AES 003: Proyek Trial KPB - Esai Kebebasan Informasi
Sebastian Owen
Saturday February 1 2025, 6:31 PM
AES 003: Proyek Trial KPB - Esai Kebebasan Informasi

Apa guna kebebasan berpendapat jika tidak dapat mengutarakannya dengan kosakata yang baik? Apakah berguna sistem kami ini 'Demos Cratos' - sistem rakyat berdaulat itu, jika rakyat tersebut tidak mengetahui betul dunia sekitarnya? Apa krisis yang dapat muncul jika orang-orang yang menahkodai kapal bernama INDONESIA ini berlayar dengan buta?

Sedihnya, hal ini bukanlah sebuah hipotesa atau sebuah tinjauan teoritis; kita buta. Buta bukan dalam jumlah kemampuan untuk membaca, bukan buta dalam jumlah bacaan yang kita dapat ambil, tapi ISI, KONTEN, KREATIVITAS, LITERASI yang terdapat dalam tumpukan triliun alfabet yang terbang dalam 'dunia maya'. Kebebasan dan insentif untuk mengambil perspektif baru, untuk berbicara dan menulis dengan bebas dalam ruang diskusi publik.

Seperti banyak hal yang saya utarkan dalam diskusi-diskusi, mungkin kata-kata yang memenuhi kalimat-kalimat tersebut terasa hambar, kosong, abstrak, bahkan omong kosong belaka ala-Owen itu. Tapi, sungguh memprihatinkan adalah tumpukan tulisan dengan isi yang benar-benar hambar dan kosong, dengan omong kosong yang dikatakan lagi demi lagi secara normatif, membentuk lingkaran setan bagai sebuah rezim otoriter dalam fantasi Orwellian 1984 itu.

Sering, saya membaca karena tertarik, karya-karya ilmiah mereka yang duduk dalam institusi pendidikan tinggi yang diimpikan semua orang-orang, dan terus sedihnya melihat jurnal demi jurnal yang mengutip sumber yang sama, menjelaskan konsep dan premise sama, bahkan konklusi yang berakhir sama -- struktur jurnal berakhir tak beda dari guna formalitas dan padang gurun yakni keunikan 'surat dinas', atau apartemen beruntut massal di proyek-proyek konstruksi Jakarta. Hal ini adalah sebuah tonjokan keras terhadap sedikit harapan yang dimiliki diriku tentang masa depan emas Indonesia tercinta ini.

Tapi benarkah? Se-arogan apakah saya yang sekarang duduk di kursi SMP, tak beda jauh umur dengan anak-anak kecil, untuk membantah tulisan siswa-siswi MAHA tinggi itu? Apakah sebenarnya, karya-karya ilmiah yang saya baca tidak representatif, bahkan saya tergolong cherry picking alias mencari masalah yang sebenarnya tidak ada?

Maka, saya bertujuan untuk meninjau kembali prakonsepsi yang menjadi titik awal opini saya, untuk menantang hal-hal yang saya anggap fakta, dan mengikuti jejak lampau melalui perjalanan riset dan wawancara; sejarah pers dan kebebasan informasi di Indonesia, dan membuat sebuah esai yang menjadi hasil dari proses pembelajaran itu, dan bagaimana 1) kondisi dan kemampuan literasi di Indonesia 2) kebebasan dan imparsialitas pers dan informasi di Indonesia 3) apa ada permasalahannya? jika ada, apa sejarah dan akarnya, serta tindak lanjut yang kita secara kolektif perlu lakukan, baik secara institusional maupun secara kultural di Indonesia.

PS: Dalam pertemuan pertama trial KPB itu (lihat: AES 001) perkara yang disebut pada awal teks ini adalah hal pertama yang tiba di benakku saat ditanya 'Dunia Ideal' yang aku impikan, dan sekarang menjadi proyek yang saya kerjakan dimanapun ada waktu. Maka, jika ada buku, referensi, bahkan orang-orang relevan (seperti aktivis, jurnalis, guru nasional dll), tolong bantuannya, karena sangat akan membantu proyek kecil ini :D