AES 1313 Kuman
joefelus
Wednesday January 29 2025, 10:26 AM
AES 1313 Kuman

"Pak, kuman di Indonesia tuh ganas-ganas untuk orang yang hidup lama di luar negeri." Itu sebagian dari komen mbak @sanya di tulisan saya kemarin.

Betul juga sih, bulan ini saja saya sudah sakit 2 kali. Hampir menjelang pertengahan bulan Januari kemarin malah saya deman hingga saya khawatir terkena thypus. Beberapa hari terakhir ini saya mengalami masalah pencernaan, mual-mual dan sebagainya. Semua masalah saya sejak bulan Agustus tahun lalu, entah sudah berapa kali, mungkin hampir 10 kali masalah kesehatan yang saya alami selalu berhubungan dengan pencernaan.

Dulu ketika saya mudik dan tinggal sekitar 1 bulan lamanya, saya sengaja minta disuntik. Divaksinasi kolera, thypus, parathypus. Kalau tidak salah dulu istilahnya Kotipa. Hanya saja karena vaksinasi itu biasanya untuk anak-anak, maka saya dulu harus ke BKIA dan jadi bahan gurauan para suster dan ibu-ibu muda yang sedang membawa bayi-bayi mereka ke sana. "Ayo buka baju, ditimbang dulu!" Kata suster sambil terkekeh-kekeh disambut gelak tawa puluhan ibu-ibu yang ada di sana. Itu bukan kata-kata sesungguhnya, sebab suster itu sebetulnya menggunakan kata telanjang, bukan hanya buka baju! Bayangkan betapa malunya saya ditertawakan orang-orang 1 klinik! Sejak saat itu saya kapok dan enggan ke sana lagi. Bahkan ketika pulang dari Hawaii dan menetap di Bandung selama beberapa tahun saya tidak mempersiapkan diri dengan masa transisi kembali ke "alam nyata". Saya waktu itu sibuk dengan Kano yang mengalami masalah pencernaan terus-terusan. Saya tidak ingat apakah saya waktu itu banyak mengalami masalah pencernaan. Mungkin karena fokusnya pada Kano sehingga saya benar-benar tidak ingat.

Ini hanya sekedar berbagi. Karena saya memang sudah mengantisipasi apa yang akan saya hadapi. Saya sudah sangat berhati-hati, bahkan untuk gosok gigipun saya menggunakan air aqua, tidak berani sama sekali menggunakan air keran! Saya tidak makan makanan pinggir jalan hingga berbulan-bulan lamanya, jika saya berani jajan, selalu membeli makanan panas di restoran, seperti misalnya nasi goreng, atau makanan panas lainnya. Lalu sesudah itu mulai memilih tempat makan mana yang bersih. Uji coba sekali, dan lihat hasilnya apakah tubuh saya bisa beradaptasi dengan makanan ini atau tidak. Jika aman, saya akan kembali lagi, jika tidak saya berhenti.

Sakit pertama kali saya adalah ketika makan bakso Malang. Padahal ini makanan panas, dan saya yang memilih sendiri. Mereka sajikan semuanya dalam keadaan panas. Gorengan yang dingin saya tidak pilih. Lalu saya sakit, murus-murus, mual-mual dan sebagainya. Mangkok dan alat makannya tidak bersih? Ini salah satu kemungkinan. Di Tanah air proses mencuci alat masak dan alat makan masih tradisional, tidak menggunakan air panas dan sanitizer seperti di negeri yang saya pernah tinggali. Di sana suhu air untuk mencuci, membilas dan mensanitasi saja diukur. PH juga diukur. Jika tidak mencapai ukuran standar maka dibuang dan diganti. Jika mesinnya tidak mencapai kualitas yang diinginkan, maka akan diperbaiki bahkan kalau perlu diganti. Demikian mereka menjaga kebersihan apalagi yang berkaitan dengan makanan.

