Kita sudah banyak mendengar, mungkin ratusan bahkan ribuan kali bahwa "practice makes perfect". Itu betul sekali. Semakin sering kita melakukan sesuatu semakin kita terbiasa dan tentunya kita amakn menjadi semakin terampil dalam melakukan itu.
Dulu ketika saya masih mengajar bahasa Inggris, saya selalu mengatakan bahwa berbahasa adalah mrupakan ketrampilan. Jika kita trus menarus berlatih, maka kita akan semakin terampil menggunakannya. Saya waktu itu selalu menganalogikan berbahasa dengan berlatih naik sepeda. Saya selalu bertaya apakah kita akan pernah dapat bersepeda jika hanya dengan membaca buku tentang cara bersepeda? Tentu saja anak-anak akan menjawab: tidak! Ya begitulah caranya jika kita sedang berusaha mempelajari sebuah skill. Kita tidak hanya bisa melakukannya dengan membaca. Skill atau ketrampilan itu bukan hanya sekedar pengetahuan, tanpa berlatih maka kita tidak akan pernah bisa melakukannya.
Memasak juga demikian. Apakah dengan membaca buku resep lalu dengan mudah menyebut diri kita chef? sama sekali tidak. memasak itu bukan pengetahuan, tetapi itu merupakan sebuah keterampilan. Tanpa berlatih, kita tidak akan pernah tahu bahwa semua garam itu memiliki tingkat keasinan yang sama. Sea salt dengan garam meja itu tidak sama. Tidak semua garam mempunyai tingkat keasinan yang sama karena density yang berbeda-beda. Jadi resep masakan itu sebetulnya adalah suggestion, anjuran, semacam pedoman dan ditambah pula bahwa setiap orang mempunyai ketajaman serta toleransi rasa yang berbeda-beda. Jadi sangat tidak mengherankan jika ketika kita mencoba masakan salah seorang chef kenamaan dan kita tidak terlalu cocok. Bukan berarti misalnya chef Gordon Ramsay masakannya tidak enak, mungkin saja karena selera kita berbeda. Sama misalnya dengan saya yang tidak dapat makan cinnamon rolls dari Cinabon, misalnya. Bukan karena cinnabon tidak enak, tapi karena tubuh saya tidak mampu mencerna cinnamon.
Sudah lebih dari 2 minggu saya membantu Nina memberikan antibiotik melalui PICC line yang suda selama ini nempel di lengan sebelah kiri dia. Kalau tidak tahu apa itu PICC line, itu adlah kateter, sejenis selang tipis yang dimasukkan kedalam pembuluh darah vena yang terus disalurkan hingga ke dada mendekati jantung. Kateter ini sering digunakan untuk memasukkan obat-obatan, cairan kemoterapi untuk penyandang kanker dan juga dapat digunakan untuk mengambil darah. Saluran ini terus menempel di situ selama dibutuhkan dan biasanya untuk jangka aktu tertentu, bisa lama, bisa juga sebentar. Dalam kasus Nina, kateter itu akan digunakan selama 6 minggu.
Saya pernah bercerita sekitar 2 minggu yang lalu bahwa Nina dan saya ditraining untuk memberikan antibiotik melalui PICC line itu. Nah sesudah dilatih, kami mulai melakukan sendiri di rumah sejak saat itu. Saya paling sering bertugas melakukannya terutama di pagi hari ketika Nina masih berbaring bahkan seringkali masih tertidur. Di awal memang saya begitu ragu-ragu, takut-takut dalam melakukannya. Tapi sesudah menjadi kegiatan rutin 3 kali sehari selama berhari-hari hingga menginjak minggu kedua, saya menjadi ahli. Semua kegiatan itu menjadi otomatis, saya menjadi mahir dan tidak perlu lagi mengingat-ngingat apa yang harus saya lakukan terlebih dahulu. Semua menjadi serba otomatis dan sudah jadi kebiasaan.
Malam ini Nina sangat sibuk dengan tugas akhirnya yang mungkin bulan depan akan disidangkan yang menjadi akhir dari perjalanan studynya setelah selama bertahun-tahun dia lakukan. Karena kesibukan itu, saya katakan pada dia untuk terus bekerja sementara saya berusaha memberikan antibiotik melali PICC line itu. Saya menyiapkan 3 macam cairan yang dikemas dalam bentuk syringe (semacam alat suntik tanpa jarum), anti biotik yang juga di dalam syringe, 4 buah sanitizer wipes, cap penutup saluran PICC, dan sebotol besar sanitizer untuk membersihkan permukaan dimana saya meletakkan semua obat-obatan itu. Butuh waktu sedikit lebih dari 5 menit untuk memberikan semua obat-obatan itu disamping juga beberapa menit untuk membersihkan permukan dan mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan. Nah sementara saya sibuk seperti perawat rumah sakit, Nina terus menerus menghadapi layar monitor dan sibuk bekerja sambil tangannya tanpa henti menari-nari di atas keybord menulis tugas akhir yang sedang dia kerjakan. Kami berdua bekerja dan melakukan tugas masing-masing tanpa saling mengganggu. Semua lancar dan selesai tanpa ada masalah karena sudah menjadi expert dan ahli. Masih ada 4 minggu lagi sebelum saluran PICC itu dicabut dan pengobatan dilanjutkan melalui mulut dalam bentuk tablet. Seperti saya katakan tadio di awal cerita saya, practice makes perfect!