Arahnya ke atas, caranya merendahkan badan. Lho koq gitu!? Gak bisa gitulah caranya! Kalau ke atas, badan perlu semakin tinggi bukannya malah direndahkan.
Begitulah repotnya kalau sedang fokus ke arah, malah dipotong dengan ulasan cara. Seperti hendak memasak mie instan, yang dipersoalkannya kemiringan panci.
Arah itu selalu satu, caranya bisa banyak. Kalau mempersoalkan cara untuk merespon bahasan arah, membuang waktu saja. Seperti mie instan tadi, lebih baik matikan api dan beranjak pergi.
Kecuali, memang yang dibahas adalah cara. Seberapa derajat kemiringan panci yang paling efektif untuk merendam semua bagian mie yang masih keras itu. Silakan membahas sampai berbusa-busa karena fokusnya sama.
Kalau fokusnya beda, yang satu soal mie matang yang siap dimakan dan yang lain soal kemiringan panci agar mie matang merata. Tidak nyambung, tidak pernah nyambung, dan tidak akan nyambung. Buang saja mie nya, pesan nasgor.
Kenapa nasgor? Karena kedua orang yang berbeda fokus itu lagi lapar. Jadi langkah pertama adalah kenyangkan perut dulu, tenanglah pikiran. Sehingga mampu menetapkan fokusnya, ke mie matang atau ke panci miring.
Sudah tidakĀ mood membahas mie dan panci, karena sudah kenyang. Baiklah kalau begitu, kembali ke bahasan di paragraf pertama kita. Kalau ingin mengarah ke atas, caranya adalah merendahkan badan.
Kemudian menguatkan otot pinggang, merasakan regangan dan kencangan paha depan belakang. Buang napas dan tarik napas sambil menolak badan ke udara, loncat! Ke atas.
Lihatlah, bagaimana membiarkan cara beragam yang penting arahnya sepaham memberikan kepenuhan kepada semua orang yang mendengarkan. Tidak memotong sebelum selesai satu perkataan.
Karena kalau sudah searah sepaham, tidak perlu lagi ada perdebatan mengenai cara. Tidak perlu lagi ada potong sambung metoda. Hanya perlu menempatkan cara yang tepat pada orang yang tepat.