Candles in the window
Shadows painting the ceiling
Gazing at the fire glow
Feeling that gingerbread feeling
Precious moments
Special people
Happy faces
I can see
Somewhere in my memory
Christmas joys all around me
Living in my memory
All of the music, all of the magic
All of the family home here with me
Di luar hujan terus menerus turun bergemericik, tidak terlalu lebat, tapi suaranya sangat menghipnotis. Di speaker kecil di hadapan saya mengalun lagu karangan John Williams, Somewhere In My Memory, salah satu lagu yang terkenal dari film Home Alone, kalau tidak salah tahun 1990.
Kebiasaan saya selama bertahun-tahun, mulai menikmati lagu-lagu Natal sejak awal bulan Nopember. Alasannya sederhana, dan saya selalu mengatakan itu, yaitu, masa penantian Natal jauh lebih menarik bagi saya daripada Natal itu sendiri. Sensasi yang saya rasakan selama masa menjelang Natal jauh lebih menyenangkan, sebab ketika Natal tiba, dan usai, lalu semuanya pun lenyap begitu saja. Dengan menikmati masa penantian, saya dapat merasakan suasana Natal dengan jauh lebih sempurna dan tentunya lebih lama.
Yang tidak masuk akal memang masalah tempat. Di Indonesia gaungnya belum terasa, bahkan sangat minim, sementara di tempat yang pernah saya tinggali di sana, seperti saya katakan beberapa hari yang lalu, sesudah halloween usai, semua tempat bisnis seperti supermarket dan mall mulai berhias diri dengan suasana Natal dan Thanksgiving. Coba saja misalnya ke Ace Hardware, disana sudah mulai dijual hiasan-hiasan Natal. Itu salah satu contohnya. Nah di Amerika hampir semua toko mulai bersaing untuk memperkenalkan banyak ornamen-ornamen Natal, tentunya karena alasan bisnis. Tapi bagi saya itu semua seru.
Kota Fort Collins, di daerah pusat kota, di Downtown, sesudah Halloween langsung bermandikan cahaya. Biasanya ada upacara di hari Jumat pertama bulan Nopember. Upacara penyalahan lampu-lampu hias yang dipasang disemua pohon yang ada di sana. Ribuan anggota masyarakat berbondong-bondong ke sana, jalanan bahkan ditutup sementara karena semua orang membludak. Mulai hari itu suasana Natal sudah mulai terasa.
Nah yang saya rasakan di Bandung justru malah keanehan hahaha. Kalau masakan mungkin istilahnya cemplang atau cawerang! Ada yang salah atau ada yang kurang. Yang sederhana saja, lagu lagu yang saya dengarkan misalnya syairnya begini:
Chestnuts roasting on an open fire
Jack Frost nipping at your nose
Yuletide carols being sung by a choir
And folks dressed up like Eskimos
Everybody knows a turkey and some mistletoe
Help to make the season bright
Tiny tots with their eyes all aglow
Will find it hard to sleep tonight
Nah di sana memang terjadi peristiwa seperti itu. Pada musim gugur chesnut banyak dijual, dan enak sekali jika dipanggang, manis, mirip ubi cilembu tanpa bau ubi hahaha., Nah lalu udara yang dingin membuat hidung dan telinga kita yang seringkali tidak tertutup merasakan terpaan cuaca, sementara semua orang mulai menggenakan pakaian tebal seperti eskimo. Lalu cerita berlanjut dengan kalkun dan seterusnya. Semua itu ada dan dialami setiap tahun menjelang Natal.
Di Bandung ya jelas beda. Sama seperti di Australia, Natal di Australia dirayakan di musim Panas! Di Indonesia di musim hujan! Tidak sama. Seperti halnya di Hawaii, yang sama seperti Indonesia merupakan daerah tropis, walau memang chesnut dijual di sana, tapi suasana berbeda. Seperti di sebagian syair lagu Mele Kalikimaka yang dinyanyikan oleh Bing Crosby : Here we know that Christmas will be green and bright.The sun will shine by day and all the stars at night
Mele Kalikimaka is Hawaii's way to say Merry Christmas to you.
Bagaimana di Bandung? Wajar saja tidak terdengar gaungnya karena yang merayakan Natal hanya sekelompok kecil kurang dari 10% penduduk Indonesia. Tapi walau bagaimana, saya ingin menikmatinya semaksimal mungkin. Toh bukan kondisi dan situasi fisik yang penting tapi apa yang ada di hati.