Sejak kecil di Smipa, kita selalu didukung untuk meraih bintang kita. Bintang kita adalah sesuatu yang menjadi penunjuk arah kita, letak hati kita. Aku sebenarnya selalu konsisten dan yakin dengan bintangku. Namun, akhir-akhir ini, aku mulai banyak berrefleksi lagi. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan “bintang”? Apakah hal-hal yang menjadi bintangku sudah sesuai dengan pemaknaanku? Apakah memang benar hal-hal itu adalah bintangku?
Aku tahu jelas apa saja hal-hal yang aku sukai. Tapi aku sering teringat akan metafora pohon ara (!) Sylvia Plath.
I saw my life branching out before me like the green fig tree in the story. From the tip of every branch, like a fat purple fig, a wonderful future beckoned and winked. One fig was a husband and a happy home and children, and another fig was a famous poet [...] and beyond and above these figs were many more figs I couldn't quite make out. I saw myself sitting in the crotch of this fig tree, starving to death, just because I couldn't make up my mind which of the figs I would choose. I wanted each and every one of them, but choosing one meant losing all the rest, and, as I sat there, unable to decide, the figs began to wrinkle and go black, and, one by one, they plopped to the ground at my feet.
Sering kutemukan diriku mengkhawatirkan hal ini. Dari semua minatku – antropologi, menulis, musik, sejarah, desain grafis, astronomi, linguistik; apakah aku hanya boleh memilih satu atau beberapa bintang? Tidak bisakah aku hidup dengan semua bintang ini di langitku, tak harus mengorbankan satu pun, tapi juga bisa optimal dalam semuanya? Sebenarnya, bintang yang mana yang kuinginkan? Apakah kalau aku hanya mendedikasikan diriku untuk beberapa bintang saja, bintang-bintang yang lain akan membusuk dan redup selamanya? Saat pertama membacanya, metafora Sylvia Plath itu benar-benar membuatku berpikir.
Orang selalu bilang, kamu masih muda, hebat kalau kamu sudah bisa menjurus, hebat kalau kamu sudah menemukan yang kamu minati. Dan memang benar, aku sangat bersyukur. Teman-temanku belum semuanya menemukan satu hal untuk dijuruskan. Tapi tetap saja, aku memikirkan semua bintang-bintang bisa meredup kapan saja, semua buah ara yang busuk dan tidak terpanen. Bagaimana agar semua itu tidak sia-sia?
Mungkin bintang yang harus kuraih bukanlah satu bintang sederhana. Mungkin bintang itu terkandung dari berbagai intisari bintang-bintang lain, saling bergabung melahirkan satu bintang istimewa, satu bintang khusus untukku. Mungkin bintang itu tidak stagnan, tidak statis, tidak berbatas; bisa bergelora, bisa fleksibel, bisa berwarna. Mungkin, kalau aku coba saja untuk meraihnya, dia akan bersinar dan menunjukkan jalan untukku.
Such a lovely thought 🙏🏼🤗👍🏻🌱
Terima kasih kak!