Memasuki Tahun Pendidikan ke 17 ada sesuatu yang berbeda yang kami coba lakukan bersama. Dalam situasi pandemi COVID-19 ini kami dituntun untuk berkenalan dengan DOBEDOBEDO. Buat generasi saya, kata-kata ini akrab di telinga kita, sesuatu dari filem kartun Scooby Doo. Tapi ini ga ada hubungannya sama sekali dengan filem itu. Buat yang ingin tahu lebih jauh salah satu esai saya menuliskan tentang DOBEDOBEDO ini.
DOBEDOBEDO pada dasarnya adalah upaya menjadikan hidup kita lebih seimbang. Keberlangsungan alam semesta sampai saat ini adalah karena keseimbangan semata. Segala sesuatu yang tidak seimbang pastinya akan gampang rusak. Karenanya alam semesta selalu bekerja dalam siklus (cycles) - sesuatu yang berputar, berulang dan saling melengkapi. Siklus siang dan malam, siklus musim hujan dan kemarau, perputaran bulan di sekitar bumi dan seterusnya. Dari siklus yang singkat hingga siklus yang perputarannya mencapai puluhan ribu tahun.
Lalu apa itu Do Be Do Be Do. Eksistensi manusia sebagai insan (human being) ternyata sangat terkait dengan hal ini. BE (Being) erat kaitannya dengan dimensi kesadaran. Doing adalah melakukan segala sesuatu termasuk di dalamnya berpikir. Menarik ya. Ternyata untuk menjadi manusia yang berkesadaran, kita perlu banyak berada dalam Being. Being ini menarik kalau dijabarkan lebih jauh. Tapi kalau disederhanakan lagi Being adalah semata-mata non-Doing. Tidak melakukan apa-apa, jadi manusia perlu meluangkan waktu untuk berada dalam hening dalam diam... DOBEDOBEDO saya terjemahkan sebagai siklus keseimbangan yang dibutuhkan untuk menjadi manusia seutuhnya.
Hari belajar siang tadi juga membahas lagi tentang hal ini. Rusaknya planet bumi, kacaunya sistem peradaban semata-mata terjadi karena manusia modern sudah tidak tahu lagi bagaimana Being tadi... Manusia sibuk berpikir dan melakukan segala sesuatu - tanpa meluangkan waktu untuk Being... Akhirnya segala sesuatu dilakukan di luar kesadaran dirinya. Lupa pada Being-nya. Padahal manusia adalah Human Being, bukan Human Doing. Kak Gina menuliskan tentang ini dengan sangat menarik dalam tulisannya How To Be Joyful. Ga ada yang harus dilakukan, just Be Joyful... Kalau kesadarannya menyala, manusia bisa bahagia begitu saja... Ga ada itu yang namanya the Pursuit of Hapiness. Ini konsep yang salah, karena kebahagiaan ada di dalam diri. Lalu apa yang mau dikejar? Bagaimana akan ketemu kalau manusia mencari kebahagiaan di luar dirinya...
Kalau manusia bahagia, konten, damai, tidak akan ada hasrat dalam dirinya untuk melakukan keburukan... Dia akan memancarkan kebaikan. Whatever he or she is doing, everything will be an expression of happiness. Hal yang sama digambarkan dalam filem yang kita bedah bersama di awal Tahun Pendidikan ini, sebelum masuk minggu perencanaan. Tentang ini saya tuliskan dalam esai saya yang berjudul Berbeda Pandangan dengan Descartes. Di dalamnya ada filem yang berjudul Beyond Thinking.
Walaupun kita (kakak-kakak) masih belajar, karena baru paham (ngarti), mudah2an proses belajar ini menuntun kami pada bisa dan tuman. Mudah2an tidak berlebihan kalau saya merasakan ada Being yang berbeda di tahun ini di kakak2 Smipa. Semoga hal ini membawa kebaikan pada proses yang akan berjalan. Kita lihat apa yang akan terjadi...
Fully agree. Sependapat juga soal Descartes. Pengen baca esainya tapi tautannya ke ning, udah ngga ada....
Halo Dini, wah iya, waktu migrasi dari Ning ke Jamroom (platform yang sekarang ini, banyak link di dalam badan tulisan yang belum sempat diedit. Yang ini saya coba perbaiki. Nuhuun.