Saya kebetulan berkecimpung dengan produksi makanan dan minuman, jadi saya tahu benar. Kano yang bekerja di dapur saja harus ikut ujian ServSafe. Ini badan yang menangani kompetensi tentang keselamatan dalam bidang makanan dan minuman. Dia harus tahu proses persiapan, produksi, dan penyajian. Mereka harus hapal bagaimana menempatkan makanan mentah di kulkas. Daging mentah tidak boleh ditaruh dipaling atas di atas sayuran mentah misalnya. Itu semua untuk menghindari cross contamination. Ada aturannya ada urutannya apa harus diletakkan dimana. Pelabelan juga penting karena semua harus tahu kapan kaleng ini dibuka dan kapan harus dimusnahkan sesudah dibuka sekian waktu. Menerima makanan kalengan juga ada aturannya, jika kalengnya cacat, jangankan menggelembung, ada dents atau dekokan saja maka akan dikembalikan. Makanan matang juga harus diperhatikan suhunya. Makanan panas harus ada diantara suhu tertentu, makanan dingin ada aturan suhunya juga. Berapa lama saat penyajiannya juga ada aturannya, lebih dari 4 jam misalnya, maka harus dibuang. Nah, tubuh saya sudah sekian tahun terbiasa dengan kebersihan semacam itu. Jadi wajar kalau saya sering jatuh sakit karena tubuh ini masih membangun tameng kekebalan.

Mungkin dengan bertambahnya usia, kekuatan dan kekebalan saya sudah jauh berkurang dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu. Mudah dilihat, semenjak saya pulang ke tanah air, sekitar 6 bulan yang lalu, hingga sekarang saya jatuh sakit lebih sering daripada selama 8 tahun saya tinggal di Colorado. Dulu saya selalu membanggakan diri sebagai orang yang sehat dan bugar. Saya berenang minimal 3 kali seminggu dan ke gym 3 hingga 5 atau 6 kali seminggu, tidak tanggung-tanggung saya masih menjalani High Intensity and Interval training, bukan hanya lari di treadmill. Kalau tidak ke gym saya lari minimal 3 kali seminggu sejauh minimal 5km. Jalan kaki setiap hari hampir dipastikan melewati 10 ribu langkah.

Nah beda sekali dengan sekarang. Jalan raya di sini sangat tidak aman untuk lari. Jangankan lari, untuk jalan saja trotoar seringkali tidak tersedia. Kalaupun ada justru dipakai parkir atau orang berjualan. Tidak aman! Udara juga tidak bersih. Pernah mencoba jalan kaki keluar rumah ke jalan raya dan kembali ke rumah lalu ambil kertas tissue dan mengusap wajah? Saya jamin hitam! Hahaha..

Akhirnya saya memutuskan berolahraga di rumah. Jaman sekarang teknologi bisa kita manfaatkan, saya nyalakan TV lalu tinggal mengikuti instruksi untuk olahraga aerobik, stretching dan sebagainya. 1 jam sehari, lumayan untuk kebugaran. Tapi sepertinya itu belum cukup, ternyata tubuh saya belum mampu menangkal kuman, seperti yang dikatakan mbak Sanya. Seperti anjurannya, kalau terus-menerus begini saya memang harus memeriksakan diri. Tapi saya juga takut ke rumah sakit karena di sana saya terpapar berbagai macam ragam penyakit lainnya karena sistem rumah sakit yang bagi saya masih menyeramkan. Maklum, hitung saja berapa jumlah rumah sakit di Bandung, bandingkan dengan jumlah penduduknya. Berapa rasio nya? Orang Bandung memang sakti-sakti.. Saya masih harus berlatih sebelum benar-benar turun gunung ke dunia persilatan! Hahahaha...

Foto credit: detik.com

sanya
@sanya   last year
Wah komennya dibalas pakai esai! Mantap pak Joe hahaha
Nah untuk memperkuat mikrobiome pencernaan bisa konsumsi makanan ber probiotik dan prebiotik pak untuk melawan kuman2 tanpa obat😁
joefelus
@joefelus   last year
Terima kasih :), Ini memang sudah jadi masalah saya seumur hidup. Sudah ditangani berbagai dokter dari Bandung, Honolulu hingga FortCollins. Hebatnya resepnya sama hahaha.. Saya pakai antacid kalau memang sudah tidak tertahankan, dan minum probiotik secara teratur. Nah Prebiotik yang saya baru tahu. Akan cari info soal ini. Terimakasih ya Mbak :)
joefelus
@joefelus   last year
Ah.. akhirnya tahu apa itu prebiotik. Ya.. saya juga makan banyak sayuran dan 1 sisir pisang sejak kemarin serius ini, sesisir kurang malah, masih kepingin :)