Sabtu lalu kami berkesempatan menyambangi salah satu pantai di Sumba. Pantai Kawona namanya.
Pantai yang indah dengan gradasi warna kebiruan.
Aku mengambil beberapa foto, lalu ku kirimkan foto itu ke grup keluarga dan teman dekatku, dengan tujuan memberi kabar bahwa aku baik-baik saja di Sumba.
Tak kusangka, beberapa respon mereka begini “enaknya bisa bekerja sambil jalan/jalan”.
Sebenarnya ini bukan kali pertamaku pergi ke luar pulau untuk menemati teman-teman KPB. Tahun lalu, aku juga sempat menemati tiga teman menetap selama 40 hari di Bali. Sejak saat itu, memang sudah sering aku mendengar respon itu untuk perjalananku.
Hanya saat itu aku selalu menjawab, “tidak seenak itu ko, ada usaha dan pengorbanan yang aku curahkan di dalamnya, yang orang-orang tidak tahu”.
Tapi entah kenapa, respon yang sama kali ini terasa berbeda. Kali ini aku justru tidak berniat menolaknya, aku justru ingin menjawab dengan “memang, beruntung sekali aku ini, dapat pekerjaan yang adalah hobiku (jalan-jalan), sambil menyelam minum air katanya”
Di perjalanan kali ini, aku lebih merasakan betapa beruntungnya aku. Aku bersyukur bahwa aku dikaruniai banyak hal oleh Tuhanku, banyak kenyamanan yang aku dapatkan dalam hidup. Kenyamanan bahkan kemewahan yang tidak orang lain dapatkan. Aku jadi bingung, harus ku bayar dengan apa ya Tuhan? Apakah cukup dengan berbuat baik saja?
Apakah semua keberuntungan ini akan terbayar dengan aku menabung kebaikan seumur hidupku?
Intinya aku sungguh bersyukur atas semua hal yang terjadi dalam hidupku, bukan hanya hal baik, tapi juga setiap hal yang memaksaku belajar. Setiap hal yang tuhan perkenankan terjadi padaku, adalah hal-hal yang telah ia perhitungkan.
Sepenggal cerita perjalanan Sumba Ep. 02