Apa yang disangkal kalau tidak ada yang disangkal, demikianlah penyangkalan adalah pengakuan keberadaan yang paling maksimal. Kamu lapar? Enggak, hanya ingin makan saja. Gak lapar koq.
Beda dengan; Kamu lapar? Belum sih. Tipis ya, setipis kesadaran. Sesadar napas, baru inget setelah baca kata “napas” barusan. Hhmmfffppp… Hhhhhhh… hhmmfffpp… hhhhhhhh… Duh, jadi lapar.
Makan. Kepedesan. Keringatan. Ditanya, “Keringatan gitu, kepedesan?”
”Enggak, gak tau kenapa ini keringatan.”
”Kepedesan sepertinya.”
”Ah, masa iya. Dulu-dulu segini gak kepedesan.”
Yah, kadang kala (atau seringkali ya) , penyangkalan terkental bukan soal meniadakan yang sekarang. Terlalu lekat dengan yang sebelum-sebelumnya saja.
Yang tidak ada itu kan sebenarnya sudah sesuai dengan namanya: tidak ada. Jadi gausah disangkal lagi, malah jadi ada.
Betul yang tidak ada, menjadi ada... Kaya kenal nih alatnya?