AES 1546 Surrender
joefelus
Sunday December 14 2025, 7:37 AM
AES 1546 Surrender

Bagi saya, pagi yang sempurna itu adalah pagi yang tidak tergesa-gesa. Tidak masalah apakah ada agenda atau tidak, yang pasti yang saya inginkan adalah pagi yang sesuai dengan pace dan mood yang saya miliki pada saat itu. Seperti misalnya pagi ini, karena beberapa hari terakhir saya kurang sehat, sesudah selama hampir 1 minggu saya disibukkan dengan Ayah saya yang minggu lalu meninggal dunia, akhirnya saya jatuh sakit. Nah dalam kondisi tubuh seperti ini, tergesa-gesa adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan.

Sebenarnya banyak sekali yang harus saya lakukan. Masih ada 4 malam yang tersisa sebelum saya harus terbang ke Turkiye. Ini perjalanan yang sudah saya rencanakan berbulan-bulan yang lalu. Tiket sudah dibeli dan akomodasi serta itinerary sudah jauh-jauh hari difinalisasikan. Lalu sejak 2 bulan yang lalu mulai banyak masalah dengan kondisi Ayah saya. Pikiran tentang perjalanan itu akhirnya saya singkirkan jauh-jauh dan lebih berkonsentrasi pada Ayah.

Hidup saya memang selalui ditandai dengan banyak hal yang terjadi di menit-menit terakhir. Aneh memang, hampir selalu kejadian atau peristiwa besar dalam hidup terjadi dan terselesaikan di saat-saat akhir. Ini menunjukkan betapa dinamisnya, betapa serunya sekaligus juga betapa mengkhawatirkannya hidup saya hahaha.. Seperti misalnya dahulu ketika saya sedang bergumul dengan keputusan untuk pergi ke Hawaii pada bulan Nopember atau menunggu hingga pembangunan rumah selesai. Saat itu saya sama sekali tidak tahu bahwa akan terjadi krisis moneter pada bulan Desember. Entah wangsit apa yang saya peroleh tapi walaupun sekian banyak teman dan keluarga yang menentang, saya memutuskan untuk berangkat dengan modal menjual sepeda motor, 2 telepon selular dan perangkat elektronik. Saya tiba di Honolulu hanya dengan uang tersisa $150 dan di Bandung rumah yang setengah jadi. Beberapa waktu kemudian krisis moneter terjadi, Dollar yang tadinya hanya 2000-an menjadi lebih dari10 ribu Rupiah. Kalau saya menunggu beberapa waktu maka saya tidak akan pernah mampu membeli tiket ke Hawaii karena harga menjadi 5 kali lipat lebih mahal.

Cerita di atas baru satu kejadian, mungkin hanya kebetulan. Tapi saya percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan sebab seperti yang saya katakan dari sebuah kutipan beberapa kali dalam bulan ini, bahwa Life is not merely a series of meaningless accidents or coincidences, but rather, it's a tapestry of events that culminate in an exquisite, sublime plan. Saya yakin itu bahwa hidup bukan hanya serangkaian kejadian tanpa arti atau kebetulan, melainkan serangkaian peristiwa yang terjadi menuju sebuah rencana masterpiece yang luar biasa. Kejadian-kejadian luar biasa dalam hidup saya memang ketika saya amati dan renungkan dalam-dalam, berulang kali seperti itu. Yang biasa saya lakukan justru berpasrah diri dan menyerahkan semuanya kepada semesta, apalagi ketika semua usaha sudah saya coba.

Saya belajar dari pengalaman hidup bahwa seringkali berpasrah diri justru memberikan kesempatan pada semesta untuk mengatur hidup kita karena berpasrah artinya kita melepaskan kontrol, artinya kita berhenti melawan sesuatu yang tidak dapat kita ubah lagi, artinya juga kita menerima apa adanya, membiarkan kehidupan, membiarkan semesta melakukan yang terbaik bagi kita, menuntun serta mengarahkan dan termasuk mengatur timing-nya. Lucunya, itu semua pada akhirnya jika direnungkan benar-benar merupakan pengalaman spiritual. Bagaimana keyakinan dan iman kita sebetulnya memungkinkan itu semua. Ketika keyakinan kita terbentuk bahwa semesta akan mengatur semuanya, entah dilihat dari segi religius atau non religius, kita berpasrah diri dengan melakukan bagian kita lalu membiarkan proses terus berlangsung seperti ketika kita sedang bermain musik bersama-sama mengikuti notasi yang ada pada nada dasar yang sama agar terjadi sebuah harmoni tanpa menonjolkan bagian diri kita. Ketika semua berada pada resonansi yang tepat, disitulah keajaiban benar-benar terjadi.

Entah yang saya tuliskan ini masuk akal atau tidak, agak sulit mengungkapkannya. Pada intinya pada saya melihat bahwa sepertinya tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Saya sepertinya sudah direncanakan untuk bertemu dengan A, mengalami X, dan seterusnya. Pada saat-saat yang tepat ketika saya berpasrah diri melepaskan kontrol, berhenti menentang, menerima keadaan dan lain sebagainya akhirnya segala sesuatu menjadi satu frekuensi dengan cara kerja semesta dan berjalan sesuai dengan arah sebenarnya. Pertanyaannya apakah ini yang dimaksud dengan menerima takdir?

Foto credit: abide.com