Menulis adalah salah satu kegiatan yang cukup lekat dengan saya. Dimulai ketika ibu saya memberikan sebuah buku diary saat saya kecil. Sampul buku tersebut terbuat dari bahan beludru berwarna hijau tua dan di sisi sebelah kanannya terdapat logam berwarna kuning yang diperuntukkan untuk gembok kecil-yang seolah menekankan bahwa buku itu akan menjadi cukup berharga dan personal. Ketika saya membuka buku tersebut, terdapat lembaran kertas bergaris. Di beberapa lembar, terdapat gambar hiasan. Saya cukup antusias dengan buku tersebut, terkesan kuno namun menarik. Apalagi ketika ibu saya bilang, bahwa buku tersebut adalah buku miliknya saat ia masih seumuran dengan saya. Saya pun menulis keseharian saya di buku tersebut.
Tak sampai lembaran buku tersebut terisi penuh, saya mulai tidak rutin menulis. Saya lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang lebih kekinian. Buku tersebut tersimpan dengan rapi di sudut kamar saya. Dilupakan.
Sekali waktu, setelah remaja, saya melihat buku tersebut ketika sedang membersihkan kamar. Saya membukanya dan membaca lembar demi lembar tulisan saya. Saya tertawa melihat tulisan saya yang berantakan, baik dari segi bentuk dan struktur kalimat. Romantisme kenangan masa kecil ini membuat saya cukup tergerak untuk kembali menulis. Apalagi saat itu sedang zamannya film Ada Apa Dengan Cinta, rasa-rasanya setiap orang jadi punya buku curhat. Tapi lagi-lagi setelah trennya pudar, semangat saya pun turut pudar.
Ketika saya duduk di bangku kuliah, tren buku diary mulai digantikan oleh blog. Saya pun ikut-ikutan tren. Tapi kali ini saya tidak lagi menulis tentang keseharian. Saya lebih memilih tema-tema khusus sesuai dengan minat, yaitu: perjalanan. Saya cukup terinspirasi oleh seorang travel blogger yang bernama Trinity Treveller. Kisah-kisahnya membuat saya juga ingin melakukan penjelajahan, perjalanan, petualangan lalu mengabadikannya dalam sebuah tulisan. Minat untuk menuliskan perjalanan, membuat saya menekuni bidang tersebut. Yang tadinya saya kuliah di bidang pertanian, banting stir ke bidang komunikasi, supaya bisa belajar lebih lanjut tentang dunia jurnalistik.
Saat itu saya memiliki tujuan: menjadi reporter di majalah National Geographic.
Tujuan sejuta umat yang memiliki minat yang sama dengan saya. Setiap saya melewati kantor majalah tersebut, saya selalu mengucap harap supaya bisa bekerja di kantor tersebut. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Suatu hari majalah tersebut membuka kesempatan kerja untuk menjadi seorang reporter. Saya pun segera mendaftar. Setelah mengikuti serangkaian proses, saya pun berhasil mencapai apa yang saya inginkan, menjadi bagian dari majalah National Geographic.
Setelah saya menutup karir menjadi seorang jurnalis, saya mulai jarang menulis. Mungkin dengan adanya program Atomic Essay ini, bisa membuat saya semangat untuk menulis kembali. Jika dulu tujuannya ingin menjadi reporter, mungkin sekarang tujuannya untuk bisa menghasilkan karya berupa buku. Apakah saya berhasil mewujudkannya? Kita lihat saja :D