Bicara soal kehilangan pasti setiap orang punya cara sendiri untuk menerimanya. Tak terkecuali waktu yang turut membantu membiasakan diri sehingga yang awalnya terasa berat berangsur bisa mulai mereda dan kembali melanjutkan perjalanan hidup. Tetapi kadang tanpa diminta, tanpa ada hal yang memicu, ingatan mampir seperti hendak menyapa diri dan untuk memastikan 'Ya, aku baik-baik saja' gak semudah mengucapkannya.
Hari kelima ramadhan aku kembali diajarkan untuk memeluk kesedihan atas kehilangan seorang lagi sesepuh di keluarga kami. Beliau adalah sosok ibu bagi siapapun, selalu ramah setiap ada orang berkunjung ke rumahnya. Dan aku selalu ingat setiap kali berpamit pulang kerap dibekali bermacam oleh-oleh, gak mewah, tapi perhatian dan ketulusannya membuatku gak pernah lupa. Tak hanya oleh-oleh berupa makanan yang mengenyangkan perut serta menghangatkan hati kami, beliau dengan suara lembutnya selalu saja menyelipkan kata maaf, "Maafin Nini ya, gak bekelin apa-apa?" sedangkan dalam genggaman tangan ini sudah terkepal banyak sekali.
Ingatan terbaik tentangnyalah yang In Shaa Allah menjadi bekal. Caranya menasihati tak pernah terasa menggurui, hebatnya lagi beliau tak pernah menyalahkan tetapi mengajak kami untuk berkaca pada diri sendiri. Aku belajar tentang ketulusan dari beliau, sesulit apapun keadaannya selalu gak pernah lupa untuk berbagi. Terlihat dari rumahnya yang senantiasa menjadi rumah bagi siapa saja, pintu yang terbuka tak pernah menjadikan orang sungkan untuk datang meski dengan segudang masalah. Kurasa jutaan tangis pernah tumpah di rumah itu, seperti hari dimana beliau kembali kepangkuan ilahi.
Aku sendiri menyimpan 3 momen istimewa bersama beliau; saat aku meminta nasihat jelang pernikahan, kemudian saat aku bercerita kegagalanku membuat lidah kucing dan terakhir adalah saat beliau mengatakan "Kita sedang disayang, ujian itu adalah tanda sayangnya Allah sama kita, sabar". Maka jika kepergiannya hari itu sebagai salah satu tanda sayang untuk menguji kesabaran, aku ikhlas. Insyaa Allah.