Menerima adalah pilihan. Sama sekali bukan hal yang mudah, malah ini merupakan hal yang sangat sulit, tapi walau bagaimana ini adalah pilihan. Kita menghadapi berbagai macam kekecewaan dalam hidup, kegagalan, ketidak-berhasilan, kondisi yang tidak diharapkan, dan lain sebagainya, lalu kita harus mencerna dan mengolah keadaan itu. Ada dua pilihan, menerima kondisi yang terjadi, memandangnya sebagai hal yang positif, belajar daripadanya agar dikemudian hari kita akan menjadi lebih matang, tegar dan trampil, dan berdamai dengan kondisi itu; atau kita memilih untuk melawan kondisi itu, menderita dan terus menentang semesta?
Kemarin saya membaca esai dari kak Shafa: AES005 Dari Pulang Tere Liye, saya belum pernah berjumpa dengan kakak ini, tapi saya senang membaca tulisan kemarin. Dalam esai itu dikutip sebuah nasihat tentang berdamai dengan diri sendiri. Ini tulisan yang keren bahkan dalam tulisan itu diilustrasikan pula dengan situasi yang dihadapi salah seorang sahabat kakak ini. Mirip! Pikir saya. Beberapa hari yang lalu saya menulis tentang situasi yang tidak pasti dan bagaimana pengalaman menghadapinya. Di akhir tulisan itu saya juga mengutip sebuah ungkapan, entah siapa yang mengatakan itu," LifeĀ isn't about waiting for the storm to pass, it's about learning how to dance in the rain.
Belajar menerima sesuatu yang terjadi dalam hidup merupakan semacam "alat" yang sangat berguna. Entah kehilangan anggota keluarga, kehilangan kesempatan seperti sahabat kak Shafa, kehilangan pekerjaan (seperti saya ini hahaha), perubahan situasi yang melenceng dari rancana semula, kegagalan proyek dan banyak lagi, lalu jika kita dapat menerima hal-hal yang diluar kekuasaan kita, dimana kita sama sekali tidak mampu mengontrol, dimana keberdayaan kita tidak akan bisa mengubah situasi, maka akan dapat membantu kita berdamai, atau istilah di film Kung Fu Panda (hahaha), mempertahankan inner peace dan masih tetap dapat berbahagia.
Menerima itu bukan berarti menyerah, bukan pula merupakan kelemahan, juga bukan berarti kita cukup puas dengan kondisi "biasa-biasa" saja. Sama sekali jauh dari pengertian-pengertian itu. Yang ingin saya tekankan adalah kita harus tahu kapan harus keukeuh, ngotot, terus berjuang tanpa lelah, tapi juga tahu kapan kita harus menerima. Karena menerima menurut pendapat saya adalah kunci yang membantu "merasa" bahagia ke arah kebahagiaan sesungguhnya. Melatih penerimaan menyiapkan kita untuk hidup di dunia yang selalu berubah ini dimana kita tidak pernah tahu dengan apa yang akan terjadi. Menerima merupakan tameng untuk mempertahankan diri kita. Satu hal yang mempermudah kita dalam menerima sebuah kondisi adalah dengan berusaha semampu mungkin menjelaskan mengapa kita mengalami itu. Contoh yang jelas yang terjadi pada diri saya. Terlambat mengurus dokumen, risikonya ya terlambat memperoleh ijin. Tidak perlu penjelasan lagi. Lalu situasi-situasi berikutnya berkembang dari perkara di awal tadi.
Kemarin saya memperoleh kartu ijin yang baru, lalu saya segera menyampaikan berita itu kepada atasan. Tidak lama kemudian saya memperoleh balasan yang mengatakan bahwa saya harus menunggu beberapa minggu lagi. Kecewa? Tentu saja. Menerima? Ya harus. Itu semua diluar kontrol saya. Satu hal yang selalu saya usahakan juga adalah berusaha untuk tidak menghakimi diri sendiri. Dalam kondisi yang tidak menguntungkan memang kita cenderung mencari kambing hitam, dan menyadari ini saya berusaha untuk berpikir lebih positif karena saya percaya segala sesuatu terjadi karena ada alasannya dan hal yang jauh lebih baik selalu terjadi sesudahnya. Nah ini tahap awal dari penerimaan yang benar.
"I am glad you did not work at that restaurant." Kata Kano pada suatu hari.
Saya tertawa lalu menjelaskan bahwa saya dulu begitu beruntung diwawancarai oleh seorang yang sangat muda dan tidak berpengalaman sehingga lamaran saya ditolak, entah karena alasan apa. Saya tidak peduli. Segala sesuatu terjadi karena ada alasannya, everything happens for a reason! Mungkin kalau dulu saya diterima, saya tidak akan pernah menikmati posisi sekarang, pengahasilan seperti sekarang, bahkan saya tidak akan punya teman dekat yang kemudian memungkinkan Kano untuk melamar. Ya saya tidak diterima, saya tidak menyesal (walau tentu saja sempat jengkel karena saya yakin pengalaman yang saya miliki jauh lebih baik bahkan dari para manager di situ), karena tidak bekerja di situ saya mencari kesempatan karir saya di kampus, lalu ganti posisi pekerjaan dan memungkinkan banyak kondisi yang saat ini kami nikmati. Kejadian-kejadian itu, walau tidak menyenangkan di awal ternyata memungkinkan hal-hal yang jauh lebih baik terjadi. Seperti kata Alexander Graham Bell katakan: When one door closes, another door opens! Terdengar sangat optimistik, tapi itu betul adanya. Jadi, itu memang gunanya belajar menerima!
Foto credit: petersgate.org.nz