AES010 Ekspektasi
Hanief Adnadi
Saturday January 21 2023, 6:53 AM
AES010 Ekspektasi

image source

Kemarin aku membawakan olahan “pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data” di kelas. Di sesi sebelumnya anak-anak sudah mendapatkan olahan awal tentang “apa itu data”. Mereka bahkan sudah mengerjakan survey kecil-kecilan tentang “data tersebut” dengan lingkup kelas mereka masing-masing. Ketika mereka menyusun pertanyaan survey, yang kuamati di hari itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul banyak merupakan pertanyaan data kualitatif. Misal, pertanyaan tentang lagu favorit, serial drama favorit, diktator paling kejam (ya, ada yang bertanya seperti ini. Bukan, bukan dia ingin meniru diktator tersebut), dan lain-lain. Karena survey yang muncul itu lah aku memutuskan untuk membawakan olahan tentang perbedaan data kualitatif dan data kuantitatif di hari ini

Kemudian di jam olahan, aku mengajak anak-anak mengulang survey kecil-kecilan kemarin dengan syarat tambahan: data yang dikumpulkan harus data kuantitatif. Sekarang muncul banyak pertanyaan-pertanyaan seperti “berapa ukuran sepatumu” atau “berapa saudara kandungmu”. Tetapi ada satu anak yang membuat pertanyaan “menurutmu ada berapa jumlah negara di dunia?”

Baru saja aku membuat tulisan tentang “Ilmu Nujum” dari matematika. Ilmu menebak-nebak sebuah kuantiti. Di sana aku juga menyinggung sedikit menyoal wisdom of the crowd. Berikut penjelasan penuhnya.

Suatu hari di tahun 1906 seorang matematikawan bernama Sir Francis Galton mendatangi festival rakyat di kota Plymouth, Inggris. Ia ingin melakukan eksperimen sosial. Umumnya festival rakyat di Inggris mencakup berbagai lomba untuk petani dan peternak, misalnya “siapa yang panen gandumnya paling banyak di musim panen ini”, “siapa yang mampu mencukur domba paling cepat”, dan “siapa yang sapi ternaknya paling gemuk”. Galton mendatangi sayembara sapi tergemuk lalu menanyakan berapa sapi pemenang sayembara tersebut. Setelah panitia timbang, beratnya 1198 lb (543.40 kg). Ia meminta agar panitia tidak mengumumkan langsung berat sapi yang menang, lalu ia melakukan survey terhadap pengunjung festival. Ia menanyakan “berapa berat sapi yang menang sayembara”. Dari 787 orang yang ia survey ia kemudian mengambil mediannya dan angka median tebakannya adalah 1207 lb (547.49 kg) (Galton, 1907). Ajaib bukan? Tebakan masyarakat dengan sample yang banyak itu dapat menghasilkan tebakan yang hanya meleset 9 lb, atau 0,8% dari berat aslinya. Itu yang kemudian Galton dan peneliti-peneliti setelahnya sebut wisdom of the crowds. 

(Intermezzo, ada anak yang sempat bertanya, “Ada 700 orang cuma nonton sayembara sapi paling gemuk?” Ya…itu jaman sebelum ada TV, ponsel, dan playstation, hiburan mereka ya itu hahaha)

Dalam olahan kelas, anak tersebut mengangkat pertanyaan survey yang seharusnya akan mencerminkan wisdom of the crowd. Pertanyaan “ada berapa negara di dunia” ini menyerupai pertanyaan “berapa berat sapi pemenang sayembara” karena ia akan menghasilkan jawaban berupa kuantitas dan setiap penebak akan diajak untuk mengestimasi berdasarkan pengetahuan umumnya. (Kita kesampingkan dulu definisi negara dan siapa yang diakui sebagai negara dan siapa yang bukan, karena itu ranah sosiopolitik dan ekonomi yang sudah di luar bahasan ini). Konklusi dari Galton adalah ketika seseorang diminta mengestimasi suatu kuantitas jumlahnya bisa jadi meleset jauh, namun jika banyak orang diminta untuk mengestimasi kuantitas tersebut median tebakannya akan mendekati nilai aslinya. Ini terlihat di pertanyaan anak tersebut karena ia hanya sempat mensurvey 10 orang dan tebakan yang muncul mulai dari 7 sampai 220 negara. Error yang dihitung di kelas masih jauh dari angka asli dari PBB. Aku pun usil mengajak anak ini untuk meningkatkan samplenya. Aku bilang, “Coba kamu tanya semua orang di sekolah, kita lihat nanti apakah error-nya ngurang atau nambah”.

Kenapa tulisan ini kuberi judul “ekspektasi”? Karena aku sama sekali tidak memiliki ekspektasi bahasan ini akan keluar di olahan yang akan kubawakan. Kupikir semuanya akan membuat survey yang menanyakan “tinggi badan”, “ukuran sepatu”, “jumlah pasang sepatu di rumah”, “jumlah potong kemeja yang kamu punya”, atau paling banter “berapa isi lagu di spotify playlist”. Aku benar-benar terkejut dengan survey dia. Untungnya aku bisa menjadikan ini pengantar untuk pengetahuan baru untuk anak-anak.

Yang ingin aku tekankan adalah, jika kita memberi ruang agar anak bisa berekspresi dia akan mengejutkan kita dengan pemikirannya. Kita sebagai “kakak” (dalam arti orang yang lebih dahulu lahir di dunia ini sehingga sudah memiliki pengalaman hidup lebih, tidak harus sebagai istilah fasilitator Semi Palar) cukup memberi mereka ruang untuk eksplorasi dan memberi mereka tools dan konteks eksplorasi tersebut. Mereka bisa mengejutkan kita, dan ketika mereka berhasil mengejutkan kita, it’s the best d*mn feeling in the world. Jadi, bravo untukmu hari ini! Kak Hanief tunggu hasil surveymu selasa nanti

P.S.: Jika ada yang membaca tulisan ini kemudian ditanya “berapa jumlah negara di dunia” oleh siswa-siswi K7 Semi Palar, kumohon ketika akan menjawab jangan langsung google jawaban resminya ya! Tetap gunakan estimasi supaya hasil surveynya tetap sahih

Andy Sutioso
@kak-andy   3 years ago
Wow tulisan keren lagi ini kak Hanief. Terima kasih sudah membagikan pengalaman di kelas di ruang ini. Tulisan keren - karena mencakup topik matematika, fasilitasi dan olah rasa juga. Mantap banget. Ditunggu tulisan berikutnya kak. 👍😊