Ini edisi curhat hahaha.. Saya pernah sakit hati terhadap seorang guru. Guru bidang studi bahasa Indonesia. Saya sudah berusaha melupakan, tapi namanya juga sakit hati dan pada saat itu saya masih di tahap awal masa remaja, masih SMP dan sudah berusaha memaafkan beliau tapi peristiwa itu memang masih terus mengganjal, bahkan karena peristiwa itu saya menjadi pembenci mata pelajaran bahasa Indonesia walaupun sesungguhnya saya sangat senang belajar bahasa. Setidak-tidaknya sudah lebih dari 5 bahasa yang saya pernah pelajari.
Yang lucu, bertahun-tahun kemudian guru tersebut kemudian menjadi kepala sekolah dimana saya mengajar, bahkan bersama-sama menjadi anggota dewan paroki. Hahaha..
Eniwei, ini sekedar cerita yang berkaitan dengan kegemaran saya menulis. Juga sekedar berbagi tentang bagaimana seorang guru sebaiknya mendampingi para siswa mereka. Ini menjadi sebuah pelajaran yang sangat luar biasa dan berpengaruh bagi saya ketika kemudian menjadi guru.
"Kamu belum mengumpulkan tugas." Kata pak guru itu.
"Loh khan sudah pak. Minggu lalu." Kata saya
"Oh, karangan tentang cerita orang lain itu?" Katanya dengan wajah sinis, menganggap remeh dan juga mengejek.
Pada saat itu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya begitu membenci seseorang. Saya betul-betul benci pada guru itu dan mengubah saya dari seorang pelajar yang santun dan manis menjadi seorang yang rebellious, selalu melawan, menantang dan sering dihukum. Guru itu sangat abusif, menyakiti murid2nya ketika menghukum seperti menarik cambang ke atas, atau mencubit pinggang hingga hitam biru, manyikat bibir atau mulut dengan kemoceng atau penghapus papan tulis. Saya salah satu pelanggannya.
Mengapa saya sakit hati dan benci dia? Karena dia mengejek hasil kerja keras saya dan dianggap tidak pernah mengumpulkan tugas walaupun sebenarnya karangan itu telah saya buat sebanyak berlembar-lembar kertas folio bergaris dengan ditulis tangan selama berhari-hari bahkan hingga larut malam. Saya anggap karangan ini sebagai sebuah masterpiece, sebagai sebuah cerita yang sangat saya banggakan karena telah berhasil menarasikan imajinasi saya sedetail mungkin, berlembar-lembar dan saya merasa puas ketika menulisnya. Ketika melihat reaksi guru itu, saya langsung seperti orang yang terhina, tidak dihargai, orang yang disepelekan dan diejek. Saya tidak pernah mau mengarang lagi, benci pelajaran bahasa Indonesia dan benci pada guru itu!
Tugas mengarang itu saya tulis berhari-hari, menceritakan seorang anak laki-laki yang kehilangan ibunya dan berusaha mencurahkan isi hatinya, rasa sedihnya, patah hatinya dalam sebuah lukisan. Ketika dia melukis, dia membayangkan masa bahagia bersama ibunya, mengenang kembali masa-masa kecil yang masih diingatnya, kadang dia berhenti menggambar dan menangis di sudut, kadang dia tertawa gembira ketika mengingat peristiwa yang menyenangkan, semua goresan-goresan kuasnya di kanvas merupakan curahan isi hatinya. Semua itu saya ceritakan secara detail, paragraf demi paragraf, satu cerita ke cerita lain, pengalaman satu disusul dengan pengalaman lainnya. Anak itu melakukan refleksi selama melukis. Sebuah cerita yang panjang berlembar-lembar yang saya narasikan menjadi sebuah kejadian yang dialami anak itu semalam suntuk ketika melukis.
Beberapa paragraf yang saya tulis sebetulnya mengambil beberapa pangalaman pribadi bersama ibu saya. Dan teman-teman mungkin tahu di sekolah seringkali ada anak yang rundung, suka merundung, membully teman-temannya. Saya tidak mau itu terjadi pada saya ketika mereka tahu cerita yang saya tulis banyak kesamaan dengan pengalaman pribadi. Mengingat itu, saya punya ide cerdas, setidak-tidaknya itulah niat saya, yaitu memulai karangan ini dengan berpura-pura orang lain yang bercerita pada saya. Tujuannya adalah melepaskan kelekatan saya dengan karangan itu. Ide jitu bukan?
