Belum lama saya membaca narasinya mbak @lei. Iya tentang lemon. Saya yang sok akrab dan sok positif, kasih komentar cliche, "make lemonade". Sekarang saya mau tarik kata-kata itu sebab hari ini entah bagaimana saya tidak setuju dengan kalimat itu hahaha. Saya juga akan kutip kalimat lain di bawah ini:
“Life is not a problem to be solved, but a reality to be experienced.” - (Søren Kierkegaard)
Sepertinya ini juga suatu hal yang positif untuk diucapkan. Pada kenyataannya, engga gitu-gitu amat! Memang enak sih mengatakan itu. Mungkin Søren Kierkegaard mengatakan kalimat di atas ketika kehidupan yang dia jalani sedang berlangsung dengan sangat baik dan mulus. Dia mungkin akan berkata lain ketika hidup itu tidak habis-habisnya didera dengan berbagai masalah.
Coba seandainya pada suatu saat kita sedang dihadapkan dengan berbagai tantangan. Kehilangan pekerjaan, kesulitan finansial, dipaksa untuk pindah dari rumah karena tidak mampu membayar sewa, masalah kesehatan, masalah relasi dan lain sebagainya. Bayangkan jika semua terjadi secara simultan bertubi-tubi seolah-olah masalah kehidupan tidak ada akhirnya. Saya tidak yakin akan dengan mudah mengatakan bahwa kehidupan itu bukan merupakan masalah untuk dipecahkan melainkan kenyataan yang harus dialami. Tidak semudah itu. Siapa yang tidak lelah? Siapa yang tidak merasa putus asa? Siapa yang tidak mempertanyakan tujuan kehidupan?
Masalah dan tantangan kadang muncul terus menerus, seperti gelombang laut yang tiada hentinya, satu ombak disusul dengan yang lain. Batu karang yang kokoh dan keras saja ambrol apalagi manusia yang hanya daging dan tulang? Nah sekarang saya katakan, kalau hidup itu memberikan kita begitu banyak lemon, apa yang harus kita lakukan?
Kita punya pilihan. Siapa juga yang mau membuat lemonade ketika sedang didera banyak hal. Lemonade juga butuh gula! Saya harus ke warung dulu, dan ke warung tidak gratis! Jadi jawabannya tidak harus membuat lemonade! Bagaimana jika lemonnya ga enak? Masa dibuat lemonade? Mungkin akan lebih cocok untuk diperas campur dengan baking soda dan bisa digunakan untuk membersihkan kamar mandi WC, atau sink di dapur! Membersihlan rumah bisa jadi semacam distraksi untuk menjauh dari tantangan untuk sementara.
Hari ini sepertinya saya tidak sedang terlalu positif. Semalam saya sulit tidur, sama sekali tidak nyenyak. Obrolan saya semalam juga agak gelap. Saya bisa saja berdalih bahwa mood swing gara-gara hashimoto sedang kumat, tapi buat apa berdalih, tidak berguna. Kebetulan saja yang ada dalam benak saya saat ini bernuansa negatif, ya sudah hadapi saja.
Kembali ke obrolan pagi ini. Menghadapi berbagai masalah dalam hidup memang melelahkan, sangat menantang dan disheartening, siapa sih yang tidak pernah menghadapi tantangan dalam hidup? Semuanya merupakan bagian dari kenyataan dalam hidup. Ups and downs dalam hidup itu normal karena keseharian kita memang diisi dengan kegembiraan dan tantangan, kadang menangis kadang penuh dengan senyuman. Tidak ada seorangpun yang imun terhadap semua itu. Normal, biasa, dan bagian dari pengalaman kehidupan. Hmmm... sampai sini perkataan Søren Kierkegaard ternyata ada benarnya juga ya.
Manusia juga memiliki yang dinamakan dengan perception bias. Ketika kita sedang dihadapkan pada masalah terus menerus, semua kejadian itu dapat memberikan mindset yang negatif, membuat kita terus menerus berpikir bahwa kesulitan tidak pernah berakhir dan kita terus menerus digempur dengan ketidakberuntungan. Itu semua membuat kita lebih terfokus pada hal-hal yang negatif sehingga melupakan hal-hal positif. "Kok sial terus sih? Padahal saya ga pernah nipu, ga pernah ngejahatin orang." Pernah berpendapat begitu? Hidup memang tidak jarang sangat melelahkan.
Mindset dan resilien memiliki peran yang sangat penting dalam menerima, mengerti dan menghadapi tantangan hidup. Mengembangkan mindset yg positif dan meningkatkan daya tahan melalui perawatan diri, refleksi dan perkembangan pribadi disinyalir dapat membantu kita dalam menghadapi tantangan secara lebih efektif.
Hal lain yang penting juga adalah support dari para sahabat dan keluarga. Perasaan bahwa kita tidak sendirian memberikan kekuatan yang luar biasa. Itu saya alami ketika sedang jatuh bangun di rantau. Sahabat dan teman kadang terasa jauh lebih dekat dan mendukung bahkan daripada keluarga sendiri.
Pada intinya, menyesuaikan dengan pikiran hari ini tentang lemon, kita memiliki banyak opsi. Lemon tidak harus dibuat lemonade hahaha... bisa ya terima saja sebagai lemon. Tidak wajib membuat tantangan menjadi hal positif. Kenapa harus selalu mengubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang baik? Kadang kita begitu lelah dan tidak lagi memiliki energi yang cukup, mungkin kita cukup duduk diam dan membiarkan lemon lemon itu bersama kita. Adakalanya kita memang harus dapat menerima kondisi yang buruk tanpa berbuat apa-apa. Menerima dan merangkul kondisi buruk justru menunjukkan kedewasaan kita.
Nanti ketika energi kita sudah kembali, mungkin lebih enak membuat lemon cheese cake atau lemon bar. Itu lebih enak karena lemonade terlalu mudah! Kita perlu sekali kali menantang diri. Karena saya selalu ingat pedoman dan moto hidup yang saya pegang teguh: I don't want to be easy, but I want to be worth it! Hehehehe..
Foto credit: taste.com.au
Om Joee!! Kereenn sekali POV-nya, seru dan bikin merenung sambil sekali2 terkekeh 😄 bener juga, kadang lemon biarin aja suruh ngumpul dulu utk bikin sesuatu yang lebih wow! Atau, gimana kalo kita throw those lemons back at life? biar tau rasa dia! 🤣🤣🤣
hahaha.. iya bener juga ya.. kita balas. Masa kita terus yg kebagian lemons? hahahah