Sosial media sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Menurut Forbes, orang Amerika rata-rata menghabiskan 1300 jam tahun lalu! Entah sekedar melihat unggahan di Facebook, Instagram, Twitter atau tiktok atau secara aktif sebagai pengguna. Ya, media sosial sudah begitu merasuki hampir setiap orang dalam keseharian hidupnya.
Mengapa orang gemar mengunggah sesuatu di media sosial? apa yang menarik minat mereka untuk melakukan itu? Bagaimana dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Sudah banyak sekali para ahli melakukan penelitian tentang hal ini. Ada yang mengatakan dalam penelitian mereka bahwa teori Abraham Maslow tentang hirarki kebutuhan manusia cocok dengan kondisi yang terjadi dalam kaitannya dengan media sosial. Saya akan obrolkan di akhir esai saya ini.
Mengikuti tren media sosial itu menarik, kadang bisa menghibur tapi juga seringkali menggangu, apalagi kalau soal diskusi yang terjadi di dunia maya ini. Sepertinya masyarakat tidak takut mengekspresikan dirinya di media sosial dibandingkan dengan di depan publik in person dan ini seringkali menjadi bumerang bagi mereka sendiri sebab kadang suka bablas dan lepas kendali lalu ujung-ujungnya mereka harus mengahadapi konsekuensinya.
Seperti misalnya contoh berikut ini; Beberapa hari lalu saya melihat sebuah unggahan oleh salah satu teman saya. Putranya mempunyai bisnis membuat kue, kerennya dia masih belasan tahun umurnya, masih SMP kalau tidak salah. Dia membuat kue untuk sebuah acara haul keluarga terkemuka. Kuenya dibuat dengan keren dan bagian bawahnya menggunakan dummy dari styrofoam. Acara selesai, oleh asisten rumah tangga keluarga itu kuenya diunggah di tiktok, dia bilang beli kue mahal-mahal tapi kecewa karena ternyata ditipu, kuenya dari mikrofon! (Dia salah menyebut styrofoam jadi mikrofon, maklum karena mungkin pengetahuan dia kurang cukup) Tiktok unggahannya jadi viral karena penggunaan kata mikrofon itu hahaha.. Banyak dibagikan ulang bahkan diulas di surat kabar online. Ujung-ujungnya unggahan dihapus walau sudah terlanjur dan terlambat, lalu dia mengunggah ucapan permintaan maaf! Untung dia tidak digugat, kalau tidak tentu dia harus menghadapi proses hukum.
Di atas hanya sebuah contoh. Banyak kasus yang berujung menjadi masalah hukum karena unggahan yang bablas seperti itu, dan kejadian semacam ini terjadi di mana-mana. Saya tidak tahu sampai kapan. Banyak orang yang tidak belajar dari pengalaman orang lain dan tetap mengunggah sesuatu yang kontroversial yang kemudian harus menghadapi konsekuensinya. Kenapa demikian?
Orang banyak mengunggah sesuatu sepertinya karena ada reward yang mereka peroleh dari reaksi mesyarakat. Semakin banyak "like" maka semakin mereka bersemangat. Ada semacam kebutuhan yang dapat terpuaskan dengan menikmati reward yang diterima. Dan itu memang sedikit banyak terjawab jika mengingat kembali hirarki kebutuhan yang diungkapkan oleh Maslow. Orang menggunggah sesuatu sebetulnya ingin merasakan sebuah penerimaan sosial dari kelompok-kelompok sosial tertentu, mereka juga mempunyai kebutuhan psikologis dengan cara menggunggah sesuatu, misalnya kondisi kesehatan anggota keluarga. Dengan mendapat respons yang baik, secara psikologis mereka memperoleh benefit dengan merasa bahwa banyak pihak yang mendukung dan menghibur.
Mereka juga mengunggah sesuatu demi self esteem. Rewards berupa respons dari masyarakat mentrigger bagian otak tertentu yang memberikan semacam rasa kepuasan dan juga meningkatkan "harga" dari dirinya (self esteem tadi). Salah satu bentuk self actualization dalam hirarki kebutuhkan juga diperoleh dengan cara mengunggah kesuksesan atau keberhasilan mereka akan sesuatu.
Tidak ada salahnya dengan sosial media, justru jika dipikir-pikir kita bisa terhubung dengan banyak orang melalui media ini. Ini semacam dunia lain yang membuat manusia terhubung satu sama lain walau tidak secara fisik. Menarik sekali jika dipikirkan, walau dampak buruknya juga tidak sedikit karena perlu banyak filter yang harus dipasang agar ledakan informasi ini dapat tersaring dengan baik sebab salah-salah kita terjebak dalam sebuah kondisi yang palsu, yang salah dan menyesatkan. Nah dalam hal ini memang kedewasaan dan cukupnya pengetahuan sangat dibutuhkan.***