AES 1566 Langkah
joefelus
Saturday February 7 2026, 8:18 AM
AES 1566 Langkah

Ketika dihadapkan pada banyak kekalutan, harapan menjadi sangat penting karena, seperti yang dikatakan oleh Psychology Today, dapat memberikan motivasi, stabilitas emosional dan ketangguhan yang memungkinkan setiap individu mengarahkan usaha untuk menjadi lebih baik. Harapan berperan sebagai coping mechanism sehingga dapat menghasilkan tindakan-tindakan positif.

Kalau kita menyaksikan berbagai kekeruhan yang terjadi di dunia, apalagi jika kita terlibat di dalamnya, saat ini bukan merupakan masa-masa yang baik. Ambil contoh misalnya di Amerika, karena saya kebetulan sangat lekat dengan negara itu dimana Kano, anak semata wayang saya adalah warga negara dan tinggal di sana, maka kekhawatiran dan kekalutan selalu saya alami.

Saya baru saja kembali dari berlibur dan menengok Kano di Colorado. Memang situasi di state itu terhitung tidak seberapa runyam jika dibandingkan dengan Minnesotta, misalnya dimana sudah ada beberapa korban jiwa karena ketidak-becusan aparat, kebijakan pemerintah yang nyeleneh dan juga pemerintahan ditangani oleh banyak orang yang sangat tidak kompeten. Kekisruhan itu menimbulkan banyak ketakutan di seluruh negeri, terutama di kalangan para imigran yang sering kali menjadi korban walau secara legalitas mereka memang tidak melanggar apa-apa. Karena para aparat yang tidak becus ini hanya melihat warna kulit, tanpa melalui jalur dan proses hukum yang benar, dengan semena-mena mereka menciduk para korban itu. Entah apa motivasi pemerintah melaksanakan kebijakan ini, saya tidak mengerti. Jika alasannya untuk mengurangi tingkat kejahatan, mengapa banyak korban yang ditangkapi adalah warga yang taat peraturan dan legal? Jika berusaha membuka lapangan kerja yang selama ini diambil oleh para imigran, mengapa setelah ratusan ribu imigran dideportasi sekarang lapangan kerja tetap tidak tersedia? Bahkan jikapun tersedia tidak dilirik oleh warga Amerika berkulit putih? Menurut saya ini merupakan sesuatu yang absurd.

Saya tidak banyak berbuat apa-apa, itu saya akui karena pada dasarnya saya tidak mempunyai banyak kepentingan kecuali jika berkaitan dengan kesejahteraan Kano. Selebihnya, saya memang menjadi sangat berhati-hati dalam bertutur kata dan menyampaikan pendapat sebab saya tidak mau kesempatan untuk datang mengunjungi Kano terganggu. Saat ini pemerintah Amerika memeriksa sosial media para pelamar Visa. Jika ada indikasi menyampaikan pendapat yang bertentangan dengan pemerintah, maka sudah pasti ijin memperoleh Visa ditolak. Diam pada saat ini bagi saya adalah hal yang terbaik. Tapi bagaimana dengan warga negara? Mereka yang prihatin turun ke jalan. Entah berapa juta manusia dan di berapa banyak kota masyarakat turun ke jalan untuk protes agar aparat imigrasi keluar dari daerah mereka.

Sejak tanggal 26 Oktober 2025, sekelompok Biksu dipimpin oleh Biksu Pannakara, yang dulunya adalah seorang pakar IT, lulusan University of Texas di Arlington, memutuskan untuk meninggalkan karir dan hidup menjadi biarawan Budha dan sekarang memimpin rekan-rekannya melakukan perjalanan sejauh 2300 miles, berjalan kaki, tanpa bicara! Justru ini merupakan kebalikan dari situasi yang terjadi di Amerika yang banyak bicara, banyak bertikai dan tidak menghasilkan apa-apa. Yang diperlukan adalah harapan bahwa semua itu bisa lebih baik, dan sering kali kata-kata justru memecah-belahkan masyarakat. Lihat yang terjadi, jutaan masyarakat berbondong-bondong bersatu menyambut mereka, mengulurkan kasih dan perhatian dalam bentuk yang sangat sederhana. Sentuhan kemanusiaan yang selama ini terbengkalai mulai muncul tidak hanya pada sesama, bahkan pada seekor anjing, Aloka. Yang mereka lakukan bukan berdakwah, preaching, atau berdebat tentang mana yang benar, tapi sentuhan kemanusiaan. Merawat kaki yang luka-luka, memberi pijatan bahkan memandikan Aloka. Sesuatu yang menyentuh dan jauh dari kebencian.

Salah seorang dari biksu itu mengalami kecelakaan pada tanggal 19 November. Perhatikan apa yang terjadi, walau beliau harus merelakan satu kakinya diamputasi, yang beliau sampaikan adalah rasa kasih dan uluran tangan memberi maaf. Tidak ada huru-hara bahkan demo di jalan. Biksu itu menganggap sebagai pengorbanan demi kedamaian! Lagi-lagi sisi kemanusiaan yang dicontohkan. Saya merasa sejuk dan terharu apalagi saya sungguh mengerti penderitaan yang para biksu itu alami. Bayangkan saja mereka berjalan kaki ribuan kilometer menembus udara yang tidak bersahabat. Pernah memperhatikan sepatu yang mereka pakai? Ada yang bahkan tidak bersepatu! Jikapun bersepatu, walau itu mungkin sepatu untuk berjalan jauh, jika melihat bentuk dan modelnya, saya ragu-ragu apakah sepatu-sepatu itu insulated dan waterproof! Pernah berjalan kaki di suhu dibawah nol derajat dengan sepatu yang tidak tepat? Sangat menyakitkan! Pada awalnya kaki merasa kedinginan lalu berakhir dengan rasa sakit luar biasa, apalagi jika sepatu itu basah, air dan udara sangat dingin itu kombinasi yang mematikan. Jika kita perhatikan minggu-minggu terakhir di bulan januari, ada badai saju besar-besaran di daerah Timur. saya tidak mampu membayangkan penderitaan para biksu itu. Tapi ada hal-hal penting yang kita semua pelajari dari contoh-contoh yang diberikan oleh para biksu itu, yaitu setiap langkah yang mereka lakukan adalah sentuhan rasa kasih, setiap langkah mereka adalah harapan, setiap langkah mereka adalah tawaran kedamaian!

You May Also Like