Tali tambang kasar dalam genggaman, atau kerupuk putih dalam gigitan. Berlari-lari di bawah terkaman terik mentari. Tertawa, bersorak, menang, kalah, merah, putih. Inilah yang ada dalam benak banyak orang saat mengingat Hari Kemerdekaan. Inilah juga yang ada dalam benakku, dari tahun ke tahun. Sepotret gambaran kebahagiaan, kebebasan untuk bermain dan bertanding sepuas-puasnya. Kenangan akan perayaan tahun lalu, dicampur dengan ekspektasi untuk tahun ini.
Aku cukup kecewa tahun ini karena permainan yang biasanya jadi favorit – balap karung, sepak bola sarung, balap kelereng – tidak dijadikan opsi. Untungnya, yang jadi bintang tiap tahunnya ada: tarik tambang! Awalnya, seluruh KPB ingin mendaftar, tapi ternyata maksimal 12 orang, 16 tidak boleh. Jadi, tiap pagi, kami menyusun rencana untuk meneror Kak Ome dan Kak Bayu sampai boleh.
selamat pagi, kak! kenapa ga boleh 16 sih kak? 16 kan masih bisa dibagi 4 kak. kan total 28 orang, langsung aja 7v7 dong kak! ayo dong biar kompak kak. bambu yang kemaren buat main hockey ke mana kak?
Sekarang kalau dipikir agak malu juga dan kasihan. Tapi kami berhasil!
Rangkaian permainan terasa meriah dan menyenangkan. Mungkin karena tahun lalu aku panitia, tahun ini aku bisa lebih menikmati. Menonton anak-anak menyanyi, menertawakan Dea yang disuruh ikut lomba menggambar, main bulutangkis di sela-sela waktu. Karena sebegitu meriahnya, jadwal menjadi banyak berubah. Memang sulit mengkoordinir sekian banyak pertandingan dalam satu waktu. Itu yang terjadi tahun lalu – kurangnya koordinasi antar tim, kurangnya pencatatan tugas dan anggota, banyaknya panitia maupun peserta yang jadi menganggur karena tidak tahu harus berbuat apa. Ini juga, tampaknya, yang terjadi tahun ini. Ada beberapa permainan yang sepertinya terlewat, beberapa peserta yang ditunjuk tiba-tiba. Kami menunggu lama sekali hingga pertandingan tarik tambang dimulai, apalagi dengan pembagian kelompok mendadak dan tidak efektif.
Tetap saja, begitu sudah mulai main, semua kekesalan itu luntur. Kami menarik dan menancapkan kaki di tanah, lalu menarik, lalu menarik. Juara 2!
Kami mendapat hadiah buah potong (sesuatu yang menurutku patut diapresiasi dari 17an tahun ini, karena sehat). Tapi bagiku buah potongnya membuat bingung. Tinwol buah itu tiba-tiba ditinggalkan di tanganku oleh seorang dari kelompok, lalu orang-orang lain dari kelompok tidak ada yang tampak tertarik, lalu aku tidak enak kalau makan buah sendiri sementara kelompokku tidak. Jadi aku berikan buat Kak Robert biar dia saja yang bingung.