Nah, guru itu (duh, ternyata saya masih benci dia hahaha..terus terang saat ini saya ingin memaki hahaha, tapi beliau sudah pergi menghadap yang ilahi, jadi saya urungkan) Guru itu "percaya" bahwa saya menuliskan cerita orang lain! Kerja keras saya tidak dinilai dan dianggap tidak pernah memasukkan tugas.
Lama saya merenungkan peristiwa itu. Seandainya, ini seandainya ya, guru itu memang kompeten, seharusnya walaupun itu misalnya bukan cerita original, maksudnya itu cerita orang lain, setidak-tidaknya dia dapat menilai bagaimana cara saya mengembangkan cerita itu dalam bentuk tulisan yang detail dan mengalir dengan baik. Ini pelajaran bahasa Indonesia, yang dinilai bukan "isi cerita"-nya saja, tapi bagaimana seseorang mampu bernarasi, atau jaman dulu istilahnya bagaimana seseorang membuat karangan, berimajinasi dan lain sebagainya. Belum lagi seharusnya dia, sebagai guru bahasa, menilai penggunaan tata bahasa, bagaimana menulis kalimat, paragraf, penggunaan tanda baca dan sebagainya. Guru itu memang tidak becus! Heran mengapa dia diangkat jadi kepala sekolah.
Sejak saat itu saya berhenti mengarang. Saya berhenti menulis. Setidak-tidaknya selama SMP dan SMA saya menghindari pelajaran bahasa Indonesia. Setiap dia mengajar saya bikin onar, saya dihukum digosok dengan penghapus papan tulis atau kemoceng tanpa terhitung, saya dicubit hingga biru hitam sampai kebal. Orang tua saya tidak pernah tahu, saya hadapi itu sendirian dengan penuh kebencian. Saya melakukan itu semua sebagai bentuk protes atas pelakuannya yang tidak adil. SMA saya tidak pernah masuk jika ada pelajaran bahasa Indonesia, saya lompat jendela dan pulang atau baca novel di warung tengah sawah di belakang sekolah. Berada di luar ketika pelajaran bahasa Indonesia berlangsung memberikan kepuasan yang tak ternilai, seolah-olah saya berhasil membalas dendam atas penghinaan guru itu.
Pada dasarnya saya adalah pelamun. Lulus SMA saya mulai lagi menulis, tidak banyak, pendek-pendek, hampir setiap hari atau pada saat-saat tertentu sebagai bentuk ekspresi diri terhadap berbagai peristiwa yang saya alami. Beruntung saya melakukan itu karena sekarang pun saya masih bisa membacanya, saya simpan dalam buku-buku entah ada berapa buah sambil berusaha menghapus pengalaman menyakitkan itu. Sayangnya pada suatu hari saya ditugaskan mengajar di sekolah tertentu dan wajah dia kembali muncul sebagai kepala sekolah. Dasar nasib! Eh, ternyata dia juga satu paroki dan bersama-sama menjadi anggota dewan paroki. Kesialan yang berulang kali. Untungnya kemudian saya merantau dan saya dengar kemudian beliau menghadap yang kuasa. Entah mengapa pengalaman itu muncul lagi hari ini. Masih ada sisa kejengkelan dan kebencian. Tidak mudah menghapus sesuatu yang menyakitkan hati apalagi pada saat itu saya sedang berjuang menemukan diri sendiri, mencari jati diri. Sangat disayangkan mengalami peristiwa itu tapi banyak pelajaran yang bisa saya peroleh.
Foto credit: fgnormal.com
Guru model begitu kalau lihat muridnya sukses merasa tersaingi ya pak Joe, saya yakin tulisan bapak terlalu bagus sampai dikira karya orang lain. hahaha..
Nah seperti tulisan pak Joe sebelumnya, kalau belum selesai akan terus dipertemukan. Ah jadi ingat pengalaman guru matematika dulu
Wah bener kata mbak Sanya.. mungkin saya harus sungguh-sungguh memaafkan, jadi kenangan ini tidak akan kembali lagi hahaha... Beginilah ceritanya orang yang bawel tapi tidak mepraktikan hahahaha
Dan hari ini Joe yang benci pelajaran Bahasa Indonesia itu telah menuliskan lebih dari 1200 narasi di ruang ini... Mudah-mudahan bukan karena rasa dendam ya. ππΌπ€
Hahahahahaha... mungkin lebih tepat menulis merupakan proses penyembuhan luka-luka lama hhahahaha