Saya punya intensi egois tentang menulis esai akhir-akhir ini. Jujur saja, saya mencurahkan apa yang saya rasakan dan pikirkan tanpa mempedulikan orang lain yang membaca. Jadi maafkan saja. Ini bagi saya menjadi semacam proses belajar, sebab apa yang saya sedang tulis sekarang dan belakangan ini, dimasa yang akan datang bisa jadi akan menjadi bahan refleksi. Ketika semua rangkaian peristiwa yang sedang saya hadapi ini selesai, mudah-mudahan akan bisa saya jadikan pengalaman dalam menghadapi situasi yang sama di kemudian hari.
Sekali lagi, secara jujur saya ingin mengungkapkan bahwa ini bukan kali yang pertama saya mengaami peristiwa semacam ini. Jika saya hitung setidak-tidaknya sudah 4 atau 5 kali ketika masa kerja saya di satu tempat mencapai jangka waktu 5 hingga 7 tahun. Sesudah melewati rentang waktu sepanjang itu, masalah yang sama muncul, yaitu saya merasa terperangkap, kehilangan motivasi, merasa tidak tertantang, bosan, dan tersesat. Kali ini ditambah satu lagi, aimless, tanpa tujuan yang jelas.
Bayangkan sebuah komputer. Ketika pada suatu ketika memori sudah penuh, cache dan cookies sudah membludak, seringkali saya menekan tombol restart, semua cache dan cookies saya bersihkan, lalu komputer saya bisa berfungsi maksimal lagi. Atau smart TV, kadang kalau terus menerus loading, karena tentu saja smart TV itu kapasitas memorinya jauh lebih rendah dari komputer, maka sering saya cabut kabelnya dari power outlet di tembok dan memulai dari awal lagi. Atau jika router sudah kelebihan beban maka jalur internet terhambat, kita bisa menekan tombol reset, semua akan kembali dengan baik. Tapi itu tidak berlaku pada manusia. Kalau saja ada tombol reset hahaha.. tidak ada! Lagian sebetulnya banyak cache dan cookies bahkan history kita sengaja simpan karena itu sangat berarti. Kita harus mampu menghadapi banyak hal dengan tetap terikat pada semua residu masa lalu kita. Bukan begitu? Nah tambah berat kita menjalani hidup bukan? Ini yang sedang saya gumuli.
Hampir semua dari kita mengalami saat-saat semacam ini. Jika belum, saya beri heads up sekarang bahwa anda akan mengalami hal seperti ini dan saya jamin akan lebh dari satu atau dua kali! Setiap kali mempunyai kriteria, kedalaman bahkan bobot yang berbeda-beda. Setiap kali walaupun mirip tapi berbeda, sangat unik. Nah yang saya alami sekarang adalah kebingungan akan langkah ke depan yang harus saya ambil, saya merasa tidak berdaya, mati rasa dan kehilangan "spark" karena seolah-olah hidup tidak mengarah pada tujuan yang pernah terbayangkan. Saya perlu berusaha untuk menemukan diri lagi. Ini masa transisi yang sangat penting.
Menyadari dan menerima kondisi sekarang tidak selalu mudah. Banyak pertimbangan dan tuntutan. Sangat sulit dihadapi, terutama jika itu berkaitan dengan faktor luar yang tidak dapat kita kontrol. Saya harus bisa menerima itu dan ini menjadi tantangan tersendiri. Menerima sesuatu yang tidak diharapkan itu tidak mudah apalagi jika mengkaitkan dengan nilai diri yang kita percayai.
Salah satu cara untuk menyadari, mengakui dan menerima kondisi ini yaitu dengan cara menulis. Dengan menulis saya mengenal, saya mengakui bahwa sedang mengalami ini. Dalam proses menulis saya juga berusaha mengurai. Memang ada keterbatasan, tidak selalu tepat dan juga seringkali tidak sampai ke akarnya. Tapi setidak-tidaknya itu salah satu proses menuju penerimaan.
“When a person acknowledges their feeling of being lost emotionally, they can then attend to it,” Kata Colleen Mullen, PsyD, seorang psychotherapist di San Diego. Katanya juga sebaiknya kita harus mengingatkan diri sendiri bahwa merasa sedih, kecewa, dan tidak berdaya itu wajar, it's ok! “These are natural consequences when our life path changes abruptly in a direction we did not want.”
Nah menulis itu sangat baik. Katanya disarankan agar kita mencoba menulis tentang perasaan yang kita alami, mengapa kita merasa demikian, juga menggambarkan sensasi fisik serta mendokumentasikan pikiran-pikiran yang kita jumpai. Tulis itu semua. Nah ini sedang saya lakukan!
Lalu yang berikutnya, kita dianjurkan untuk merawat dan menyayangi diri sendiri dengan melakukan latihan pernapasan, meditasi dan yoga. Dengan melakukan ini katanya agar kita menyadari bahwa situasi yang sedang dihadapi itu merupakan kondisi yang diluar kontrol kita, tapi kita masih bisa mengontrol bagaimana bereaksi terhadap situasi ini. Pada saat pikiran kita menyatakan ketidak percayaan bahwa kita mengalami hal ini atau mempertanyakan usaha kita, dengan latihan itu kita bisa berkata,"saya mampu menghadapinya!" atau jika memang sudah keterlaluan, kita bisa berkata,"Saya akan mencoba beristirahat sejenak dan mengumpukan semangat."
Yang terakhir, dianjurkan kita melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, membantu orang lain, dan memikirkan apa yang penting bagi diri kita, apa yang sangat berharga bagi kita. Dengan melakukan ini, kita memupuk hal-hal positif dan mengembalikan keseimbangan.
foto credit: fearlessliving.org
It is a journey anyway - so yes some times you might get lost... 🙏Hopefully you find your way soon enough...