AES 739 What I Really Want
joefelus
Friday June 2 2023, 9:05 AM
AES 739 What I Really Want

Rata-rata manusia membuat 35,000 keputusan setiap hari. Seperti misalnya ingin memakai baju apa ke kantor hari ini? Apakah akan memilih salad untuk makan siang? Dressingnya apa, ranch? Blue cheese? Italian? Kalau dipikir-pikir sepertinya justru membuat keputusan adalah pekerjaan utama kita. Hitung saja jika 1 hari itu 24 jam, berarti ada 1440 menit atau 86,400 detik. Jika kita membuat 35,000 keputusan setiap hari berarti kita membuat 1 keputusan setiap 2,4 detik. Apakah kita pernah lelah melakukannya? Lalu dari sekian ribu keputusan yang kita buat, berapa banyak yang penting? Berapa yang sangat penting, berapa yang paling penting yang akan mengubah kehidupan kita di masa depan? Mungkin dari ribuan itu tidak ada. Baru setelah sekian juta keputusan sesudah melalui sekian milyar detik kita baru membuat satu keputusan penting. Itupun belum tentu kita tahu bahwa itu adalah keputusan terhebat, THE ONE decision yang akan mengubah segalanya.

Itu satu hal. Sekarang pertanyaannya, berdasarkan apa kita membuat keputusan? Bagaimana kita membuat keputusan? Menurut para psikolog kebanyakan dari ribuan keputusan yang kita buat diambil tanpa berdasarkan kesadaran. Banyak keputusan kita lakukan karena merupakan kebiasaan, lalu semuanya menjadi otomatis. Keluar rumah langsung belok kiri, lalu ke kanan dan seterusnya. Kadangkala pikiran saya terus melayang sambil mendengarkan lagu, tiba-tiba saya baru sadar ketka sudah tiba di depan pintu gedung kantor. Berdasarkan apa saya mengambil begitu banyak keputusan tentang arah menuju kantor? Tanpa pemikiran, tanpa sadar, karena sudah biasa!

Keputusan penting diambil terutama berdasarkan motivasi. Motivasi terbentuk jika kita mempunyai keinginan. Apa yang kita inginkan dalam hidup? Tidak heran membuat keputusan yang sangat penting seperti ini begitu melelahkan. Siapa yang tidak? Keputusan-keputusan seperti ini akan menuntut banyak energi. Pada saat kita berusaha membuat keputusan penting, kita mudah terjerumus pada survival mode karena cenderung mencari aman dan jauh dari risiko. Kemudian karena kita begitu terfokus pada tujuan, kita tersesat lalu mulai merasakan frustrasi. Nah sekarang bayangkan jika kita tidak tahu apa yang kita inginkan! Semakin kacau.

Seringkali ketika kita tidak tahu akan apa yang kita inginkan, kita menjadi bosan dan resah dengan apa yang kita sedang lakukan meskipun itu adalah sesuatu yang pernah kita cintai. Dengan berjalannya waktu kondisi seperti ini mulai mengarah pada stress, depresi dan merasa seolah-olah tidak memiliki kontrol atas kehidupan.

Saya sepertinya bergitu terfokus pada satu hal selama sekian tahun. Segala upaya, segala keputusan yang saya buat semata-mata mengarah pada satu tujuan. Begitu tujuan tercapai, saya mulai merasa tersesat dan tidak tahu kemana arah yang berikutnya harus dituju. Saya mulai jenuh, kelhilangan sesuatu dan keseimbangan mulai tergoyahkan.

Ketika membuat keputusan, kita membentuk opini, memilih tindakan apa yang harus diambil melalui proses mental yang dipengaruhi subjektivitas, alasan, emosi, bias, bahkan pengalaman masa lalu. Itu sudah jelas. Kita mempunyai kebebasan memilih, mempertimbangkan berbagai faktor, dampak baik dan buruknya hingga konsekuensi yang menanti. Banyak sekali hal yang harus dipertimbangkan. Itu benar-benar melelahkan dan tidak jarang ketika menghadapinya kita berusaha untuk menyerah dan berhenti.

Itu yang sedang saya rasakan. Keinginan untuk beristirahat dan menjauh dari segala bentuk pengambilan keputusan sangat kuat, sementara itu saya sendiri tidak tahu apa yang sekarang sebetulnya diinginkan.

Satu hal yang membuat saya terus berusaha adalah karena mempercayai bahwa somewhere or something is just waiting for me to be found. Entah dimana atau apa itu, saya yakin suatu saat saya akan menemukan itu. Saat ini sesudah tujuan pertama selesai saya seperti a phoenix who is raising from the ashes yang akan memulai sesuau yang baru. What I do really want right now? I do no know yet, but I will!

Foto credit: tinnybudha.com