Setelah membaca 3 esai pertama tentang Ayurveda, mungkin bisa mulai mengerti bahwa keefektifan suatu pola makan tertentu tidak semata oleh karena polanya. Orang yang mengatakan manfaat kebaikan satu pola makan tertentu, pastilah karena adanya kecocokan antara dirinya dengan pola makan itu. Kecocokan itulah yang menjadi penentu keberhasilan penerapannya.
Sama halnya jika ada yang mengatakan keburukan satu jenis makanan tertentu, pastilah itu disebabkan oleh ketidakcocokannya dengan makanan itu. Semuanya selalu sangat tergantung pada siapa yang memakannya dan seperti apa cara makannya.
Jika dikatakan bahwa gula itu tidak menguntungkan bagi kesehatan, tetapi dalam Ayurveda jelas disebutkan bahwa 6 rasa makanan memiliki karakter yang bisa menyeimbangkan, maka akan ada orang-orang yang keseimbangannya ditentukan oleh rasa manis pada makananya. Lalu jika kemudian pernyataan itu digeneralisasi dan seseorang yang mendapat manfaat rasa manis itu lalu menghapus gula dari daftar dietnya, maka ia akan kehilangan salah satu sarana penyeimbangnya.
Jadi, penting untuk menelaah sesuatu secara lebih utuh dan menyeluruh. Seandainya memang benar bahwa gula itu buruk bagi kesehatan, ada baiknya terlebih dulu mencari tahu gula yang mana yang dimaksudkan? Dari sekian banyak jenis gula, ada gula putih, gula aren, gula palem, gula buah, gula singkong, gula batu dapat diperbandingkan antara satu dan lainnya sehingga bisa ditemukan yang nilai kerugiannya paling minim.
Atau bisa juga dengan mengamati terlebih dahulu pada diri sendiri, benarkah kerugian itu terdapat pada tubuhku?. Lalu jika memang iya, bisakah kukaji terlebih dulu porsi gula dalam keseharianku dan benarkan rasa manis menyebabkan ketidakseimbangan dalam diriku bahkan jika telah kuatur porsi, jenis gula dan cara konsumsinya?
Intinya memang tidak boleh terburu-buru menilai sesuatu. Setidaknya itulah pelajaran yang kuambil atas penilaianku dengan pola makan rawfood. Sesuatu yang kuanggap penuh kebaikan, tapi ternyata tidak pas diterapkan pada tubuhku sehingga tidak bermanfaat kebaikan untukku.
Kini setelah banyak mempelajari sisi-sisi dari makanan, pola makanan dan hal yang terkait dengan itu, pengaturan makan tentu adalah awalan yang baik. Mengetahui bahwa makan itu butuh kesadaran tentu bisa jadi kepekaan akan kesesuaian makanan, cara makan, dan kondisi tubuhnya sendiri saat makan makanan itu. Ketika kesadaran telah terbentuk maka selalu bisa menilik segala hal terhadap kesehatan tubuhnya secara keseluruhan.
Jadi di sinilah jawaban atas pertanyaanku pada esai Oh, Nasi.. Mengapa harus mempersalahkan nasi atau karbohidrat secara umum, jika pernyataannya jelas bahwa orang dengan tipe vata yang berkarakter ringan membutuhkan makanan yang berat sejenis karbohidrat untuk membantunya tetap grounding, membuatnya tetap terkoneksi dengan dirinya.
Aku suka menganalogikan balon untuk vata dan batu sebagai pemberat yang jadi penyeimbangnya. Jika balon bisa diikat pada sebuah batu maka balon itu tetap bisa membumbung tinggi namun terkontrol dan tidak terlepas liar.
Tentu akan berbeda jika batu itu ditambahkan pada tipe kapha yang bagaikan bejana air. Bejana itu akan meluap airnya dan batu itu tidak menjadi kebaikan baginya.
Jadi, sejatinya tidak ada hal baik ataupun buruk, yang ada hanyalah kesesuaian dan keberhasilan keterhubungan yang menjadi kebaikan, karena tanpa keterhubungan maka tidak ada keberhasilan yang menghasilkan kebaikan.