Sudah beberapa lama saya menghindari komunikasi dengan seseorang. Dia sudah mengirimkan email berkali-kali dan juga berusaha menelpon ke kantor maupun ke telepon genggam saya. Saya menghindar bukan karena tidak suka pada orang itu, tapi saya tidak suka dengan topik yang didiskusikan, yaitu berkaitan dengan serikat kerja.
Saya bekerja di food and beverages business belasan tahun dan berkecimpung dengan banyak komunikasi dengan serikat kerja. Bukan hal yang menyenangkan. Tidak semua serikat kerja merupakan institusi yang bersih. Oleh sebab itu saya menghindari bersentuhan dengan mereka.
Kedua, kondisi di tempat kerja sedang dilanda kekecewaan karena pihak di atas kurang profesional dalam menangani masalah yang sedang hangat di departemen saya. Nah dalam beberapa hari ke depan saya akan langsung berbicara dengan direktur eksekutif one on one dan saya akan beberkan secara gamblang dan terus terang. Yang saya hindari adalah reaksi emosional. Nah ini tidak akan terbantu jika saya terus menerus dirongrong oleh ajakan berkomunikasi dengan serikat kerja yang nota bene prosesnya nanti akan berlangsung berlarut-larut dan tidak berhasil banyak. Saya bukan orang yang naive dan tidak mudah dibujuk oleh serikat kerja karena sudah punya pengalaman belasan tahun bersama mereka.
Eniwei, sudah cukup dengan curhat saya. Kondisi ini memberikan ide untuk menulis hari ini, yaitu Living one day at a time!
Banyak diantara kita yang begitu khawatir akan masa depan atau terjebak di masa lalu hingga kehidupan saat ini lewat begitu saja. Ini suatu yang sangat mudah kita jumpai bahkan kita sering mengalami sendiri. Masalahnya, justru saat ini lah yang merupakan keseharian kita yang justru dapat mengubah. Jika kita hanya melihat ke belakang dan terus menerus khawatir akan masa depan hingga lupa bertindak saat ini, maka tidak akan ada perubahan yang kita inginkan yang bakal terjadi. Nah, berlatar belakang situasi yang sedang saya hadapi, maka ide tentang menjalani one day at a time muncul.
Kita harus fokus pada masa kini, saat ini, present time. Bukan apa-apa, karena menjalani hari demi hari, sehari demi sehari itu yang masuk akal. Melihat terus ke belakang dan mengerutkan kening tentang masa depan tidak akan berbuah banyak bahkan membuat kita lalai akan saat sekarang yang seharusnya kita fokuskan dan berbuat sesuatu agar kehawatiran akan masa depan itu tidak akan terjadi dan kesalahan di masa lalu dapat diperbaiki. Kita boleh saja bersemangat akan masa depan, tapi tetap kita harus ingat bahwa pijakan kita adalah di saat sekarang. Live in the present.
Yang kedua, berandai-andai itu harus kita tanggalkan. Tidak jarang kita berpikir, "Jika begini, maka"... Atau "Pada saat begini, maka.." Betul bukan? Misalnya kita sering berkata, "awas saja, kalau dia macem-macem, maka akan saya..." Nah situasi dan pikiran semacam itu bukanlah strategi yang baik dalam menghadapi sebuah situasi. Yang perlu kita dalami justru bukan reaksi terhadap sebuah situasi, itu artinya kita terlambat satu langkah. Kita menunggu suatu situasi terjadi lalu bereaksi, nah ini salah besar! Sekali lagi, reaksi artinya kita sudah tertinggal 1 langkah. Yang kita harus fokuskan justru mengantisipasi sebelum situasi itu terjadi sehingga kita dapat sudah siap menghadapinya atau malah kalau memungkinkan kita bertindak lebih dahulu sebelum kondisi itu terjadi.
Ada yang bilang bahwa cara hidup one day at a time akan membantu kita menemukan tujuan. Hmm.. ini masih membuat saya bingung. Bukan soal one day at a time nya, tapi mengenai tujuan. Terus terang walau saya sudah beberapa kali menulsi tentang tujuan hidup, saya masih terus menerus menghadapi ketidak jelasan. Saya tahu beberapa tujuan hidup jangka pendek, tentang target-target yang ingin saya capai, dan hal tersebut terus berkebang dari hari ke hari. Sesudah satu selesai saya berusaha menemukan yang baru begitu terus menerus. Cocok dengan one day at a time, dalam hal ini one purpose at a time, one goal at a time. Mungkin ini yang terus menjadi bahan bakar saya dalam menjalani kehidupan. Satu demi satu, sedikit demi sedikit, kadang berhasil kadang gagal, kadang seluruhnya kadang hanya sebagian. Kenapa tidak? Yang penting ada sesuatu yang dicapai. Hidup itu tidak sempurna, saya juga tidak sempurna. Jadi ya tidak apa-apa.
Barusan saya memang jengkel, bahkan saya bisa bilang bahwa saya marah karena situasi yang sedang saya hadapi, saya begitu emosional bahkan agak keras berbicara, tapi itu tidak akan membantu. Kondisi semacam ini tidak bisa dihadapi secara emosional karena akan berakibat buruk. Saya harus bisa merawat diri sendiri, saya harus bisa menjaga diri. Nah dengan menulis seperti ini, saya bisa memfokuskan diri pada hal-hal positif. Sambil menulis saya bisa melihat poin-poin apa yang bisa saya angkat ketika nanti hari Senin saya bertemu dengan direktur eksekutif. Kalau nanti tidak berhasil banyak ya tidak apa-apa, saya sudah berusaha dan hidup itu tidak selalu berakhir dengan sempurna. Tidak bisa selalu mendapat happy ending dan kegagalan atau kekurang-berhasilan justru memberikan tujuan lain yang harus dicapai. Living one day at a time give me purpose, bukan begitu?
Foto credit: ryanhart.org