"If you are not valued, you are in the wrong place!"
Sekitar setahun yang lalu saya pernah ngobrol soal ini, bahagaimana seseorang atau sesuatu menjadi jauh lebih bernilai ketika berada di tempat yang tepat. Contoh yang saya ambil adalah seseorang yang menawarkan sebuah mobil ke berbagai tempat, di tempat yang tidak tepat mobil itu dihargai sangat murah, tapi ketika berada di tempat yang tepat, yang mengkoleksi mobil-mobil antik, kendaraan itu diapresiasi sangat tinggi.
Beberapa hari yang lalu di salah satu grup chat, salah seorang rekan saya mengunggah beberapa foto makanan yang dia buat. Salah seorang teman saya yang lain yang tinggal di Chicago langsung berkata:"Waaah.. itu makanan mewah!" Padahal yang dia unggah adalah gudeg, bubur ayam dan nasi langgi yang bagi rekan-rekan lain yang tinggal di Indonesia mungkin merupakan makanan yang biasa saja.
Tempat memang mempunyai peran yang sangat penting dalam hampir segala hal. Saya menyukai tape atau tapai. Ketika di Bandung setiap kali ada bapak-bapak dengan pikulan menjual keliling tape, saya hampir selalu memanggilnya. Itu hal yang biasa karena saya suka dan juga ingin membantu membeli jualan bapak-bapak tua itu. Atau ketika masuk ke pasar Kosambi dan melihat ibu-ibu dengan bakul besar di dekat anak tangga samping menjual tape yang sangat bagus berwarna kekuning-kuningan. Kadang orang-orang menoleh, tapi lebih banyak yang berlalu begitu saja. Tape adalah barang biasa, mudah diperoleh dan tidak lagi spesial karena mudah ditemui dimana-mana. Tempat menentukan apakah sesuatu itu spesial atau tidak. Jika mudah diperoleh maka cenderung menjadi biasa saja, sementara jika sangat sulit diperoleh, maka barang itu menjadi istimewa.
Saya ingat waktu di bandung dan sangat kangen makan bagel. Ada berapa tempat di Bandung yang menjual Bagel? Dulu tidak banyak! Ada satu yang saya kunjungi lalu kecewa karena teksturnya lebih mirip roti daripada bagel. Bagel mempunyai tekstur yang lebih kenyal daripada roti dan memiliki warna serta aroma berbeda. Bagel direbus sebentar dengan air yang mengandung soda sehingga ketika dipanggang memiliki warna yang khas, seperti juga pretzel. Di Bandung saya mengapresiasi bagel sangat tinggi karena sulit diperoleh. Saya bahkan harus mengemudi ke Jakarta hanya sekedar untuk menikmati bagels!
Nah jadi jangan juga heran jika di Colorado saya bersedia mengemudi berjam-jam hanya untuk memperoleh tape atau tapai singkong. Ini barang mewah bagi saya karena sulit memperolehnya. Apresiasi saya sangat tinggi, walau tentu saja jika dibandingkan dengan tape di Bandung yang berwarna kekuning-kuningan masih ada di bawah, tapi ini tetap dianggap sebagai harta karun. Sama halnya dengan gudeg, bubur ayam dan nasi langgi yang diunggah teman saya. Saya bahkan harus memesan ke New Jersey untuk dapat menikmati gudeg yang mendekati level gudeg yang baik, yang kalau di Bandung apalagi Jogya akan sangat mudah dijumpai.
Saya banyak mengunggah foto makanan di akun sosial media, tujuannya hanya iseng-iseng sekaligus juga mencatatkan sejarah perjalanan petualangan saya. Teman-teman saya mengapresiasi dengan baik karena mereka tahu saya berada di tempat yang jauh dari daerah asal makanan-makanan itu. Seperti kemarin saya membuat sop buntut bakar, teman-teman langsung berkomentar. Bandingkan bila saya di Bandung dan mengunggah foto itu, mungkin teman-teman di tanah air tidak akan menggubris sementara teman-teman saya di antah berantah yang akan bereaksi. Tempat, sekali lagi menentukan tingkat apresiasi seseorang pada sesuatu
Hanya beberapa minggu lagi saya akan bekerja di CSU. kalau dihitung-hitung saya sudah berkarir di CSU selama lebih dari 7 tahun. Ini perjalanan karir saya yang lumayan lama dan menurut saya termasuk pengalaman karir yang sangat baik. Ada saatnya saya merasa berada di bawah kadang di atas dan menikmati berbagai hal yang menyenangkan. Namanya pekerjaan, dan saya selalu memegang teguh pendapat yang selalu saya anut sepanjang hidup yaitu: "Job is the same everywhere but the people you work with makes all the difference!" Itu saya kemukakan berkali-kali di berbagai kesempatan karena saya percaya bahwa pekerjaan dimana-mana sama, justru yang membedakan adalah orang-orang di sekitar kita yang sama-sama bekerja. Di semua pekerjaan yang pernah saya jalani, saya mengalami banyak pasang surut, itu merupakan hal yang wajar. Yang membuat saya berat meninggalkan pekerjaan ini karena orang-orang yang selama sekian tahun berinteraksi dengan saya. Saya berusaha terius menikmati beberapa minggu terakhir ini, dan bisa saya lihat juga bahwa teman-teman kerja mengapresiasi jauh lebih intens daripada sebelumnya, demikian juga saya karena tahu bahwa beberapa saat lagi semua itu akan berakhir. Ketika sesuatu menjadi sulit dijumpai, atau akan sulit dijumpai, maka tingkat apresiasi kita menjadi semakin meningkat. Betul tidak?
Foto credit: reddit.com