Di luar begitu kelabu. Langit seperti yang diliputi embun dan suhu sangat dingin karena sejak semalam turun salju. Tidak ada matahari. Dalam perjalanan pulang sesudah mengantar Kano ke tempat kerja lalu pergi berenang saya diliputi kesedihan. Tidak hanya karena suasana sendu karena cuaca, tapi juga sejak pagi saya mendapat berita yang membuat hati saya begitu berat diliputi kesedihan. Salah seorang kenalan saya pergi menghadap yang Kahlik.
Sambil mengemudi dan memperhatikan jalanan yang sepi, lengang dan ditutupi warna putih saya bertanya-tanya. Mengapa manusia harus meninggal? Mengapa manusia itu diciptakan? Ada apa dengan semesta jika tidak ada manusia? Mengapa saya ada?
Anugerah berupa kehidupan memang merupakan sebuah misteri yang sangat besar. Kemungkinan besar tidak pernah ada yang dapat menjawab pertanyaan yang sangat esensial ini. Mengapa ada kehidupan? Mengapa manusia harus mati?
Banyak kalangan berusaha menjawab baik secara saintifik, religius - spiritual, akademis, sebut saja semuanya. Apakah ada sebuah jawaban yang memuaskan? Kehidupan dan kematian dua-duanya merupakan misteri yang masih penuh dengan tanda tanya. Kehidupan seolah olah merupakan anugerah sekaligus juga kutukan. Seseorang dilahirkan lalu harus menjalani kehidupan yang kadang atau seringkali penuh dengan penderitaan lalu diakhiri dengan kematian. Untuk apa? Sama halnya dengan kematian yang juga dianggap sebagai berkah tersembunyi, blessing in disguise dan juga sebagai tragedi.
Segala sesuatu yang hidup memang harus diakhiri dengan kematian. Kalau secara sains katanya karena ada yang dinamakan dengan circle of life. Ketika tubuh yang hidup mulai berkurang kemampuannya, mulai menurun kualitasnya, mulai berkurang fungsinya sedikit demi sedikit hingga akhirnya tidak berguna, maka saatnya untuk mengakhiri kehidupan dan mati, karena ketika tidak ada fungsinya lagi, yang terbaik adalah berhenti.
Terserah apa yang diimani atau diyakini, secara spiritual kehidupan dideskripsikan sebagai body (tubuh, raga), mind ( pikiran, cipta) and soul (Roh, suksma, kesadaran). Ketika manusia mati, ada yang meyakini bahwa hanya raga dan tubuh yang mati, sementara suksma, roh dan cipta masih tetap ada. Ada yang meyakini ketika seseorang mati, maka hanya berganti raga. Ada yang meyakini bahwa ketika mati maka yang bersangkutan memasuki dimensi yang berbeda. Sampai kini semua itu hanyalah sebatas keyakinan, hal yang diimani karena tetap tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi sesudah kematian.
Saya masih terus bermain dengan pikiran-pikiran itu. Saya sekali lagi menganggap diri sebagai orang yang spritual, bukan agamis. Saya masih meyakini akan kekuasaan yang lebih tinggi yang mencipta dan mengatur semesta, entah apapun bentuk maupun wujudnya. Sejauh ini saya percaya bahwa saya masih terus dalam perlindungan Yang Kuasa, tempat saya berkeluh kesah, melepaskan semua kerisauan bahkan seringkali menjadi tempat bertanya dan mohon petunjuk jika saya membutuhkan panduan. Sejauh ini bentuk keyakinan seperti ini works for me dan tetap membantu saya agar tetap waras, keep my sanity. Tanpa pegangan seperti ini, belum tentu saya mampu untuk tetap berdiri dan tegar menghadapi segala hal dalam menjalani kehidupan. Apalah artinya seorang "saya" jika tidak ada tempat berpegangan? Tapi kembali akhirnya saya bertanya, kenapa saya hidup? Untuk apa? Karena jawabannya hingga saat ini hanya sebatas menduga-duga. Lalu jika mati, untuk apa? membuat orang-orang yang ditinggalkan menderita, menjadi sebentuk kutukan? Atau justru menjadi anugerah tersembunyi karena lepas dari kesulitan yang saya akibatkan? Terdengar sadis sekali ya? Tapi saya yakin walau terdengar kasar dan tidak tahu terimakasih sekaligus kurang ajar, banyak orang yang mempunyai pertanyaan serupa.
Terus terang saat ini saya hanya menggugat, memberontak karena melihat begitu banyak kesulitan ketika orang-orang yang saya kenal ditinggal seseorang. Bagaimana mereka bisa menghadapi ini semua? Rasa simpati, rasa kasihan dan keprihatinan yang meliputi diri saya begitu kuat sehingga mulai mempertanyakan kehidupan. Untuk apa yang bersangkutan diberi kesempatan untuk hidup tapi kemudian harus meninggalkan mereka yang tergantung padanya? Jadi tujuannya apa? Kehadirannya kemudian meninggalkan tragedi untuk orang lain? Terus terang ini membuat saya sangat terganggu dan kalau mau jujur saya ingin marah dan memaki. Tidakkah lebih baik misalnya saya tidak pernah hadir sama sekali sehingga tidak membuat bencana bagi yang lain? Hahaha.. Saya sangat negatif saat ini. Walaupun masih ada "hahaha" sebetulnya saya melakukannya dengan penuh kepahitan!
Akhirnya saya harus mengikuti dan mengamini kesepakatan bahwa segala sesuatu yang dilahirkan pada saatnya harus mati. Secara ilmiah itu yang dimaksud dengan lingkaran kehidupan, circle of life, setuju atau tidak begitu memang adanya. Itulah hukum alam yang mau tidak mau harus saya terima. Menelusuri pikiran saya dan terus berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diluar itu, diluar hukum alam, hanya mengakibatkan kelelahan mental, dan spiritually draining. Karena diluar apa yang saya ketahui, tidak ada jawaban yang jelas.

Sampai pada titik ini saya hanya bisa berharap dan berdoa, semoga teman-teman saya yang ditinggalkan mampu menghadapi tragedi kehidupan ini dan menjadikan mereka semakin kuat dalam menjalani kehidupan ini. Selamat jalan, Mas! Sing tabah yo, Mbak!