AES 1464 Renungan Sambil Ngopi
joefelus
Monday September 15 2025, 10:35 AM
AES 1464 Renungan Sambil Ngopi

Tubuh sudah kembali segar setelah selesai membersihkan diri seusai penuh keringat karena berjalan kaki naik turun di depan kompleks. Pagi ini sangat indah, sejuk dan matahari yang hangat terasa sangat menyehatkan. Sayang kalau dibiarkan berlalu tanpa dimanfaatkan oleh tubuh.

Saya mulai menikmati sarapan berupa omelette dengan tambahan green onion dan tomat, beberapa kerat tipis keju dan crackers untuk asupan karbo dan protein serta segelas kopi yang barusan saya buat. Dalam hati seandainya keindahan dan kedamaian pagi ini dapat semua orang rasakan, akan betapa indahnya dunia tempat kita bersama-sama hidup ini. Tapi jika kita perhatikan sungguh-sungguh, saat ini dunia sedang tidak baik, penuh kekejaman dan kedengkian. Setiap kali saya sekilas melihat headline berita, isinya kebanyakan negatif bahkan beberapa terakhir ini saya agak terbawa arus sejenak untungnya saya mengingatkan diri untuk kembali masuk ke dalam diri dan mengolah hal-hal yang saya ketahui sebagai sebuah tantangan untuk bersikap lebih positif.

Akhir-akhir ini saya merasa bahwa kemanusiaan sedang mengalami cobaan yang sangat dasyat. Kebencian terasa dimana-mana, dan orang saling bertikai karenanya. Benci yang ada rata-rata banyak diakibatkan karena perbedaan. Perbedaan warna kulit, perbedaan keyakinan, perbedaan pilihan politik bahkan perbedaan pendapat. Sangat menyesakkan, menyedihkan dan sekaligus juga membuat saya begitu risau mengetahui bahwa saya adalah bagian dari kemanusiaan itu sendiri. Rasa damai, saling mendukung, memperhatikan, mencintai dan menghormati satu sama lain sepertinya sudah sangat terkorupsi karena berbagai pertentangan dengan kebecian.

Kemarin dulu saya bahkan menjadi salah satu korban yang terlibat secara emosional ketika ada korban penembakan di Utah. Saya terbawa arus, suasana bahkan kenangan karena hampir secara personal pernah bersentuhan dengan tokoh itu. Kemudian saya disadarkan bahwa jika saya berusaha untuk tidak menjadi bagian dari kesemrawutan itu, sebaiknya saya menjaga diri dan lebih berbenah dan masuk ke dalam diri sendiri. Itu yang akhirnya saya lakukan. Saya merasa bahwa saat ini belum dapat mempercayai bahwa kemanusiaan akan mampu memperbaiki kerusakan yang sudah dilakukan dan itu membuat saya sangat risau. Memikirkan kemanusiaan saja sudah membuat saya lelah dan sedih.

Saat ini terlihat bahwa manusia seolah-olah tidak mampu menyayangi satu sama lain, mereka hanya saling bertikai seperti monster yang sangat haus darah. Semuanya demi apa? Kekuasaan? Kepuasan diri? Atau hanya mengumbar tabiat buruk manusia. Kondisi ini memang membuat saya begitu apatis.

Entah karena kebetulan atau semesta berusaha menjawab kerisauan saya, ketika sedang iseng menyalakan TV dan mencari resep-resep makanan (ini yang biasanya membuat saya lebih bergembira) Ada tayangan dari seorang youtuber bernama Peter Santenello. Dia salah satu influencer yang sangat saya sukai karena berkeliling dunia untuk menggali kehidupan dan pemikiran orang-orang yang dia datangi. Nah kali ini dia masuk ke kelompok Amish.

