"Don't get caught up in thinking about the past or the future - live in the now!"
Kalimat di atas sering kita dengar. Pada intinya jangan terpaku pada masa lalu atau masa depan. Di masa pandemi ini saya banyak melihat bisnis gulung tikar, para pekerja kehilangan pekerjaan. Sangat sulit masyarakat tidak memikirkan masa depan, sebab sekarang saja banyak yang antri untuk memperoleh bantuan pemerintah hanya sekedar untuk melanjutkan hidup sehari-hari. Kondisi memang semakin membaik, sebelumnya antrian untuk memperoleh makanan gratis hinga berkilo-kilo meter jauhnya. Siapa yang tidak khawatir dengan masa depan dalam kondisi seperti itu?
Alhamdulillah saya tidak mengalaminya di masa pandemi ini, walau beberapa tahun lalu saya juga sempat antri di Foodbank untuk memperoleh sayuran, daging dan makanan gratis lainnya karena kehilangan pekerjaan selama beberapa bulan. Dalam kondisi sulit memang ada kencenderungan untuk menghadapi anxiety karena pikiran dilanda kekhawatiran. Itu saya alami. Bayangkan kehilangan pekerjaan artinya juga kehilangan semua benefit, seperti yang paling penting adalah asuransi kesehatan. Jika sakit biaya akan sangat mahal jika tanpa di-cover oleh asuransi! Hidup seperti tanpa perlindungan, seperti orang maju ke medan perang tanpa armor! Contohnya seorang teman saya baru-baru ini istrinya harus operasi usus buntu, dan karena tidak ada asuransi dia harus kalang kabut menutup biaya rumah sakit puluhan ribu dollar. Coba bayangkan!
Dari pengalaman yang saya hadapi, terlena dalam kekhawatiran akan masa depan dan terbelenggu dalam penyesalan akan masa lampau menjadi semacam distraction terhadap usaha yang seharusnya saya lakukan di saat ini! Perasaan-perasaan itu menjadi bumerang dan justru semakin mempersulit keadaan serta menghambat usaha perbaikan. Yang harus dilakukan justru to live in the present moment! Mindfulness of the present!
Apa yang dimaksud dengan living in the present moment? Artinya kita sadar, aware dan mindful atas apa yang sedang terjadi pada saat ini! Pada saat saya menghadapi masa sulit, untuk sementara saya harus mengabaikan, ignore, segala sesuatu yang sudah terjadi, dan abaikan kekhawatiran terhadap yang belum terjadi. Itu hanya gangguan yang membuat saya tidak fokus. Saya sempat menyesali kelalaian dan keterlambatan mengurus ijin kerja sehingga ijin keluar sangat terlambat dan harus kehilangan pekerjaan. Itu sudah terjadi dan tidak dapat diubah. Menyesali boleh, tapi tidak berlarut-larut dan saya belajar dari pengalaman mahal itu. Khawatir akan masa depan? Boleh saja, tapi apa gunanya jika berlarut-larut? yang bisa dilakukan adalah jaga kesehatan agar tidak sakit sehingga tidak perlu ke rumah sakit pada saat belum memiliki asuransi kesehatan! Kalau khawatir terus-terusan, justru saya jadi tidak bisa tidur, kurang istirahat, stamina turun malah nanti sakit betulan! Akhirnya yang harus dlakukan adalah fokus dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Aware akan kondisi yang ada dan memusatkan diri serta perhatian pada saat ini dan di sini! Saya proaktif, menghadap HR, melihat options yang tersedia dan mencari kesempatan-kesempatan yang pada saat itu terbuka. Akhirnya malah saya dapat hal yang jauh lebih baik! Saya tidak berkata bahwa sudah memahami mindfulness of the present, sama sekali tidak, malah istilah itu baru diketahui akhir-akhir ini! Saya susah payah kok, pusing, mumet dan watir pisan. Tapi saya sadar bahwa saat itu melakukan sesuatu yang tepat dan berbuah manis ketika saya refleksikan di kemudian hari.
Myrko Thum berkata," The present moment is the only thing where there is no time. It is the point between past and future. It is always there and it is the only point we can access in time. Everything that happens, happens in the present moment. Everything that ever happened and will ever happen can only happen in the present moment. It is impossible for anything to exist outside of it."
Present minded adalah kunci untuk tetap sehat dan bahagia! Hal ini membantu melawan anxiety, mengurangi kekhawatiran dan tetap membumi serta tetap terkoneksi dengan diri sendiri dan hal hal disekitarnya. Apakah living in the present itu mudah? tidak! karena kita selalu terdorong untuk memikirkan masa depan dan menengok kebelakang! Hal hal yang mempersulit kita untuk konsentrasi pada kekinian misalnya kita selalu menghilangkan hal-hal buruk pengalaman di masa lampau sehingga seolah-olah masa lalu lebih menyenangkan. Kedua, kita juga menghadapi banyak ketidak-tentuan masa depan yang mengakibatkan banyak kekhawatiran dan yang ketiga karena memang pikiran kita cenderung untuk menerawang kemana-mana.
Memikirkan masa depan dan masa lalu itu bagus. Jika tidak melihat keburukan dan kebaikan masa lalu serta mempelajarinya, kita tidak akan pernah dapat mempersiapkan diri pada masa depan. Yang harus kita lakukan adalah keseimbangan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Berpikirlah akan masa lalu dalam dosis kecil, dan jangan tanpa tujuan atau alasan. Misalnya hanya sekedar menghidupkan kembali memori indah di masa lalu, mengidentifikasi kesalahan di masa lalu agar dapat diperbaiki. Juga, berpikirlah akan masa depan secukupnya saja, fokus pada masa depan dengan cara yang sehat, bukannya memupuk kekuatiran tapi justru agar dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya, antisipasi! Tetap memusatkan perhatian pada masa sekarang sebanyak mungkin! Memang tidak semudah menjentikan jari dalam melakukannya, tapi dengan banyak latihan, hal itu bisa menjadi mindset yang bisa kita lakukan secara kontinyu lalu menjadi kebiasaan. Banyak latihan-latihan mindfulness of the present yang ditawarkan. Referensinya bertaburan di internet. silahkan dicoba!***