Kintsugi - "To repair with gold"; the art of repairing pottery with gold lacquer and understanding that the piece is more beautiful for having been broken
Seni memperbaiki keramik dengan cara seperti ini menurut aku keren sekali, hasilnya sangat cantik. Gak terbayangkan dari sesuatu yang terpecah berkeping, tetiba menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Ketika aku melihat kecantikannya aku teringat pada nasihat seseorang kepadaku tentang melepaskan luka. Sederhana sekali katanya, "Jangan diceritakan berulang-ulang".
Betul juga, kataku. Menarik. Terutama untuk aku yang perempuan ini, yang katanya seperti gelas-gelas kaca. Kesenggol sedikit, ups! Dan untuk memperbaikinya tentu gak mudah dan gak mungkin bisa kembali seperti semula. Selain itu kusadari, sisi melankolis menambah deret luka semakin sulit dilupa.
Oke, aku mau coba analogikan;
Bila sebuah luka diceritakan berulang-ulang, tentu ingatan-ingatan itu akan sering terpanggil dan hal ini seperti sedang menggenggam pecahan kaca. Semakin digenggam, semakin sakit lukanya. Maka hanya dengan tidak mengingatnya, perasaan terluka akan mudah tergantikan. Aku percaya, ingatan ada karena memang kita menginginkannya. Tentu, melupa pun bisa karena kita menginginkannya. Lalu bagaimana menyembuhkan? Adalah dengan melepaskan 'pecahan kaca' itu dengan memasukkan banyak-banyak ingatan baik. Bagiku mantranya; lupakan dan aku mengembalikan segala rasaku kepada sebaik-baiknya pemilik.
Memangnya bisa? Ternyata bisa! Aku juga heran kenapa tubuh manusia bisa sehebat itu? Tuhan Maha Sempurna, menciptakan manusia pun juga dengan sempurna. Dia yang memberi, Dia pula yang akan mengambilnya. Dia yang mencipta, Dia pula yang akan memampukan, sehingga apa yang awalnya ada dalam ingatan, akhirnya bisa hilang dan terlupakan. Sesederhana itu.
Aku memang gak pakai ilmu psikologi dalam menulis ini. Cuma berdasar pengalamanku saat belajar berhikmah dari melepaskan luka. Gold lacquer yang dipakai dalam mereparasi keramik kuanggap sebagai hikmah. Padanya ada keindahan yang baru bisa dirasa saat diri melihat ke dalam. Aku sendiri gak pernah menyangka tenangnya hati bisa hadir begitu saja. Ajaib.
Mengerti bahwa rasa benci, rasa marah hanya akan membunuh dan merusak diri sendiri. Melepasnya memang gak mudah, harus dibasuh terus menerus dengan banyak kebaikan. Liku luka gak pernah benar-benar hilang, tapi jejak yang sudah terbasuh kebaikan akan sama cantiknya dengan gold lacquer yang dipakai untuk memperbaiki keramik.
Sepaket eh sepakat Buy. Semua cerita hidup memperkaya warna diri kita. Pot dengan retakan-retakan berwarna emas terlihat lebih menarik dibanding pot yang seluruhnya berwarna emas. Bahagia bertemu bubuy dengan segala warnanya.
Warnanya cuma item sekarang, Nug. Hahahaha. Iya betul, senang sedih bahagia luka semuanya sama, sama-sama harus diberi ruang untuk dipeluk ya. Dan sama-sama perlu dilepas supaya rasa lain bisa hadir menyemarakan jiwa.
Wah ada tulisan @rico juga tentang Kintsugi https://ririungan.semipalar.sch.id/rico/blog/534/aes41-kintsugi
☝🏼😊. Keren nih tulisannya.
Asik, meluncur..