AES12 Sebuah Renungan tentang #Indonesiagelap dan #kaburajadulu
Asa
Thursday March 6 2025, 9:00 PM
AES12 Sebuah Renungan tentang #Indonesiagelap dan #kaburajadulu

Akhir-akhir ini, negeri kita tercinta tengah dilanda hiruk-pikuk yang menciptakan kegelisahan di hati banyak orang. Tagar #Indonesiagelap dan #kaburajadulu menghiasi ruang digital, seolah menggambarkan suasana hati masyarakat yang semakin resah dan kelelahan menghadapi kenyataan pahit yang tak kunjung membaik. Namun, apakah melarikan diri dari kenyataan adalah jawaban terbaik bagi kita?

Dalam bahasa sehari-hari, "kabur" sering kali dipahami sebagai tindakan menghindar, meninggalkan tanggung jawab, atau bahkan melarikan diri dari masalah yang menekan. Tak jarang, kata ini juga diartikan sebagai simbol keputusasaan dan kekalahan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai berpikir apakah benar kabur adalah solusi terbaik? Saat segala sesuatu terasa semakin suram dan menyesakkan, apakah kita akan mundur begitu saja tanpa berusaha untuk tetap bertahan?

Barangkali, apa yang kita butuhkan bukanlah "kabur," melainkan "tinggal." Menunggu dengan sabar sambil tetap berusaha sebaik mungkin untuk mengubah keadaan. Bagaimana jika kita mengubah tagar itu menjadi #Tinggalajadulu? Karena, pada akhirnya, jika bukan kita, siapa lagi yang akan berjuang untuk negeri ini?

Belum lama ini, polemik mengenai efisiensi anggaran dan Pertamax oplosan kembali menyulut kemarahan masyarakat. Bagaimana tidak, ketika sudah dibohongi oleh kenyataan, kita seolah dipaksa untuk terus mencintai berulang. Pernyataan dari Kejaksaan Agung yang menyarankan kita untuk "cintai produk lokal" seolah menambah luka di hati. Bukankah itu seperti disuruh untuk tetap mencintai sesuatu yang sudah menyakiti kita berkali-kali?

Memang, tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa kita sering dipaksa untuk mencintai sesuatu yang merugikan kita. Ini seperti cinta yang terpaksa dipertahankan meskipun penuh dengan luka. Terkadang, kita merasa terjebak dalam situasi yang tidak adil, di mana suara kita seolah tidak terdengar dan segala usaha kita terasa sia-sia.

Namun, meskipun terasa sakit, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah melarikan diri adalah pilihan yang benar? Ataukah kita justru harus bertahan, meskipun dengan hati yang penuh luka, untuk memperjuangkan perubahan yang lebih baik bagi bangsa ini?

Dalam hidup, tak ada yang pasti. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Namun, apakah itu berarti kita harus berhenti berusaha? Tidak ada yang bisa menjamin bahwa segala usaha kita akan membuahkan hasil, namun bukankah setiap langkah yang diambil, sekecil apapun, adalah bagian dari perjuangan kita?

Ketika dunia terasa gelap dan harapan mulai pudar, justru di saat itulah kita perlu mencari cahaya di dalam diri sendiri. Mungkin kita tidak dapat mengubah segalanya sekaligus, tetapi kita bisa mulai dengan berbuat baik dalam lingkup kecil, memperjuangkan hal-hal yang benar, dan tetap berharap meski kadang harapan itu terlihat kabur.

Jangan lari, jangan kabur. Tinggallah, berjuanglah, dan berikan yang terbaik untuk tanah air yang kita cintai ini. Jika kita tidak bertahan, siapa lagi yang akan melakukannya?

Seperti kata pepatah, "Jika tidak ada yang mau menjadi cahaya, maka kita harus berani menjadi cahaya itu." Tidak ada perjuangan yang sia-sia, dan setiap langkah kecil kita akan berbuah besar di masa depan.

Andy Sutioso
@kak-andy   last year
Suka baca pemikiran Asa tentang ini. Saya juga bersepakat... Seperti kata bijak yang bilang, daripada mengutuk kegelapan, mari kita menyalakan lilin... 🕯️
Asa
@asa   last year
Terima kasih, Kak Andy.🙏🏻🕯️