AES011 Dunia Hanya Sementara?
firdabilqis
Tuesday March 17 2026, 10:17 AM
AES011 Dunia Hanya Sementara?

Beberapa jam setelah saya menulis tulisan ke 10 di AES, yang berisi kepergian Ayah, saya mendapati kabar bahwa salah satu tantenya Ibu berpulang. Keluarga Ibu memang cukup unik, beberapa generasi punya jarak usia yang dekat padahal secara silsilah seharusnya tidak. Seperti Ibu yang punya beberapa tante seumuran (adik dari mamanya Ibu), juga saya yang punya paman seumuran (adik dari Ibu), begitupun Saka yang punya tante seumuran (karena saya punya adik dengan jarak umur 21 tahun). Silsilah unik ini membuat anak-anak dari para tante kadang lebih muda dari anak keponakannya. Bingung kan? Begitulah. 

Tapi mungkin itu juga yang membuat kami akrab, lebih akrab dari pada hubungan saya dengan keluarga Ayah. Tetapi mungkin ini fenomena yang cukup lazim ya. Keluarga Ibu lebih approachable daripada keluarga Ayah. 

Anyway, singkat cerita kami kemarin pergi melayat. Entah apa yang menggerakkan saya untuk pergi ke pemakaman. Padahal dalam 6 tahun terakhir, saya hampir tidak pernah datang mengunjungi rumah duka, kecuali Ayah dan Abah (orangtua Ibu). Rasanya selalu ada hal yang menahan saya untuk pergi, meski tidak jarang juga kesempatannya memang tidak ada.

Lain dengan kemarin, pekerjaan saya sudah selesai, ada yang bisa mengantar, dan jarak rumah duka yang masih possible untuk membawa 2 anak-anak. Jadilah kami bergegas menuju rumah tinggal dan peristirahatan terakhir nenek 'dari pinggir' saya itu. Yang pergi dengan sangat cepat, tanpa aba-aba. Meninggalkan satu anak angkatnya, perempuan muda yang baru lulus kuliah, sedang berusaha mandiri dengan segala bakat dan keahliannya. Dan seorang suami yang sangat taat beribadah, yang selalu hangat menyambut saya dan keluarga.

Selama di masjid melihat jenazah disholatkan, diantarkan ke makam dengan berjalan kaki, pikiran saya berlarian kesana kemari. Melihat sunyinya suasana hari itu, hanya ada beberapa orang yang mungkin bisa dihitung jari dua-tiga orang saja. Tenda sederhana dipasang beserta kursi plastik hasil meminjam dari tetangga, beberapa orang bergantian datang dan menyalami keluarga. Begitu cepat semuanya mulai dari informasi masuk rumah sakit, kritis, membaik, meninggal, hingga disemayamkan. Begitu cepatkah dunia selesai jika memang sudah waktunya? 

Saya sering bercanda sama Bangkit kalau ia sedang kerja sampai lembur atau di hari libur, "Nyari apa sih di dunia ini?", "Duniawi banget Bapak satu ini", disambut tawa dan jawaban iseng. Tapi kemarin saya tertegun mengingat pertanyaan saya sendiri, sedang apa sih saya di dunia yang ternyata singkat ini? Kalau semuanya sudah harus selesai, toh secepat itu juga selesainya, kenapa saya sering khawatir berlebihan? Padahal hidup ya sudah begitu saja, bisa selesai kapan saja kalau yang 'punya' sudah berkehendak. 

Memang betul menghadiri pemakaman itu hikmahnya untuk pengingat bahwa kematian itu dekat, dan dunia ini memang sementara. Namun yang pasti, sambil menunggu giliran, sepertinya saya harus segera mengambil kelas mengurus jenazah, karena ingatan saat praktikum ujian akhir sekolah dasar dulu sudah menguap entah ke mana.