AES 203 Langsung ?
leoamurist
Friday March 18 2022, 10:09 PM
AES 203 Langsung ?

Ternyata, tidak hanya di kalangan pe-mula saja. Dalam lingkup para pe-nengah & peng-akhir pun masih banyak yang melihat komunikasi langsung sebagai tatap muka mengadu kata.

Bahkan sampai begitu kentalnya mengorbankan diri pada definisi bahwa komunikasi langsung adalah berbicara langsung berhadapan. Melupakan bahwa itu hanya bisa terjadi kalau keduanya bersepakat untuk saling mendengarkan.

Sedangkan pada polanya yang sering kejadian adalah, keduanya saling memaparkan pembenaran dirinya masing-masing.

Kalau sudah begitu sih, bukan komunikasi langsung. Malahan membuyarkan keberlangsungan komunikasi.

Karena satu kata seringkali dibalas satu paragraf. Dan itu, hanyalah kata & kata-kata saja.

Kata & kata-kata itu sendiri pun bukan komunikasi langsung. Malahan lebih langsung gestur, mimik, intonasi, dan rekam jejak dari yang berkata-kata.

Bayangkan, dua orang berhadapan berkata-kata. Satu memberikan pendapatnya, yang satu lagi membantah dengan teorinya. Keduanya mencari celah pembenaran masing-masing. Berputar-putar melalui kata, tiga jam berlalu percuma karena yang ada hanya pemakluman.

Walaupun dibilangnya itu adalah pemaknaan, yaa..benar juga, karena pemaknaan adalah pemakluman. Apa yang dimaklumi?

Gestur menolak walau berkata sepakat. Mimik menghindari walau berkata setuju. Intonasi menutup pendengaran walau berbicara iya. Rekam jejak kontradiktif dengan yang dikatakannya. Semacam, bilang tidak peduli dengan mimik tegang. Seperti bilang tidak membawa perasaan dengan intonasi tinggi.

Kalau sudah begini, apakah komunikasi langsung sama dengan berbincang berhadapan selama berjam-jam dengan dominasi pembenaran lewat kata-kata yang kontradiktif dengan gestur & mimik?

Sepertinya bukan begitu. Malahan yang lebih mendekati definisi komunikasi langsung adalah keputusan untuk berdialog lebih lanjut lebih mendalam dan lebih terarah atau tidak. Setelah melihat gestur, mimik, intonasi, dan rekam jejak.

Tiga jam terlalu berharga kalau hanya untuk mendengarkan monolog meluas pembelaan diri. Karena esensi dari komunikasi langsung adalah pengerucutan kata kepada lini masa tindak lanjutnya berdasarkan kesepakatan untuk saling mendengarkan.

Yang syarat pertamanya adalah menerima semua penilaian dan mengesampingkan hasrat pembenaran. Syarat yang lagi-lagi terlihat dari gestur, mimik, intonasi, dan rekam jejaknya.

You May Also Like