Mata adalah jendela dunia. Ia merekam segalanya tangis yang tertahan, tawa yang tak terucap, rindu yang terpendam. Tanpa perlu kata-kata, mata mampu menceritakan apa yang tersembunyi dalam hati. Aku selalu percaya bahwa mata bisa berbicara. Bukan dengan suara, tapi dengan isyarat. Kadang ia berkilau penuh kebahagiaan, kadang redup karena kelelahan, dan ada waktu di mana mata hanya menatap kosong seperti lautan tanpa ombak.
Pernahkah kau melihat seseorang yang tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum? Senyum itu hanya basa-basi, sedang matanya memohon tolong selamatkan aku dari kepalsuan ini. Atau mungkin kau pernah melihat seseorang yang diam, tanpa satu pun kata keluar dari bibirnya tapi matanya menatap tajam lebih tajam dari pisau yang baru diasah? Matanya berkata, aku kecewa meskipun mulutnya tidak berani mengakuinya.
Mata menyimpan kejujuran yang tidak bisa disembunyikan. Bahkan bagi mereka yang pandai berpura-pura, akan selalu ada momen di mana matanya lelah menjaga rahasia. Ada mata yang meneduhkan, seperti hujan yang turun pelan di sore hari. Ada mata yang menakutkan, seperti badai yang datang tanpa aba-aba. Ada juga mata yang penuh harapan, seperti langit fajar yang menjanjikan hari baru.
Kita sering berkata bahwa kita mendengarkan orang lain, tapi seberapa sering kita benar-benar melihat mereka? Melihat lebih dalam dari sekadar kelopak mata, lebih jauh dari sekadar warna irisnya? Karena sesungguhnya, manusia bisa berbohong lewat bibirnya tapi tidak dengan matanya.