Menjadi perusak atau penjaga,
Saling mangasihi atau saling menyalahi.
Hari ini, aku menemukan sebuah unggahan menarik di Youtube Short yang membuatku penasaran. Postingan tersebut mengungkapkan tentang ditemukannya jamur pemakan plastik di laut, dengan caption yang sangat menginspirasi: "Bumi menyembuhkan dirinya sendiri".
Aku mencari beberapa referensi artikel untuk memvalidasi informasi tersebut dan ternyata, aku memang ketinggalan berita! Jamur pemakan plastik ini sebenarnya sudah ditemukan sejak pertengahan tahun 2024. Menarik! Di tengah krisis pencemaran plastik yang semakin mengkhawatirkan, sebuah penemuan mengejutkan datang dari lautan.
Penemuan ini membangkitkan ingatanku tentang film dokumenter Pulau Plastik, yang mengungkap realitas pahit tentang bagaimana negara-negara maju menjadikan Indonesia sebagai tempat pembuangan sampah plastik mereka. Film ini menyoroti betapa rapuhnya regulasi yang mengatur impor sampah plastik dan bagaimana limbah tersebut mencemari tanah air kita, baik di daratan maupun di lautan.
Lebih dari sekadar sampah yang menggunung, ancaman terbesar plastik adalah mikroplastik sebuah partikel kecil yang tidak kasat mata tetapi telah menyusup ke rantai makanan kita. Dalam film Pulau Plastik, hasil uji laboratorium menemukan mikroplastik dalam tubuh ikan kakap yang dikonsumsi manusia, bahkan dalam feses manusia sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa tanpa disadari, kita telah memakan sampah kita sendiri.
Alam dan Manusia: Siapa yang Lebih Membutuhkan?
Kembali ke unggahan tentang jamur pemakan plastik tadi, komentar-komentar pada unggahan tersebut cukup menarik perhatian. Ada yang berpendapat bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari siklus ekologi, bahwa bumi tidak membutuhkan kita untuk bertahan. Sebaliknya, manusialah yang sangat bergantung pada keseimbangan alam. Namun, ada juga yang menolak pendapat itu dengan angkuh, seolah-olah manusia adalah pusat dari segala kehidupan.
Aku teringat kata-kata bijak dari Mama di Papua: "Kalau kita baik ke alam, alam pasti baik ke kita." Sebuah kalimat sederhana namun penuh makna. Ini bukan soal siapa yang lebih berkuasa atau siapa yang lebih membutuhkan, melainkan soal kesadaran akan hubungan "saling" antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tanggung Jawab Kita sebagai Makhluk Berakal
Sebagai makhluk yang dikaruniai akal, kita memiliki tiga hubungan utama yang harus dijaga:
Alam tidak memerlukan manusia untuk bertahan, tetapi manusia membutuhkan alam untuk hidup. Jika kita terus mengotori dan merusaknya, jangan berharap jamur pemakan plastik akan menjadi solusi ajaib yang menyelamatkan kita dari krisis yang kita ciptakan sendiri.
Jadi, apakah jamur pemakan plastik ini adalah harapan baru atau sekadar pengingat bahwa kita telah gagal menjaga rumah kita sendiri? Jawabannya ada pada pilihan kita: menjadi perusak atau penjaga, saling mangasihi atau saling menyalahi.