Oleh karena kakak tidak bisa memfasilitasi teman-teman dalam segala hal, maka terbukalah ruang-ruang kolaborasi dan saling berbagi. Salah satunya tentang musik bambu. Seingatku, musik bambu paling kukuasai ialah kentongan. Tinggal dan tumbuh di kampung dengan budaya ronda yang masih kuat, membuatku rajin ikut bapak bertugas ronda. Tak sampai semalam suntuk, setidaknya ikut 1x keliling kampung sebelum jam 9 malam. Mungkin jika tumbuh di kampung persawahan sunda dan memiliki seekor kerbau untuk digembalakan, aku akan mahir memainkan suling sunda. Sayangnya, sekarang suara suling sunda paling mudah didengar dari daftar putar musik pada aplikasi pemutar lagu. Dalam upaya berbagi pengetahuan akan indah dan hebatnya musik kearifan lokal, kami para kakak di SD 3 sepakat untuk mengundang seorang kawan dari Kampung Adat Cireundeu (KAC). Selain sebagai warga asli KAC, Kang Dendi adalah mahasiswa tingkat akhir di ISBI yang secara khusus mendalami musik bambu. Ia menjadi orang terpilih untuk menyapa kelompok Mamberamo dengan keindahan suara musik bambu.Β
Kelas sudah riuh sejak sapa pertama di pagi itu. Teman-teman Mamberamo sudah tahu bakal ada yang datang dan mengajak mereka bermain musik. Semakin siang riuh, antusiasme tak kunjung surut, justru mereka larut dalam nada-nada musik bambu yang yahuuut! Setiap alat yang dimainkan oleh kang Dendi selalu disambut nanar kagum wajah teman-teman Mamberamo.
"Kang Dendi, aku mau coba!"Β
"Aku juga!"
"Aku juga mau cobain!"
Ekspresi bahagia mengalun seirama bersama antusiasme teman-teman Mamberamo dan rasa senang Kang Dendi. Dengan sigap dan tampak kuwalahan, Kang Dendi sangat menikmati interaksi dan kesenangan teman-teman Mamberamo untuk mengenal dan mencoba berbagai jenis alat musik bambu yang dibawanya dari KAC.Β
"Aku mau minta dibeliin mama, ah!"
"Aku nanti mau beli ini, ah!" Celetuk beberapa teman dengan begitu yakin.Β
Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian alat musik bambu yang awalnya dibuat dan dimainkan sebagai pengusir hama. Ada yang bisa tebak? Yeaaay! Anda benar. Karinding. Sorak sorai tak terbendung, 16 wajah mungil berbinar-binar menerima sebuah alat musik yang bahkan tak mereka kenali sebelumnya, apalagi tahu cara memainkannya. Tingkat kebahagiaan meningkat drastis ketika mereka tahu bahwa Karinding itu adalah milik mereka. Berbekal kesenangan belajar, Kang Dendi memandu dengan sabar bagaimana cara memainkan Karinding. Atau minimal agar teman-teman Mamberamo dapat membunyikannya. Betapa gembiranya saat 1, 2, 3 anak dan beberapa anak lain untuk pertama kali dalam hidupnya membunyikan alat musik bambu bernama Karinding. Tak mau kalah, yang lain segera berlomba hingga lupa dengan ekspresi wajah mereka yang lucu sekali saat mencoba memainkan Karindingnya.
Apakah sekarang teman-teman Mamberamo sudah dapat memainkan Karindingnya? Tentu saja perlu proses panjang untuk sampai pada titik bisa. Mari kita doakan dan dukung agar semangat belajarnya tak mudah padam. Oh iya, selain teman-teman Mamberamo, nih. Alat musik bambu apa sajakah yang teman-teman ketahui? Atau bahkan yang teman-teman kuasai cara memainkannya?
Seru sekali ide kegiatan & penceritaannya, ka Mamat.. akhirnya alat musik bambu bisa dicoba langsung oleh kawan-kawan kecil kita. Pengalaman berharga yang akan selalu diingat Kawan Mamberamooo... Terima kasih, ka Mamat.. Terima kasih, ka Putri.. πππΌππΌ
Iyaaa, Mama Kuri. Semoga jadi pengalaman dan kecintaan, ya. Dengan senang hati
Keren kak Mamat, membawa kembali musik-musik kayu, bambu yang menenangkan jiwa, hehe
Mengikuti jejak Kak Asep. Nuhun ya, sering ngajak diskusi ide-ide seru. Meski selewat tapi membantu sekali, kak.