Kata pencarian Deepseek menjadi trending akhir-akhir ini katanya DeepSeek lebih mutakhir dibandingkan dengan pendahulunya, ChatGPT. Tak terelakkan memang teknologi AI berkembang pesat dekade ini. Semua berlomba-lomba mengembangkan AI, perlahan masuknya AI kedalam kehidupan kita menjadi suatu hal yang biasa. Lambat laun AI akan menjadi teknologi pengganti ‘manusia’ hebat ya. Sudah saatnya kita juga harus berkembang, perkembangan teknologi harus selaras dengan perkembangan kita yang penciptakan AI. Masa iya AI ciptaan manusia kalah dengan manusia ciptaan Tuhan? Optimis dong
AI tidak dipungkiri banyak membantu berbagai permasalahan fisik, bagaimana dengan permasalahan interaksi sosial manusia bisakah AI menyelesaikannya?
Menurutku inilah kelebihan manusia, kita mempunyai sense of art. AI tentu punya pola dan algoritma untuk membantu kita namun kita sebagai makhluk sosial yang hidup inilah eksekutornya. Keputusan final ada di tangan kita. Inilah buah pemikirannya. Teknologi punya AI, manusia punya EQ alias Emotional Intelligence.
EQ merupakan suatu kemampuan kompleks manusia terhadap emosi. Dari mulai input yaitu kemampuan mengenali kemudian masuk ke tahap proses memahami setelahnya mampu mengelola emosi diri terakhir mampu merespon emosi tersebut untuk diri sendiri dan pada orang lain secara efektif. EQ menjadi faktor penting baik dalam dan luar diri. Hubungan diri sendiri maupun orang lain.
Mengutip Daniel Goleman dalam buku Emotional Intelligence ada 5 komponen utama dari EQ:
Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional
Dari penjelasan tersebut alih-alih merasa tidak nyaman dengan kemajuan teknologi lebih baik sebagai manusia yang berkesadaran kita terus melatih EQ kita, pada masa depan jadilah satu dari sekian banyaknya orang yang masih memiliki EQ.