Kelompok Amish ini adalah masyarakat yang hidup sangat sederhana dan menjauh dari cara hidup modern. Jadi jika diperhatikan, rumah mereka tidak menggunakan listrik, tidak ada peralatan modern dan alat transportasi mereka berupa kereta dan kuda. Mereka tidak punya TV (tentu saja sebab tidak ada listrik), tidak membaca berita, hidup dengan berternak dan bercocok tanam atau pertukangan, masih menggunakan pakaian tradisional jaman dahulu seperti mungkin abad 17 atau 18. Kehidupan mereka memang sangat religus dan berdasarkan kitab suci. Tidak ada asuransi kesehatan seperti rata-rata orang Amerika dan jika ada salah satu anggota komunitas yang membutuhkan biaya perawatan maka mereka bergotong royong untuk membantu. Mereka sangat komunal, satu desa bisa hanya puluhan atau ratusan orang.

"Do you know what is going on in the world right now? Who is our president?" Tanya Peter

"No. We do not know anything outside our world, and our president is God." Itu kata salah satu dari mereka.

Saya memperhatikan anak-anak bermain di lapangan yang luas. Anak laki-laki bercelana panjang dengan tali yang melewati bahu mereka dan kemeja lengan panjang sementara anak-anak perempuan mengenakan gaun panjang dan bertutup kepala. Yang dewasa juga demikian, para wanita mengenakan gaun panjang dengan tutup kepala dan pria bercelana panjang bertali ke bahu dan kemeja serta berjengggot. Mereka jika berpergian menggunakan kereta kuda berwarna hitam, mirip seperti kereta yang digunakan untuk pemakaman di Indonesia di jaman dulu ketika saya masih kecil tapi ukurannya jauh lebih kecil.

Ada kesempatan dimana Peter diperkenankan masuk ke dalam salah satu rumah. Rumah mereka sederhana, berlantai kayu dan semua perabotan mereka dari kayu, luar biasa indah menurut saya. Tidak ada listrik, tidak ada lemari es atau kompor listrik atau gas. Semua serba tradisional tapi bagi saya mereka seperti hidup di sebuah villa yang luar biasa indah karena semua dibuat dari kayu-kayu dengan finishing yang sangat halus. Semua perabotan rumah seperti meja kursi dan sebagainya mereka buat sendiri dengan tangan tanpa alat modern. Luar biasa!

"We take care of each other. We live in harmony, even nobody in our society gets divorced!"

Mereka mengenal satu sama lain, hidup dalam kondisi yang sangat damai, kebun dan pertanian sangat indah, luas dan bersih. Tidak ada sampah sama sekali, bahkan saya tidak menyaksikan ada kotoran kuda walaupun kuda merupakan alat transportasi mereka. Tidak ada perceraian! Coba bayangkan! Mereka telah mampu menciptakan sorga di dunia ini dengan hidup sederhana, menikmati hasil kebun dan ternak, saling menolong yang berkekurangan dan tidak segan membantu mereka yang membutuhkan.

Memang kelompok Amish tidak semuanya hidup seperti abad 17, ada yang membuka diri terhadap kehidupan modern. Ada kelompok yang memiliki listrik, kulkas bahkan microwave dan oven listrik. Tapi tetap mereka hidup secara komunal, melepaskan diri dari kegaduhan dunia dan tetap hidup secara harmonis di kalangan mereka sendiri.

2 hari saya seolah-olah mengikuti cara hidup mereka. Betapa indahnya jika kita hidup tanpa rasa benci, penuh kasih sayang dan kedamaian? Rasa apatis saya terhadap kemanusiaan mulai luntur karena ternyata masih ada yang indah. Bahwa keharmonisan itu masih bisa diciptakan. Beruntung kaum Amish ini dapat melakukannya secara berkelompok. Saya saat ini mungkin akan berusaha sedikit meng-"Amish"-kan diri dan keluarga. Tidak harus hidup seperti mereka, tapi banyak nilai kemanusiaan yang masih murni yang bisa saya terapkan.

Foto credit: will.illinois.edu