Membangun sebuah hubungan memang merupakan hal yang tidak mudah, bertemu dengan orang baru, berusaha memahami dan membangun chemistry membutuhkan waktu yang cukup lama. Tapi entah kenapa, hancurnya sebuah hubungan tidak membutuhkan waktu yang lama, dalam hitungan menit, sebuah hubungan bisa hancur. Apalagi di masa serba online seperti ini, aku mendengar banyak cerita dari teman-temanku banyak yang hubungannya rusak atau tidak sebaik dulu hanya karena KOMUNIKASI. Hubungan tidak harus selalu hubungan asmara, hubungan keluar maupun hubungan pertemanan banyak yang rusak. Komunikasi yang tidak lancar, tidak terbuka dan satu hal lagi yang sering menjadi masalah yaitu BAPERAN.
Seringkali kita menuntut orang lain untuk bisa mengerti, memahami diri kita, padahal kita sendiri tidak mau mengerti orang lain. Tentu itu merupakan hal yang egois bukan? Hal yang paling mengagetkan lagi adalah saat seseorang merasa ia tersakiti, apalagi oleh temannya sendiri, tapi hanya memendamnya. Bahkan memutuskan untuk membalas dendam. Apakah itu akan menyelesaikan masalah? Apakah itu merupakan cara yang baik untuk memperbaiki sebuah hubungan yang sudah dibangun cukup lama? Apalagi orang itu adalah seseorang yang kita percaya selama ini, membantu kita berproses setiap harinya menjadi lebih baik, memberi harapan kepada kita, ternyata....
Walaupun manusiawi sebetulnya, timbulnya rasa ingin membalas dendam, namun sebagai orang dewasa, bukankah kita seharusnya lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak? Bertindak bukan hanya karena nafsu, bukan hanya untuk memuaskan sebuah keinginan. Tiba-tiba mendiamkan orang yang mungkin berbuat salah, atau jangan-jangan yang ingin balas dendamkah yang terlalu baperan? Membicarakan di belakang dan secara tiba-tiba memutus komunikasi... yang kemudian disalahkan adalah pihak yang tidak melakukan apa-apa...
Disaat pihak sebelah sudah memancing, berusaha memperbaiki, yang satu menutup diri. Tentunya hal itu tidak akan berjalan dengan baik dan kembali seperti semula, ibarat sebuah rumah yang awalnya ditinggali bersama, kemudian keduanya pergi dan saat kembali, yang sudah tiba di rumah duluan, tidak mau membuka pintu, padahal sudah banyak hal yang dialami selama mereka tinggal di rumah tersebut. Kemudian orang yang tidak dibuka kan pintu itu malah mengadu dan membuka komunikasi baru dengan pihak luar, dimana komunikasi yang satu pun belum bener, dia sudah membuka yang lain, tanpa berusaha memperbaiki komunikasi sebelumnya, dengan harapan hal itu memperbaiki, padahal SEMAKIN MERUSAK.
Semua yang terjadi di dunia ini adalah hal netral. Seperti yang disebutkan Marcus Aurelius, semua yang terjadi sebenarnya tidak berarti apa-apa, bukan hal negatif bukan juga hal positif, yang membuat hal itu menjadi negatif atau positif adalah persepsi kita sendiri. Jadi yang merasa hal tersebut negatif siapa ya?
Meditation by Marcus Aurelius tuh, bacanya gak bisa sambil ngemil. Perlu fokus
iyaa kak, terus bacanya harus loncat2 biar ngertii