AES 1457 Memanipulasi Rasa Lapar
joefelus
Tuesday September 2 2025, 8:43 AM
AES 1457 Memanipulasi Rasa Lapar

Tubuh masih berkeringat, tapi suasana hati yang begitu positif membuat saya begitu bahagia dan tentunya tubuh terasa sangat segar. Sudah 4 hari terakhir ini setiap pagi saya berolahraga, keliling kompleks naik turun jalan yang curam. Saya belum berani berlari. Saya masih ingat seorang professor yang saya kenal baik, orang Italia dan sangat ramah serta down to earth, sering hang out dengan para mahasiswanya. Beliau pergi menghadap Yang Kuasa ketika sedang berlari. Saat itu usianya  jauh lebih muda dibandingkan dengan usia saya sekarang. Nah mengingat itu saya menjadi berhati-hati dan tidak memaksakan diri. Semenjak saya kembali rajin berolah raga dan mengatur gaya hidup serta makanan, tekanan darah saya sudah jauh membaik, kadang masih sedikit di atas normal, tapi bukan lagi di rentang stadium 2. Saya bersyukur dan menjadi lebih bersemangat membenahi gaya hidup.

Harum kopi yang baru saja saya buat menemani pagi ini sambil beristirahat. Dulu biasa sarapan saya besar, di Bandung saya senang nasi kuning, kupat tahu, atau soto ayam sedangkan di Fort Collins saya senang pancake, bacon, over easy eggs dan link sausages. Porsi sarapan di Bandung lumayan lah, tapi jika melihat sarapan khas di Amerika, porsinya luar biasa besar. Pancake selebar piring 3 buah, sosis 2 buah, telur mata sapi 2 buah, bacon 3 lembar dan kadang masih diberi toast yang boleh kita pilih, roti tawar biasa, roti gandum, sourdough bahkan ciabatta. Nah bayangkan, entah berapa ribu kalori yang dikonsumsi jika makan semuanya  itu, itu belum termasuk syrup dan butter. Biasanya pancake hanya saya makan 1 buah sisanya saya habiskan dan saya akan kenyang sekali  hingga lewat waktu makan siang. Pagi ini saya hanya minum segelas kopi, sekerat tipis keju dan 2 buah crakers yang berdiameter mungkin sekitar 5cm. Memang saya akan merasa lapar sebelum waktu makan siang, tapi saya sedang melatih tubuh untuk memulai kebiasaan baru.

"Tubuh adalah murid, otak adalah guru." Itu yang ada dalam pikiran saya beberapa hari ini. Rasa lapar adalah pekerjaan otak di bagian hypothalamus yang menerima sinyal dari tubuh. Nah saya sedang melatih otak untuk memberi tahu tubuh saya bahwa sinyal rasa lapar itu adalah informasi yang salah! Otak saya harapkan menjadi guru yang mengajari tubuh sebagai muridnya untuk mengolah informasi yang lebih akurat. Ini mungkin merupakan semacam manipulasi informasi dan ini bukan usaha yang mudah karena saya harus mengkondisikan pikiran terlebih dahulu sebelum otak saya dapat "memberi tahu" pada tubuh bahwa rasa lapar itu adalah informasi yang tidak tepat. Rumit ya? Hahahaha

Mengingat pangalaman masa lalu ketika saya sedang getol-getolnya berolahraga dan menjaga pola makan yang baik sebetulnya tidak sulit selama kita memiliki motivasi. Motivasi melahirkan determinasi. Semakin tinggi motivasinya semakin kuat pula determinasinya dan relatif usaha menjadi semakin mudah. Dulu saya menggunakan perhitungan matematis berapa kalori yang bisa dikonsumsi dan membayangkan beratnya membakar 100 kalori misalnya, maka keinginan untuk makan donat misalnya langsung lenyap. Sepertinya tidak sepadan saya harus berlari sejauh 3 km hanya untuk membakar kalori dari mengkonsumsi Krispy Kreme glazed donut!!! Makan donat hanya 3 menit tapi harus jogging 30 menit. Tidak sepadan. Mengingat itu keinginan saya langsung lenyap.

Rasa lapar memang kerja otak yang terintegrasi dari sinyal yang diberikan tubuh termasuk hormon, level gula darah dan perut yang kosong sehingga mengatur keinginan kita untuk makan. Tapi bagian dari otak kita yang bernama hypotalamus ini memiliki neuron-neuron yang berbeda yang dapat menstimuli juga menekan selera dan napsu makan termasuk mengontrol rasa lapar dan rasa kenyang. Jadi menurut saya rasa lapar ini bisa ditekan dan dimanipulasi. Saya dulu berhasil, jadi lumayan bersemangat untuk mencoba lagi apalagi ini kaitannya demi menjaga kesehatan.

foto credit: goqii.com