tangis kecil pecah
langit membelah
sejenak waktu terhenti
tunas turun dari langit
perlahan berlabuh di bumi
Saat kelahiran anak di dunia, lahir pula orang tua dengan segala peran barunya. Hadirnya Mas Faisal di tengah rasa ingin tahu kami, sungguh bagai mendapat rasa dipahami dan validasi. Berangkat dari telaah generasi, disadarkan kembali, bahwa manusia tak serta merta hidup terlepas dari zamannya. Bagaimana membaca sejarah, untuk memprediksi masa depan, belajar melalui pola. Kembali pada fitrah, ketika ada nilai yang perlu diwariskan kepada manusia yang dipercayakan hadir dalam hidup.
Sehari sebelum pelaksanaan. Segala puji tak terkira. Hujan rintik, kemacetan Bandung menjelang akhir pekan. Sore menjemput ke Stasiun, kembali ke Rumah Belajar. Perbincangan panjang tentang dunia pendidikan dan fenomena masa kini. Almamater SMA dan masa lalu di Ibukota jadi pembuka. Mengenang suka duka naik angkot dari dan menuju sekolah, yang sekarang ujar Mas Faisal tak ada lagi yang beroperasi. Barisan ojol jadi pengganti.
Berkeliling saat sekolah sunyi dan jelang gelap, pertanyaan Mas Faisal, "Kak Andy, mengapa ada orangtua yang mau memasukkan anaknya ke sini?". Kami hanya tertawa. Barangkali esok hari bisa langsung mendapat jawabannya. Magrib di Mesjid Al-Murabbi. Hujan masih turun merintik. Gema bacaan sekejap membuat hati bersujud, penuh syukur. Tuhan lancarkan persiapan dan kuatkan dalam prosesnya.
Berlanjut makan malam, bersama Mas Faisal, Kak Andy, Kak Mamat, Kak Yanti, dan Kak Diki, membahas teks lawas berbahasa Sunda. Seru! Membedah simbol-simbol cocokologi, membaca pergerakan peradaban di Tanah Air. Bagaimana bulan di siang hari, menciptakan ledakan cahaya gemerlap, lalu melahirkan kerajaan dalam kerajaan. Pindah-pindah kekuasaan, raksasa tak peduli sesama. Lalu, sesuatu dari dapur, ke lembur, jadi ribut senegara. Mereka yang ingat hanya bisa sementara terdiam. Menunggu Anak Gembala.
Puncak acara pun tiba keesokan harinya. Dalam jeda sesaat, perdana menghadirkan musikalisasi puisi karya bersama. Dibuka dengan Menuju Purnama, proses ke arah bijak mendewasa. Memohon kekuatan pada Yang Maha Kuasa. Perlahan namun pasti, selayak ilmu padi, ditutup dengan Merunduk.
"Menjadi orangtua, adalah sebuah perjalanan dan seni. Mengenal diri sebagai orangtua, untuk terus bertumbuh bersama dengan anak."
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.