanpa ada penyelesaian yang jelas karena terus menerus akhirnya hanya sekedar menjadi debat kusir.
Saya sudah 2 kali di bulan Januari ini mendapat notifikasi bahwa saya mungkin terpapar covid-19 karena berdekatan dengan seseorang (entah siapa) yang positif terjangkit. Mau tidak mau saya harus rajin test. Sejak awal Januari saya sudah test setidak-tidaknya 3 kali. Alhamdulillah hasilnya selalu negatif. Nah dalam situasi ini, saya simpulkan bahwa tidak ada tempat yang aman karena banyak orang yang ngotot tidak mau divaksin atau mereka yang sudah terbukti positif masih berkeliaran. Jika kasus seperti ini terus-menerus terjadi, tentu pandemi ini tidak akan selesai-selesai!
Saya selalu memakai masker di tempat umum, di saku saya selalu ada sanitizer, jika membuka pintu saya tidak pernah menggunakan tangan telanjang, saya ambil tissue buka pintu lalu tissue saya buang. Tujuannya agar saya sebisa mungkin menghindari kemungkinan terpapar. Tapi ya itu tadi, kita tidak pernah tahu apakah ada orang di sekitar kita yang tidak divaksin atau tidak sakit! Apalagi di Amerika data medis merupakan hal pribadi, artinya siapapun tidak boleh menanyakan kecuali jika ada perintah dari pengadilan! sekali lagi, runyam!
Menuntut orang lain memang sulit. Australia adalah tuan rumah, jadi jika ada orang bertamu ya selayaknya mengikuti aturan tuan rumah. Jadi menurut saya, dideportasinya petenis ini merupakan hal yang wajar. Orang yang mendebat bahwa petenis ini punya hak untuk tidak divaksin itu juga benar, itu pilihan dia tapi tidak bisa menuntut orang lain untuk menerima dia ketika bertamu, sebab itu merupakan hak tuan rumah juga untuk menjaga keselamatan diri mereka. 2 hal yang tidak bisa dipertemukan. Masing-masing punya hak dan kebetulan masing-masing memiliki situasi yang berlawanan. Ya jauh-jauh lah kalau begitu.
Di tulisan saya beberapa hari yang lalu, hari Sabtu kemarin, saya katakan pilihan selalu terkait dengan konsekuensi. Jika memilih tidak divaksin ya konsekuensinya akan sering ditolak orang. Sebelum memilih tentunya harus mempertimbangkan konsekuensinya, jadi ya harus konsekuen! Itu menurut saya.***