Setelah cukup lama tidak berjumpa - terutama karena pandemi, keluarga kami bisa kembali kumpul lengkap, hmm cukup lengkap. Adik saya yang sudah lama tinggal di Jerman bisa kembali pulang ke Indonesia bersama suami dan anak-anaknya. Sepeninggal adik saya yang terkecil tahun 2017 lalu, kami yang sebelumnya berempat - kakak beradik, tinggal bertiga. Kepergian seseorang di keluarga - setidaknya buat saya pribadi sangat mengubah pemaknaan saya tentang keluarga. Begitulah manusia - seringkali mengabaikan hal-hal yang sebetulnya penting. Taking things for granted.
Kedatangan adik saya dan keluarganya ke Bandung. Ayah saya mengusulkan untuk kita semua pergi ke Jawa Tengah untuk berkunjung ke tempat-tempat yang jadi jejak keluarga kami. Salah satunya adalah kota Bandungan, di selatan Semarang. Kakek saya sempat tinggal cukup lama di masa tuanya. Di sana ada keluarga beliau - salah satunya adik oma saya yang dikenal dengan ibu Emmy. Pada jamannya ibu Emmy dikenal banyak orang - karena beliau jadi praktisi pengobatan tradisional (jamu-jamuan) dan banyak menolong warga sekitar untuk berobat. Kenapa saya bilang terkenal - kalau ada yang menulis surat atau mengirimkan sesuatu kepada beliau, cukup dialamatkan dengan Ibu Emmy, Bandungan. Kiriman tersebut pasti sampai ke tangan beliau. Seingat saya oma Emmy ini meninggal dunia pada tahun 1996 - pada saat saya sedang berkuliah di Australia. Beberapa kali ayah dan ibu saya mengajak saya ke Bandungan dan menginap di sana.
Tadi pagi saya bisa berkunjung ke makam beliau. Makam yang sangat sederhana - di dekat kediaman beliau. Menariknya beliau dimakamkan di makam warga setempat yang mayoritas beragama Islam. Sedekat itulah beliau dengan warga sekitar.
Sampai sekarang, nama ibu Emmy masih hidup - walaupun pelanggan Jamu Godog sudah sangat sedikit. Tapi beberapa murid beliau masih meneruskan pelayanan pengobatan beliau sampai sekarang. Tadi kami jumpa dengan mbak Tari yang masih setia menunggui kios Jamu Godog Bu Emmy.
Saya juga sempat mengunjungi rumah tinggal kakek saya yang sudah diserah-terimakan kepada Keuskupan Agung Semarang dan gereja yang dibangun di sekitar kediaman oma Emmy dan kakek saya.
Sudah lama oma Emmy meninggal dunia - tapi nama dan karyanya masih hidup sampai sekarang. Saya bersyukur masih bisa merasakan jejak kehidupannya hari ini. Begitulah sekilas napak tilas yang saya bisa bagikan di ruang ini.