AES236 Fakta dan Realita
leoamurist
Tuesday April 26 2022, 9:37 PM
AES236 Fakta dan Realita

Realita bukan fakta. Fakta bukan realita. Sering tertukar jadinya bingung ketemu bingung, jadi bengong. Masih lebih aman bengong ketemu bengong, jadinya diam. Kenapa yang bingung ketemu bingung gak lebih aman? Karena dari bengong ujungnya melindungi opini sendiri.

Perlindungan terkuat adalah serangan. Jadi melindungi opini diri dengan menyerang opini lain. Tidak melulu secara agresi, satir sinis pun, termasuk serangan. Semacam ocehan, "katanya dulu gitu koq sekarang gini sih!?" Dengan nada setara suara ban kendaraan selip saat di rem mendadak di aspal basah.

Katanya dulu gitu, adalah fakta. Sekarang gini sih, adalah realita. Keduanya berbeda dan keduanya sering disamakan, sehingga salah tempat adalah kewajaran. Walaupun wajar, bukan berarti benar. Salah kaprah juga demikian kan. Makanya, kalau ingin berkembang perlu di-benar-i. Bukan di-benar-kan.

Fakta berorientasi ke belakang. Realita berorientasi ke depan. Dari respon yang sama terhadap sekarang. Fakta sudah tidak bisa diapa-apakan, sekuat apapun satir sinis bahkan sarkas mengomentari dan mengocehinya. Realita masih bisa diapa-apakan, kalau mampu membebaskan diri dari fakta.

Contohnya semacam, sekarang ada keterlambatan. Kalau terjebak fakta, "kan dari awal sudah dibilangin (sambil mengungkit pesan teks informasi beberapa minggu lalu) koq jadi berubah gini sih sekarang. Gak mau ah, jadi cape nih berubah-ubah melulu. Iyain aja ya, dilakuin ogah banget. Gak konsisten ah."

Kalau membebaskan diri dari fakta, masuk kepada realita. "Baiklah, kalau begitu hal baru apa yang bisa dihadirkan untuk mengatasi persoalan lama yang berulang ini. Karena solusi lama untuk masalah lama hanyalah pengulangan belaka. Salurkan energi ocehan satir sinis sarkas kepada tindakan mengatasi situasi saat ini."

Nah! Catatan pertama ada pada tuntutan konsisten. Sepertinya kontradiktif, malahan ironis, kalau dalam usaha mengembangkan diri orientasinya stagnasi. Konsisten kan saudara kembarnya stagnan. Catatan kedua ada pada tindakan. Kalau tindakannya tidak membawa kebaruan, itu bukan tindakan. Itu konsistensi, eh stagnasi saja.