Adalah pertanyaan yang disampaikan alumni kapebe, saat reunian angkatan pertama. Bukan ditanyakan, disampaikan. Kata mereka, lima we satu ha itu kurang for. What for, why for, how for, who for, when for.
Biar ga kejebak, why what how who when where. Kalau terjebak jadinya diskursus, padahal kita mau latihan retorika. Memang pemaknaan itu penting, makanya perlu dilebihi dengan pemanfaatan.
“Biar gak kelamaan tanya-tanya yang hanya memuaskan hasrat meruminasi pemikiran sendiri aja kak.” Ini saya parafrase-in komentarnya.
“Kapan geraknya, keburu ketinggalan kereta kayak saya dulu. Memang ada kereta selanjutnya, hanya kan ibu jualan colenak ada di kereta pagi.” Kalau ini bukan parafrase, saya metafora-in.
Yapp.. bahkan for yang remeh adalah for yang valid. Perjalanan ke provinsi sebelah dengan kereta pagi, untuk jajan colenak di kereta ekonomi pagi. Ini, saya fiksi-in.
Gak perlu rasionalisasi berlebihan. Jadi kayak naik motor yang spionnya lebih besar daripada ban. Maju sih, hanya sampainya kapan. Untuk… (when for)