AES 1107 Haru
joefelus
Thursday June 6 2024, 9:41 AM
AES 1107 Haru

"What's that? Wow.. you bought us breakfast?" Kata Sam, rekan kerja saya.

"Here, Jo! You have bacon!" Kata boss saya sambil menyodorkan 2 buah kantong kertas berwarna coklat. Di kantong itu ada satu kontainer fries dan di kantong satunya sebuah breakfast sandwich. Sebetulnya saya sudah membawa bekal untuk sarapan pagi ini. Tadi pagi saya bangun awal seperti biasa, mengeluarkan antibiotik dari kulkas lalu mandi dan sesudah memberikan antibiotik untuk Nina satu jam kemudian, saya menyiapkan bekal. Membuat kopi, merebus telur dan membuat 2 buah ham and cheese croissant sandwich.

Saya masukkan sandwich yang saya buat tadi pagi ke dalam laci dan mulai sarapan. Fries dari kedai makanan cepat yang diberikan boss ternyata berbeda bentuknya, bukan shoestring, bukan curly, bukan steak fries dan juga bukan crinkle cuts, ini hampir seperti wedges tapi tipis. Enak sebetulnya hanya saja lidah saya dapat merasakan minyak yang mereka pergunakan sudah mulai jenuh dan perlu diganti dengan yang baru. Ya, seperti sering saya ceritakan mempunyai lidah seperti saya adalah blessing tapi sekaligus juga curse. Blessing karena saya dapat menikmati makanan dengan apresiasi yang jauh lebih baik dari orang lain karena saya dapat merasakan secara detail, tinggal otak saya yang berlu belajar memilah setiap bahan dan bumbu yang digunakan. Curse karena saya juga dapat merasakan jika ada kekurangan, dapat mengetahui kualitas bahan makanan bahkan minyak yang digunakan.

Sandiwch yang boss sediakan merupakan english muffins, dengan telur mata sapi dan 2 lembar bacon. Menu khas sarapan dari kedai cepat saji di Amerika. English muffinnya agak keras menurut saya, baconnya juga kurang renyah, tapi namanya makanan gratis saya terima dengan penuh rasa terima kasih. Ini sarapan yang buat saya sangat berat, kemungkinan saya harus skip makan siang karena akan butuh waktu lama hingga nanti saya merasa lapar lagi.

Sambil melahap sarapan saya mulai mengingat sebuah cuplikan video yang saya lihat tadi pagi menjelang waktu mandi. Ada seorang ibu dengan 2 anak, yang satu menjelang remaja dan yang satu lagi lebih kecil. Mereka berada di sebuah toko perhiasan dan berusaha menjual cincin milik si ibu. Ibu itu memohon-mohon dan berkata bahwa dia tidak punya uang dan harus bisa menjual cincinnya agar mereka bisa menggunakannya untuk membeli makanan. Seorang pria yang masih sangat muda melayani mereka. Menimang-nimang cincin itu dan mengambil sebuah kaca pembesar yang bentuknya khas untuk perhiasan dan ditempelkan di salah satu matanya.

Saya tidak bisa mendengarkan percakapan mereka, tapi kemudian pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa lembar uang, menghitungnya dan memberikan pada si ibu yang terlihat membungkuk-bungkuk mengucapkan terima kasih. Tidak hanya itu, sesudah pria itu memberikan uangnya, dia mengembalikan cincin itu pada si ibu. Ibu itu terlihat terpana, terkejut dan menolak cincin itu. Kedua anaknya memandang terpukau dengan mata terbelalak karena tidak percaya atau malah tidak mengerti mengapa pria itu memberikan cincin itu kembali kepada ibunya. Ibu itu kemudian menangis dengan terharu, dan memeluk pria itu. Kedua anak mereka juga kemudian memeluk pria itu. Tanpa terasa air mata saya mengalir. Terharu.

Perjalanan hidup manusia itu sangat menarik. saya termasuknya orang yang beruntung karena mengalami banyak petualangan dari sejak kecil hingga kini. Banyak peristiwa yang bagi saya tidak terlupakan bahkan menjadi semacam tumpuan untuk membentuk masa depan saya.

Video yang saya saksikan itu mengingatkan kembali pada masa kecil. Saya sangat dekat dengan ibu dan saya mengetahui dan mengerti perjuangan yang beliau hadapi karena tekanan kemiskinan. Saya menyaksikan bagaimana ibu harus mengorbankan banyak hal termasuk harga dirinya untuk dapat menghidupi keluarga. Ketika ayah saya belum berhasil menyediakan makanan di atas meja, ibu saya mempunyai cara yang luar biasa untuk dapat tetap menyediakan makanan untuk semua orang. Saya saksinya dan itu yang membuat batin serta tekad saya kuat untuk dapat berusaha lebih keras dan lebih baik agar keturunan saya nanti tidak perlu mengalami apa yang saya alami dan saya rasakan semasa kecil. Ibu saya adalah sosok wanita yang sangat tegar dan "sakti"! Sakti saya katakan karena beliau dapat menyulap dompet yang kosong menjadi makanan di atas meja. Ya, video yang saya saksikan pagi ini bagaikan mesin waktu yang mengajak saya kembali ke masa kecil. Saya ingat bagaimana perasaan tersayat-sayat ketika menjadi saksi keterbatasan. Kalaupun saya mencucurkan air mata, bukan semata-mata terharu akan kebaikan pria itu, tapi juga merasa seolah-olah menjadi salah satu anak di film itu. Karena pada dasarnya saya pernah berada di situasi seperti itu.

Apakah saya menyesali nasib ketika masih kecil? Tidak! Memang itu harus saya lalui. Tanpa itu saya tidak akan menjadi seperti saat ini. Tanpa itu saya tidak akan menjadi orang yang kuat dan bertekad untuk melepaskan diri dari belenggu keterbatasan. Oh, hidup saya tidak pernah berlebihan, bahkan saya pernah juga terperosok ke dalam kekurangan, tapi tekad bulat saya untuk menjaga agar anak saya tidak perlu menyaksikan yang saya alami dapat tetap terus terjaga. Yang saya tanamkan adalah apresiasi, dan rasa syukur bahwa kecukupan adalah anugerah luar biasa dalam hidup. Kano mengerti itu. Buat saya itu sudah lebih dari cukup bahkan ini adalah hal yang luar biasa.

Foto credit: ebay.com